Tampilkan postingan dengan label Sepotong Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepotong Kata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2013

Sepotong Kata : KASIH SAYANG

"Sesungguhnya Rasulullah meninggalkan suatu amalan yang beliau sukai untuk beliau lakukan sendiri karena khawatir akan dilakukan oleh orang-orang sehingga diwajibkan kepada mereka". (kata Ummul Mukminin Aisyah dari HR Bukhari dan Muslim).

Beliau sering mengucapkan kalimat; "Seandainya aku tidak memberatkan umatku."

Kita juga telah melihat bagaimana beliau tidak berangkat di setiap pertempuran agar orang-orang tidak merasa tersiksa untuk ikut berperang setiap kali beliau maju ke medan perang.

Senin, 09 September 2013

Sepotong Kata : SEGENGGAM GANDUM UNTUK SURIAH


Laporan tim 6 HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) di Suriah terasa menyesakkan dada. Betapa tidak, dalam kunjungannya ke masyarakat di sekitar rumah sakit lapangan, mereka masih mendapatkan banyaknya keluarga yang hanya bisa makan satu kali dalam sehari. Dalam situasi perang, perdagangan dan pertanian terganggu yang menyebabkan roda ekonomi masyarakat berhenti. Mereka bertawakal hanya kepada Allah. Tidak meminta-minta. Dan menunggu datangnya bantuan dari sesama muslim

Sepotong Kata : WAHAI LAKI-LAKI, INILAH PERANG

Sejarah tidak pernah sunyi dari mesiu. Setiap tahun selalu muncul wilayah yang bergolak. Bukan dengan anak panah dan pedang, melainkan dengan bom dan senapan. Man made disaster, demikian istilah yang sering dipakai dalam penanggulangan bencana. Beda kepentingan, beda tujuan, namun sama cara menyelesaikan. Dengan kekerasan. Dengan senjata. Dengan nyawa. Jiwa manusia sejatinya benci dengan perang. Jika bukan perintah Tuhan, untuk apa berperang?

Menurut Islam, tidak ada alasan untuk berpecah dan berselisih di antara orang beriman. Sebab, hanya ada satu kepercayaan untuk seluruh  umat manusia dan ia menyeru  kepada penyerahan sepenuhnya terhadap Allah Ta'ala, baik dalam soal duniawi maupun ruhani.

Dalam Islam perdamaian itu aturan, sedang perang adalah kekecualian. Damai muncul  sebagai pendahulu prinsip kerukunan. Damai berarti kerukunan sejagat, undang-undang kehidupan serta asal manusia. Sedangkan perang muncul karena pelanggaran kerukunan tersebut, seperti ketidakadilan, kesewang-wenangan, korupsi dan kecurangan.

Islam menyingkirkan segala  sebab yang biasanya membangkitkan perang dan menghapuskan setiap perang yang bertujuan mencari keuntungan atau penindasan. Pertama, Islam mengutuk perang yang disebabkan oleh perbedaan ras, atau warna kulit, karena ini bertentangan dengan prinsip kesatuan manusia. Kedua, Islam mengutuk perang yang ditimbulkan oleh nafsu penguasaan dan pemerasan tenaga manusia. Islam tidak membolehkan perang yang dimaksudkan untuk merebut pasaran , mencari keuntungan harta benda, dan penguasaan sumber-sumber alam. Ketiga, Islam melarang adu kemegahan yang bertujuan membesarkan kesombongan dan keangkuhan penguasa-penguasa.

Kalau begitu, mana firman Allah yang membolehkan perang menurut Islam?
"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata." 
(QS. Al Anfal 39).

Allah menetapkan bahwa seluruh agama itu hanya ditujukan kepada-Nya saja. Ini hanya dapat dilaksanakan dengan satu cara yaitu dengan menyembah, mengabdi dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Hukum Allah harus mengatasi segala undang-undang dan sistem duniawi atau kepercayaan lainnya. Siapa saja yang mengambil hak membuat hukum atas namanya sendiri, berarti dia mengambil sebagian kekuasaan Allah dalam mengatur tata tertib jagat raya ini. Secara langsung atau tidak, orang itu sudah mengambil sebagian sifat Allah. Dengan kata lain da mengambil hak mengatur itu sebagai Tuhan pula di dunia ini.

Untuk memajukan ke-Esa-an Tuhan di dunia serta mengakhiri kekuasaan orang-orang yang dengan kata dan perbuatannya menentang ke Maha Kuasaan Allah, Islam mengizinkan orang Muslim berperang. Dan perang semacam itu sajalah yang dibolehkan Islam.

Pesan Islam ditujukan kepada seluruh umat manusia, dan tidak boleh ada halangan bagi penyampaian pesannya ini. Andaikata ada orang dengan kekerasan mencegah orang lain mengkuti ajaran Islam, mereka sudah melanggar kalimat Allah,  oleh karena itu mesti dihentikan.

Inilah yang terjadi di bumi Suriah. Bumi Syam yang diberkahi. Masyarakat muslim yang mengalami kezaliman sekian puluh tahun oleh penguasa jahat. Mereka dihalangi untuk menunaikan ajaran-ajaran Islam. Mengalami penindasan, pembantaian, dan tindakan keji lainnya.

Islam sangat mencela ketidakadilan dan kesewang-wenangan. Islam tidak  saja mendesak orang Muslim menyingkirkan kejahatan  dari masyarakat, tapi juga mengharuskan mereka menolong  siapa saja, yang karena lemahnya, tidak mampu membela diri terhadap penindasan pihak lain.

"Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, dianiaya dan ditindas, pria, wanita dan anak-anak yang berdoa kepada Tuhan; Ya Tuhan kami, selamatkanlah kami dari penindas-penindas negeri ini, dan datangkanlah pelindung dan penolong dari Engkau sendiri, ya Allah." (An Nisa' : 75).

Per Februari 2013, korban meninggal karena kejahatan penguasa di Suriah mencapai 54.390 jiwa. Jumlah pengungsi yang melintas perbatasan mencapai 830 ribu orang. Sementara jumlah pengungsi di dalam negeri mencapai jutaan orang.

Setiap hari diperkirakan, jumlah korban meninggal sekitar 100 jiwa. Dan penggunaan persenjataan berat telah merajalela. Terakhir penggunaan bom curah untk menghabisi rakyat sipil.

Ketika perang melanda kota, puing-puing bangunan berserakan. Sistem pelayanan kota berhenti. Stok barang kebutuhan sehari-hari menipis. Harga kebutuhan pokok melonjak. Pendidikan berhenti. Keamanan menjadi barang yang mahal bahkan sulit didapat.

Sebagai agama terakhir, Islam pelindung manusia, dan sebagai pelindung ia tidak memperoleh kekuasaannya dengan paksaan, tetapi     justru karena harga diri dan cara terhormat. Kalau tidak ada kekuatan yang dapat membela dan memelihara ketertiban dan keadilan, biasanya orang mau berontak dan menentang. Karena kelemahan manusia, Islam membolehkan pembinaan dengan aturan tegas, tapi kekerasan terhadap orang lemah tidak disukai sama sekali.

Kekuatan adalah alat yang penting bagi setiap pemimpin yang berkewajiban memelihara ketertiban dan hukum, yang menyebabkan orang-orang tidak berani melanggar aturan dan ini akan menjamin menangnya kalimat Allah.

Jika kebebasan seperti itu terlaksana sehingga rakyat bisa mengikuti perintah Allah dan tidak disesatkan dari agama Allah, kalau tidak ada kekuasaan yang menuhankan manusia di dunia ini, kalau keadilan dijalankan   dan tiada manusia yang diperbudak oleh orang lain, dan kalau orang-orang yang lemah merasa aman berhadapan dengan yang kuat. Maka tidak ada lagi alasan bagi penggunaan kekuatan, karena perdamaian telah tercipta.

Bila agresi, korupsi, kesewang-wenangan dan penyanggahan keagungan Tuhan masih berlangsung, maka menurut ukuran Islam perang tidak bisa dielakkan. (suna)

 Majalah Hilal Ahmar |  Edisi 65/IX/April/2013 | Sepotong Kata

Minggu, 08 September 2013

Sepotong Kata : RELAWAN MEDIS WANITA SAHABAT NABI

Hari ini kita sering mendengar kata kesetaraan gender. Sebuah frase yang dianggap menyudutkan Islam. seolah-olah Islam adalah keyakinan yang mendiskriminasikan gender. Padahal dari riwayat banyak kita mendengar kisah-kisah kehebatan wanita yang menjadi sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wassalam. Yang menjadi masalah apakah ada kesalahan interpretasi kaum muslimin sekarang atas peran serta kaum muslimah, sehingga terjadi kesan ada diskriminasi terhadap kaum wanita. Untuk itu marilah kita mencoba menelusuri jejak wanita hebat di jaman Nabi.

Senin, 26 Agustus 2013

Sepotong Kata | TENTANG KITA


Sebenarnya jika diurut sejak edisi pertama majalah  kesehatan Hilal Ahmar, maka kami telah menjelaskan tentang Hilal Ahmar Solo. Namun, karena perkembangan dan pertumbuhan Hilal Ahmar Solo, maka banyak hal yang perlu kami ulang , supaya tidak ada kebingungan para pembaca dan masyarakat.

Bermula dari sebuah kegalauan akan sistem kesehatan yang dipraktikkan di Indonesia. Menurut pandangan kami, sistem kesehatan ini tidak berpihak kepada pasien. Sebagai sebuah pelayanan publik (masyarakat), maka sudah seharusnya dibangun sebuah sistem yang murah, mudah, dan terjangkau semua kalangan masyarakat. Inti dari pelayanan kesehatan di Indonesia yang kami risaukan, adalah pembayaran tunai (cash payment). Ini kami gelisahkan pada akhir tahun 2000.

Setelah melakukan serangkaian diskusi dengan para teman sejawat, maka kami sepakat untuk mencoba mendirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus kepada kesehatan. Karena sistem kesehatan ini regulasinya dimonopoli negara, maka tidak mungkin kami melakukan perubahan peraturan sistem kesehatan nasional. Upaya yang kami tempuh adalah mencoba masuk kedalam penyediaan sebuah sistem pelayanan yang bisa dilakukan oleh pihak masyarakat dengan bentuk bukan pembayaran tunai.

Kami negosiasi dengan lembaga amil zakat untuk pendanaan. Berembug dengan teman sejawat untuk kesediaannya melayani masyarakat. Silaturahmi ke alim ulama untuk mendapat argumentasi yang kuat dari sisi ajaran Islam. Serta berkunjung kepada orang yang Allah telah menitipkan harta kepadanya. Dari gabungan  unsur ini maka kami mencoba melangkah melakukan pelayanan kesehatan secara Cuma-Cuma kepada masyarakat.

Inilah awal kiprah Hilal Ahmar Solo. Kami sengaja memberi nama ini, karena tidak ada larangan dari Kementrian  Hukum dan Ham RI, ketika nama ini kami ajukan dalam akte notaris dan disahkan oleh Kementrian Hukum dan Ham RI. Istilah Hilal Ahmar  dari kata hilal yang berarti bulan sabit dan ahmar yang berarti merah . Namun kami tidak mau berpolemik tentang arti nama itu, sehingga kami tidak menerjemahkan istilah tersebut. Solo berarti nama tidak resmi sebuah kota bernama Surakarta, atau nama sebuah kawasan di wilayah Surakarta dan sekitarnya, seperti aliran Bengawan Solo, dari Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Surakarta, Karanganyar, dan Sragen. Solo juga bisa bermakna satu.

Dari gagasan yang menginginkan terbentuknya sebuah sistem pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat dan sesuai dengan contoh yang dilakukan ketika Islam berjaya, maka kami terus menerus melakukan kampanye gagasan ini kepada semua kalangan. Tidak mudah. Berbagi ide ini kepada banyak orang. Kesehatan masih dianggap sebagai perdagangan. Yang cara menghitungnya sangat sederhana, untung dan rugi. Dari paradigma ini maka sudah bisa dibayangkan bagaimana sistem kesehatan nasional dibangun.

Banyak dari pihak alim dan orang kaya, juga terkejut ketika kami paparkan bagaimana di jaman khalifah Islam dulu sebuah sistem kesehatan dibangun. Yang banyak dibaca dari jaman Kekhalifahan Islam adalah perluasan wilayah, pertikaian politiknya, keunggulan armada perangnya, dan perbedaan mazhab. Sehingga umat Islam hanya melihat pergantian dinasti, tokoh-tokoh perang (mujahidin), alat persenjataan, dan perdebatan ahli fikih. Sedangkan kemajuan di bidang  kesehatan tidak pernah disebarkan. Padahal salah satu unsur pelayanan publik inilah yang menjadikan negara Khalifah Islam sejahtera.

Sistem kesehatan Islam yang dibangun ketika Islam berjaya meletakkan pelayanan kesehatan sebagai hak dan kewajiban sektor publik. Dari segi pendanaan dikeluarkan dari baitul mal (Kas Perbendaharaan Negara) saat itu. Berasal dari berbagai sumber yang halal seperti zakat, rampasan perang, waqf, infaq, dan lain-lain.  Sedangkan penyedia pelayanan kesehatan berupa rumah sakit akan memberikan pelayanan secara bebas biaya bagi seluruh warga negara tanpa kecuali, karena seluruh pembiayaan sudah ditanggung oleh baitul mal.

Saat itu siklus pelayanan kesehatan bermula dari pendidikan dokter yang diselenggarakan di rumah sakit yang seluruh pendanaan ditanggung baitul mal. Kemudian diadakan pengujian atau sertifikasi bagi dokter untuk berpraktik. Setelah itu para dokter bekerja di rumah sakit yang bebas biaya dengan gaji yang cukup. Para guru besar kedokteran melakukan berbagai penelitian dan menerbitkan banyak buku yang terkait dengan kemajuan di bidang kedokteran. Serta penemuan berbagai alat dan obat yang mampu mengatasi penyakit pada saat itu. Ada dewan hisbah yang mengawasi kompetensi para dokter. Dan penyebaran pelayanan kesehatan ke seluruh wilayah dan sektor.

Sekarang, siklus itu berubah karena paradigma kesehatan sebagai komoditas perdagangan. Pendidikan dokter menelan biaya yang paling mahal dibanding kuliah jurusan lain. Rumah sakit memberi tarif sesuai dengan kehendak pemilik modal baik untuk jasa, obat dan kamar yang semuanya itu membebani pasien. Kemudian  penelitian dan penemuan terbaru di bidang kedokteran hampir seluruhnya diimpor dari Barat, sehingga harganya mahal.

Paradigma yang kami usung adalah, "Kesehatan bukan merupakan komoditas yang diperdagangkan, melainkan sebuah hak dan kewajiban sektor publik." Ini pilihan jalan hidup Hilal Ahmar Solo. Melayani tanpa memilih, mengobati tanpa imbalan.

Untuk mewujudkannya kami mencoba membagi menjadi beberapa unit kegiatan. Unit bhakti sosial/klinik berjalan pengobatan gratis. Unit majalah kesehatan Islam Hilal Ahmar. Unit penerbitan buku bernama Hilal Ahmar Press. Dan Unit penanggulangan bencana bernama HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia).
Unit bhakti sosial/klinik berjalan pengobatan gratis menyelenggarakan kegiatan berupa pelayanan pengobatan secara bebas biaya baik di kantor maupun di tempat lain seperti masjid, sekolah-sekolah, balai kampung, pondok pesantren, dan lain-lain. Untuk kelancaran pelayanan ini dibantu dengan tersedianya ambulance Hilal Ahmar. Kami melakukan kegiatan ini setiap hari, dengan tenaga medis yang berganti-ganti. 

Wilayah utama cakupan kegiatan meliputi Solo Raya (Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, Klaten, Boyolali, Karanganyar, dan Sragen) sedangkan wilayah tambahan yang lebih jauh sesuai dengan yang membutuhkan. Dari kegiatan ini sudah ratusan ribu pasien kita layani. Selain itu setiap tahun kami juga melakukan kegiatan khitanan masal di berbagai tempat. Sudah ribuan anak telah kami khitan. Unit inilah yang kedepan akan mencoba merencanakan pembangunan Klinik Rawat Inap Pratama Hilal Ahmar di wilayah Sukoharjo (Jawa Tengah).

Unit majalah kesehatan Islam Hilal Ahmar melakukan kegiatan berupa penerbitan majalah yang berisi tentang kesehatan berfungsi sebagai penyuluhan dan edukasi bagi pembaca dan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali. Sampai tulisan ini dimuat telah terbit sebanyak 63 edisi. Majalah ini didistribusikan dalam bentuk penyebaran secara komunitas, bukan komersial.

Unit penerbitan buku bernama Hilal Ahmar Press, berfungsi untuk menerbitkan sebuah buku yang menjelaskan pandangan kita tentang kesehatan. Buku perdana yang kami terbitkan berjudul "Revolusi Ilmuwan Muslim bagi Dunia Kedokteran".

Unit penanggulangan bencana bernama HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia). Kami melakukan kegiatan penanggulangan bencana baik bersifat lokal, nasional maupun internasional. Sedangkan jenis bencana mencakup bencana alam (natural disaster) dan bencana karena buatan manusia (man made disaster). Untuk kegiatan penanggulangan bencana alam  kami telah melaksanakan kegiatan pada tahun 2006 pada waktu terjadi bencana gempa di Yogyakarta dan Klaten (Jawa Tengah). Pada tahun 2008 ketika terjadi bencana banjir Bengawan Solo di wilayah Surakarta dan sekitarnya. Pada tahun 2009 ketika terjadi bencana gempa di Tasikmalaya dan sekitarnya. Dan juga gempa di Sumatera Barat (2009). Serta bencana meletusnya gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY (2010). Kemudian bencana yang bersifat karena buatan manusia (man made disaster) kami mengirim tim ke Gaza, Palestina (2010) setelah terjadi serangan dari pihak Israel kepada penduduk Gaza. Kemudian melakukan pengiriman tim untuk assesmen pembangunan Bank Darah Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina (2010/2011). Pengiriman tim untuk kampanye damai Global March to Jerusalem (GMJ) pada tahun 2012 di Yordania. Dan pengiriman tim relawan kemanusiaan untuk membantu kaum muslim Suriah korban  konflik bersenjata antara penduduk muslim Suriah dengan penguasa dzalim Bashar Assad (2012/2013).

Karena unit ini bersifat kerja nasional dan internasional, maka kami membuka perwakilan unit ini (HASI) di Jakarta. Guna memudahkan unit ini bekerja efektif dan optimal. Perwakilan Jakarta di dikoordinasikan oleh pengurus kami yang telah berpengalaman terjun ke wilayah bencana bersifat nasional dan internasional. Karena salah satu tugasnya membangun hubungan dengan NGO/LSM lain yang bersifat nasional dan internasional.

Karena tujuan dan kepentingan bersama, maka kami terbuka terjadinya networking dengan teman sejawat kami di wilayah lain untuk membuka Lembaga Swadaya sejenis yang bernama Hilal Ahmar, baik di Jakarta, Lampung, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Ikatan kerja bersifat networking. Kami memiliki tujuan bersama untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan secara bebas biaya bagi masyarakat. Sementara untuk penanggulangan bencana, semua relawan di masing-masing LSM/NGO bisa bersama-sama bekerja dalam koordinasi HASI.

Demikian sekilas perjalanan Hilal Ahmar Solo dan unit kerjanya. Semoga bermanfaat. (dr. Sunardi)

Majalah Hilal Ahmar | 63/IX/FEB2013 | Sepotong Kata

Minggu, 24 Maret 2013

Sepotong Kata : KESENJANGAN

KESENJANGAN

Orang yang mencermati dunia kita sekarang, pasti  melihat banyak orang yang menyuruh orang lain berdiri di belakangnya sembari memegang kerah bajunya seraya berkata, “Diriku, diriku! Kemenangan milikku, bukan milik orang lain!” Demam kompetisi serta perlombaan terjadi dalam segala lini dan disetiap level masyarakat guna mendapatkan materi. Diantara mereka, siapakah yang paling banyak mengumpulkan materi?

Demi mewujudkan hal itu, timbullah kezaliman, kebohongan, penipuan, kedengkian, dan permusuhan. Harta benda dirampas dan hak-hak manusia dinodai demi kenikmatan yang akan sirna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengharamkan  usaha untuk mencari rezki, namun Dia justru  menganjurkannya. Akan tetapi, Allah menyeru semua itu dengan, “Berjalanlah”  dan “Carilah”.
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
(Al-Jumu’ah : 10).

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kami, maka berjalanlah  di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu kembali setelah dibangkitkan.”  (Al-Mulk : 15).
Dia tidak berfirman “Bekerja keraslah” atau “Berlomba-lombalah”.

Akan tetapi, ketika Dia memberi isyarat kepada urusan akhirat dan usaha untuk mencari surga. Dia menyeru kepadanya dengan, “Bergegaslah” dan “Berlomba-lombalah”

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
(Ali Imran 133).
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menunjukkan kepada kita arena yang paling bagus untuk berkompetisi secara sehat dan tujuan yang tidak menimbulkan penganiayaan, dosa, permusuhan, dan kebencian.

“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada di dalam kenikmatan yang besar (surga), mererka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum khamr murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi, dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al Muthaffifin : 22-26).

Demi Allah, ini adalah arena kompetisi yang benar. Diantara anugerah Allah  ialah Dia telah memudahkan kompetisi ini bagi orang yang menginginkannya pada masa sekarang. Para salafussholeh berkompetisi dan bergegas untuk mendapatkan surga dengan melakukan  berbagai ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah. Orang yang ingin mengikuti jejak mereka harus menyisingkan lengan baju dan segera berangkat. Kalau tidak, ia akan tertinggal dari rombongan mereka. Namun sekarang, orang-orang berjalan perlahan-lahan untuk mendapatkannya. Jika mau berjalan sedikit lebih cepat dari mereka, anda akan mendahului sendirian di depan.

Sementara itu, persaingan dalam urusan dunia merupakan sesuatu yang tak dianjurkan. Rezeki manusia di dunia telah ditentukan sebelum ia dilahirkan. Walaupun ia berusaha beekrja keras di dunia seperti binatang buas yang kesana kemari supaya memperoleh tambahan, niscaya ia tak akan mendapatkan kecuali yang telah ia tetapkan. Ia tidak akan menuai hasil kerja kerasnya melainkan kelelahan dan kepayahan.

Sungguh, kita bekerja keras mencari apa yang dijamin bagi kita, yakni rezeki, dan meninggalkan apa yang tidak dijamin bagi kita yang seolah-olah kita tidak  pernah membutuhkannya, yakni surga.

Ini menunjukkan kekurangan keimanan kita. Sebab, seorang hamba merasa yakin bahwa pekerjaannya ialah sumber rezekinya, sehingga ia tidak  akan mengembalikannya kepada Allah, meskipun ia mempercayainya dengan ucapan dan bukan dengan perbuatannya.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah; “Kamu belum beriman, tapi katakanlah, “kami telah tunduk”, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…” (Al Hujurat 14).
Seperti itulah iman umumnya kaum muslimin. Mereka adalah orang-orang beriman, tetapi masuknya hakikat keimanan ke dalam qalbu berlangsung sedikit demi sedikit, jika Allah memberikannya kepada mereka. Kalau tidak, sebagaimana yang dijelaskan Syaikhul Islam dalam Al Iman,  iman mereka tidak sampai pada keyakinan. Apabila mereka dibuat ragu dalam permasalahan-permasalahan Islam, mereka akan menjadi ragu. Apabila mereka diperintah berjihad, mereka tidak akan berjihad. Mereka bukan orang-orang kafir dan munafik. Akan tetapi, mereka ialah orang yang tidak memiliki pengetahuan qalbu dan kepercayaan terhadap-Nya yang bisa menghilangkan keraguan.

Selain itu, mereka juga tidak mempunyai kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya seperti yang mereka curahkan kepada keluarga dan harta benda. seandainya Allah tidak menguji dengan dengan perkara-perkara yang bisa membersihkan qalbu mereka yang menunjukkan kesabaran dan keteguhan, lalu mereka meninggal, niscaya mereka akan masuk surga. Namun, apabila mereka diuji, kemudian muncul keraguan pada diri mereka dan mereka mati dalam keadaan ragu dan beralih kepada jenis kemunafikan. Hanya Allah tempat memohon perlindungan.

Singkat kata, ketika seorang hamba yakin kepada sebab-sebab dan keyakinan kepada manfaat sebab-sebab tadi cukup kuat, Allah akan membuatnya pasrah kepada-Nya sesuai dengan kuatnya keyakinan terhadapnya.

(Sumber : Rumus Masuk Surga, dr. Abdullah Bahjat, Iman Kurdi, Aqwam, Solo, 2007).

Kamis, 22 November 2012

Sepotong Kata : BERJALAN KAKI MENUJU SHALAT BERJAMAAH



BERJALAN KAKI MENUJU SHALAT BERJAMAAH

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malam ini, (dalam mimpiku) Rabbku mendatangiku dalam bentuk yang paling baik. Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, tahukah kamu dalam hal apakah para malaikat berdebat?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Lalu dia meletakkan tangan-Nya di antara kedua pundakku hingga aku merasakan dinginnya di dadaku. Maka aku mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dia berfirman , ‘Wahai Muhammad, tahukah kamu dalam hal apakah para malaikat berdebat?’ Aku menjawab, ‘Ya, dalam hal kaffarat (penghapus-penghapus dosa) dan (pengangkat) derajat.

Selasa, 20 November 2012

Sepotong Kata : KASIH SAYANG RASULULLAH KEPADA KAUM FAKIR

KASIH SAYANG RASULULLAH KEPADA KAUM FAKIR


“Tiadalah Muhammad dituju oleh seorang fakir atau yang memerlukan, kecuali ia mendapatkan apa yang diinginkannya pada Muhammad.”

Rasulullah lebih khawatir kepada kekayaan yang menimpa umatnya daripada kemiskinan, sampai-sampai beliau bersabda :

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan akan menimpamu, namun yang aku takuti ketika dunia dihamparkan kepadamu.” (HR. Bukhari Muslim).

Senin, 19 November 2012

Sepotong Kata : SETIAP BANGUNAN AKAN MENJADI BENCANA BAGI PEMILIKNYA


SETIAP BANGUNAN AKAN MENJADI BENCANA BAGI PEMILIKNYA


Sumber : Muhammad Ali Utsman Mujahid, Jangan Bikin Rasul Marah, Aqwam, Solo, 2008 

Anas bin Malik meriwayatkan, “Rasulullah saw keluar dan melihat sebuah kubah yang tinggi. Kemudian belau bertanya,”Apa ini?” Para sahabat pun menjawab,”Ini milik si Fulan-lelaki dari Anshar.” Anas melanjutkan,”Beliau pun diam dan menahan sesuatu yang ada pada dirinya, hingga datang pemiliknya. Ia pun mengucapkan salam kepada Rasulullah, tapi beliau berpaling darinya. Ia melakukannya berkali- kali hingga lelaki tersebut tahu bahwa beliau sedang marah. Ia lalu mengadukan hal ini kepada para sahabat Nabi. Ia berkata,”Sesungguhnya aku melihat hal yang aneh pada Rasulullah.” Mereka lalu berkata,”Beliau telah keluar dan melihat kubahmu.” 

Jumat, 01 Juni 2012

Kubakar Rumah-rumah mereka!


Sepotong Kata | Edisi 57/viii/mei/2012

 

Kubakar Rumah-rumah mereka!

Abu Hurairah r.a berkata, “Rasulullah saw masuk ke masjid untuk melakukan shalat Isya’ yang terakhir. Tiba-tiba orang-orang banyak sekali bercerai (tidak berjamaah). Seketika itu Nabi sangat marah, yang dahsyatnya belum pernah kulihat sebelumnya. Beliau bersabda:

“Jikalau ada seorang lelaki memanggil orang-orang itu untuk (makan) tulang atau dua kuku kambing maka mereka akan mendatanginya, tetapi (ketika mendengar panggilan azan) mereka justru meninggalkan shalat (jamaah). Sungguh aku telah berniat untuk memerintahkan seorang lelaki agar mengimamai shalat orang-orang lalu aku ikuti orang-orang yang meninggalkan shalat ini hingga kubakar rumah mereka dengan api.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad)

Jumat, 06 April 2012

03-Sepotong Kata-KAIDAH UNTUK MENJAGA KELANGSUNGAN MASYARAKAT ISLAM

KAIDAH UNTUK MENJAGA KELANGSUNGAN MASYARAKAT ISLAM
Sepotong Kata | Edisi : 55/VII/Maret/2012
penulis : Redaksi

Wahai kalian yang telah ridha Allah sebagai Rabb kalian, Islam sebagai Dien kalian, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kalian, ketahuilah bahwasanya Allah telah menurunkan dalam al Qur’anul Karim :

Minggu, 11 Maret 2012

CIRI MASYARAKAT BERAQIDAH ISLAMIYAH

Sepotong Kata | Majalah Hilal Ahmar  Edisi 54/VIII/Februari/2012

 

CIRI MASYARAKAT BERAQIDAH ISLAMIYAH


Aqidah Islamiyah telah berhasil membina manusia-manusia teladan yang dikira sebagian kelompok sebagai cerita biasa atau dongengan saja, namun sebenarnya kenyataan yang dapat dibuktikan lebih besar dari apa yang dibayangkan orang. Kehidupan mereka seluruhnya dicurahkan untuk membela dan memperjuangkan al Haq meski sebesar apapun pengorbanan yang harus diberikan.

Sekarang ini kita bisa melihat kenyataan sampai dimana perjalanan umat manusia di samudera bumi ini setelah bahteranya terlepas dari ikatan aqidah Islamiyah. Mereka mengarungi samudera tanpa pedoman. Mereka yakin akhlak dan Dien dapat dikembangkan dan ditafsirkan menurut keinginan manusia. Oleh karena itulah akibat buruk yang menimpa manusia dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Ketidakadilan dan kepincangan. 2. Penindasan, kezaliman, dan ketakutan. 3. Kerusakan dan kehancuran jiwa serta moral. 4. Timbulnya berbagai penyakit.

Umat Islam sepakat untuk memiliki tujuan mencari ridha Allah semata. Kemudian mereka berjuang untuk tegaknya masyarakat yang berdasarkan tatanan Islam, beraqidah Islamiyah.
Ada beberapa ciri khas masyarakat yang beraqidah Islamiyah:

Rabu, 07 Maret 2012

Sepotong Kata


MERUBAH MIMPI MENJADI KENYATAAN

Pagi itu, masjid Agung Solo dipenuhi anak-anak muda yang  memiliki semangat untuk mendengarkan diskusi bedah buku yang bertajuk “Jalan Jihad Sang Dokter” tulisan Joserizal Jurnalis , seorang dokter spesialis bedah tulang, pendiri Mer-C. Pembicara di acara tersebuat yang pertama penulisnya sendiri dr. Joserizal Jurnalis dan kedua adalah saya sendiri. Selain bedah buku, acara tersebut juga mengagendakan penggalangan dana untuk pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza Palestina.

Sebuah kisah nyata berdasarkan penuturan sang dokter kepada seorang wartawan sebuah media yang dikemas dalam sebuah buku. Bertutur tentang perjalanan sang dokter dalam       menerjuni kancah bantuan medis bersifat yang darurat. Buku ini lebih focus bercerita tentang Gaza.

Senin, 15 Agustus 2011

KEDAMAIAN HATI NURANI


KEDAMAIAN HATI NURANI

Menurut Islam, tidak akan ada kedamaian dunia, kecuali kalau setiap orang berdamai dengan dirinya. Oleh sebab itu untuk mendirikan dasar kedamaian internasional yang kuat, orang harus lebih dulu menanamkan kedamaian dalam hati kecilnya, dalam hati nurani setiap pribadi.

Dalam Islam, setiap pribadi mempunyai peran penting sekali, sebab dia dipandang sebagai kekuatan inti masyarakat.  Pribadi itu ialah perwujudan keyakinannya, yang disenyawakan ke dalam hati nuraninya dan ini tercermin dalam tindak tanduknya.

Islam menanamkan dalam hati nurani kedamaian positif, artinya kedamaian yang meninggikan dan memperkaya hidupnya, bukan kedamaian negatif, kedamaian yang mau mengorbankan prinsip dan cita-citanya untuk keselamatan dan keamanan dirinya. Damai positif ini seimbang dan dan tetap mengalir karena ia bisa memberikan tenaga membangun dan daya pada orangnya. Damai tidak akan lahir dari kejahilan dan kejumudan. Damai positif mengakui adanya naluri seseorang, dorongan dan keinginannya, maupun adanya kepentingan dan keperluan sosial, akhlak dan cita-citanya, yang semuanya berjalan seimbang.

DAMAI ITU ATURAN SEDANG PERANG ADALAH KEKECUALIAN


DAMAI ITU ATURAN SEDANG PERANG ADALAH KEKECUALIAN

Menurut Islam, tidak ada alasan untuk berpecah ataupun berselisih di antara orang beriman. Sebab hanya ada satu kepercayaan untuk seluruh umat manusia dan ia menyeru kepada penyerahan sepenuhnya terhadap Allah Pencipta, baik dalam soal-soal duniawi maupun masalah rohani. Islam selanjutnya melukiskan sifat kesatuan segala makhluk ini ketika menjelaskan bahwa pikiran dasar ini sesuai dengan fitrah manusia, yaitu kehendak-kehendak, ruh, dan perasaaannya. Ini menunjukkan bahwa teori ini melingkupi setiap segi kehidupan manusia.

Dalam Islam, perdamaian itu aturan, sedang perang adalah kekecualian. Damai muncul sebagai pendahulu prinsip kerukunan. Damai berarti kerukunan sejagat, undang-undang kehidupan serta asal manusia, sedangkan perang muncul karena pelanggaran kerukunan tersebut, seperti ketidakadilan, kesewenang-wenangan, korupsi dan kecurangan. Perang dibolehkan untuk melawan ateisme, yang merupakan ketidakadilan yang paling rendah. Bahaya macam ini mesti dicegah dengan langkah-langkah yang tepat supaya kedamaian dapat dipertahankan.

IMAN DAN KEHIDUPAN


IMAN DAN KEHIDUPAN


Hidup manusia alangkah singkat. Dibandingkan dengan jagad raya tempat tinggal kita, kita hanya sebuah noktah, sedangkan jangka hidup kita bagaikan serpih yang tidak berarti dalam keabadian.

Namun manusia memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan sumber kekuatan yang abadi itu, guna memahami alam semesta dan menyelaraskan diri dengannya. Dia sanggup memihak pada kekuatan luar biasa itu dan dengan jalan itu memperoleh kemampuan untuk mengawali kejadian-kejadian yang akan mempengaruhi kehidupannya. Dia dapat belajar dari pengalaman masa lalu, mengatur keadaan sekarang dan merencanakan masa depannya. Nah, selama dia terus  menghubungkan dirinya dengan sumber kekuatan tadi, dia dapat menambah atau meningkatkan kemampuannya.

Rabu, 11 Mei 2011

PELAYANAN TERBAIK - SEPOTONG KATA - Edisi 42/VII/Januari 2011

SEPOTONG KATA

PELAYANAN TERBAIK

“Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari sekian kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari sekian kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang  menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selagi hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dengannya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca kitab Allah dan mengkajinya diantara mereka, melainkan akan turun ketenangan kepada mereka. Mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat, dan Allah memuji mereka dihadapan makhluk yang didekat-Nya (malaikat), sedangkan barangsiapa yang amalan salehnya berkurang, maka nasabnya tidak akan mempercepat dirinya (meraih derajat kebaikan).” (HR. Muslim).

Senin, 25 April 2011

WASIAT-WASIAT RASULULLAH SAW



Majalah Hilal Ahmar EDISI 41/VI/ DESEMBER 2010
SEPOTONG KATA

WASIAT-WASIAT 
RASULULLAH SAW
Dien Islam yang lurus ini unggul dengan ciri khas istimewa yang telah Allah satukan di dalamnya berupa kekuatan aqidah serta kekokohan iman dan syariat dalam seluruh aspek kehidupan.
Islam juga unggul dengan aspek taujih (pengarahan) dan khususnya lagi masalah wasiat karena Islam sangat memahami urgensi wasiat serta pengaruhnya dalam pendidikan dan tingkah laku. Sebab itu, wasiat Rasulullah saw itu pun datang secara sempurna serta meliputi segenap aspek kehidupan, baik ibadah, muamalah maupun akhlak.
Seorang muslim hendaknya berpegang teguh dengan wasiat Rasulullah saw, beramal dengannya, serta menjadikannya sebagai penerang. Karena, wasiat tersebut merupakan arahan dari pemimpinnya para Rasul sekaligus kekasih Rabb semesta alam yang tidak mengucapkan sesuatu menurut hawa nafsunya.
Wasiat adalah perjanjian yang dibebankan atas manusia dalam ruang lingkup nasihat serta petunjuk dan motivasi terhadap hal-hal mulia, akhlak baik, perbuatan yang baik, dan menjauhi kejelekan.
Barangsiapa memperhatikan hadits Nabi yang mulia dan memeriksa secara teliti mengenai buku-buku mengenai hal itu, ia akan mendapati Rasulullah saw ialah orang yang pertama kali berwasiat kepada umatnya dengan wasiat-wasiat mulia. Wasiat-wasiat Nabi mencakup seluruh aspek kehidupan, aqidah, adab, dan akhlak. Beliau tak meninggalkan satu masalah pun dari berbagai masalah yang ada, melainkan beliau wasiatkan kepada umatnya.

Minggu, 24 April 2011

DEMI MASA

Majalah Hilal Ahmar EDISI 40/VI/ OKTOBER 2010
SEPOTONG KATA




DEMI MASA



Lantunan ayat al-Qur’an itu begitu merdu oleh imam masjid, berisi peringatan bagi manusia tentang masa/waktu. Surah ke 103, Al-‘Ashr (Masa), terdiri dari 3 ayat. Surah ini mudah dihapal oleh siapapun. Bahkan anak-anak kecil sudah hapal sejak belia. “Demi masa. Sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih (mengerjakan kebajikan) serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Hidup kita berjarak antara kelahiran dan kematian. Dan semua tidak tahu berapa lama waktunya. Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.

Jumat, 01 Oktober 2010

DI GERBANG NEGERI IMPIAN

SEPOTONG KATA
DI GERBANG NEGERI IMPIAN

Alhamdulillah, kami (Muhammad Syafi’i dan Bambang Sukirno, relawan Hilal Ahmar Society yang tergabung dalam tugas Mer-c) mendarat dengan selamat di Kairo, tanggal 16/07/2010 pukul 12.30 waktu Kairo. Cuaca sangat panas. Turun dari pesawat, kami dikejutkan oleh seseorang berkebangsaan Mesir yang menjemput, namanya Ahmad Mahmud Hafid. Dia mengenalkan diri staf Kedubes. Alhamdulillah , beliau membantu pengurusan imigrasi. Usai urusan imigrasi, kami dijemput mahasiswa utusan Mer-c dan langsung di bawa ke Wisma Jakarta.
    Kami kemudian istirahat. Hanya berdua di Wisma Jakarta jenuh juga. Melalui koneksi lama, kami mencari tahu tempat mangkal relawan lain yang masih tertahan di Kairo dan Alhamdulillah, pagi ini kami bisa bertemumereka di Wisma Nusantara.
    Di Wisma Nusantara, kami bertemu dengan ACT 2 orang (konsentrasi dibidang rehabilitasi dan bantuan langsung), Bulan Sabit Merah Indonesia 4 orang, ditambah yang akan menyusul 18 orang, total 22 orang.
    Prinsipnya kami semua menunggu izin dari, pertama, Kemenlu Mesir. Kedua, State Security (badan Intelejen). Jika keluar izin dari dua institusi ini, Insya Allah bisa masuk Gaza. Oh ya, relawan ACT sudah di sini 10 hari sementara BSMI sudah sepekan.
    Tambahan info, semalam saya call dr. Joserizal tentang jadwal hari ini (beliau sudah berada di Gaza), Insya Allah beliau akan bertemu dengan insinyur lokal untuk proyek pembangunan rumah sakit. Saya tanya,”Alat-alat bangunan ada?” Jawabnya,”Insya Allah ada, meski terbatas.”
    Hari minggu, 18 Juli 2010, pukul 10 waktu Kairo kami ke KBRI. Di KBRI, kami memanfaatkan untuk mendapatkan informasi mengenai prosedur pengiriman bantuan ke Gaza. oleh pak Burhan, Ketua Konselir Politik, saya ditemukan dengan pak Iwan dan pak Ali. Keduanya membidangi bagian Sosial Budaya. Dari beliaukami mendapat penjelasan bahwa kebijakan pemerintah Mesir, bantuan kemanusiaan harus disalurkan tunggal bernama Egyptian Red Crescent (semacam PMI di Indonesia).
    BSMI dan ACT pada akhirnya menggunakan jalur ini. Demikian juga Negara-negara Arab dan kafilah Libia kemarin hari. BSMI meminta Red Crescent Kairo untuk menjadi pelaksana (atas biaya BSMI) untuk membeli 150 ton gandum. Malaysia juga memakai jalur ini, dan yang tragis, uangnya diterima di Rafah namun relawannya tidak boleh masuk. Jadi kalau bantuan buat Palestina itu berupa barang, makanan, dan alat. Insya Allah tidak banyak problem. Yang problem itu kalau bentuknya rumah sakit. Nah, kan?
    Jadi, saya kebih menghayati kenapa ide “membangun rumah sakit” itu sangat strategis, unik, dan orisinal.
    Setelah selsesai di KBRI kami berangkat ke El Arish dan menuju Rafah. “Kalian tunggu di kafetaria, kami akan konfirmasi ke State Security,” ucap polisi penjaga perbatasan Rafah ditengah kesibukan melayani penduduk Gaza yang hendak pulang. Kami menunggu dengan harap-harap cemas sambil menikmati secangkir qahwah. Sejenak kemudian kami dipanggil Polisi dan berkata: “Hanya Mahmud (maksudnya Muhammad Syafi’i/rekan kami) yang boleh ke Gaza.” “Saya bagaimana”, protes saya. “Anda tidak boleh,” Jawabnya. “Kenapa?” Kejar saya. “Kami tidak tahu, yang jelas ini wewenang intelejen pusat kami, dan belum ada izin untuk anda.” Jelasnya. “Tapi kami membawa surat pengantar dari kedutaan kami (Indonesia), bahwa kami termasuk tim yang sudah masuk beberapa hari lalu?” protes saya kembali. “Ya, kami tahu, tapi ini kewenangan intelejen.” “Tolonglah bantu kami, kami berdua adalah kesatuan tim yang ingin membantu saudara di sana.” Pinta saya. “Kami tahu, tapi kami tidak bisa.” Pungkasnya.
    Sejenak saya dan Syafi”i terdiam. Agak sedikit tegang,”Bagaimana pak Syafi’i?” “Kalau kagak bisa  masuk berdua, mending kita kagak masuk dulu, nunggu izin pak Bambang keluar.” Saat itu Syafi’i memberi tahu kawan-kawan Mer-C di Gaza, seputar perkembangan terkini, dan mereka menyarankan masuk saja. Saya juga berpikir, izin bagi saya belum tentu keluar, sementara jika kami tidak ada yang masuk, misi utama bank darah tidak berjalan. “Pak, antum berangkat saja, saya akan berusaha lagi.” Saran saya. “Jika saya tidak bisa masuk, saya akan tetap melakukan tugas dari perbatasan.” Lanjut saya. “Kalau begitu, antum jangan pergi sebelum saya sampai Gaza.” pinta Syafi’i. “Oke”, jawab saya. Kami kemudian minta arahan Mer-c. Dr. Arif mengarahkan agar menyiapkan uang 105 pound, dan menjanjikan akan menjemput di Imigrasi Gaza. Saya menuliskan beberapa tugas pak Syafi’i sesampainya di Gaza.
    “Bismillah akhi, antum berangkat. Jangan lupa banyak berdzikir dan berdoa.”, saran saya. “Apa ini aman bagi saya, ustadz?” tanya pak Syafi’i. “Aman, Insya Allah, tidak apa-apa.” Kami saling bertaanuq sebelum akhirnya melepas beliau di gerbang Rafah. Saya baru bisa melihat Palestina dari sebuah jarak; sekitar 400 meter.
    Saya ditemani kawan, menunggu di kafetaria sambil memantau pak Syafi’i. Saat hati masyghul memikirkan banyak hal terkait amanat dan aneka ragam, saya selalu ingat kalimat dokter Nardi saat melepas kami. “Unsur ketidakpastian di amal ini sangat tinggi, tapi yang penting kalian bersungguh-sungguh.” Kalimat ini sangat menghibur.
    Tiba-tiba kami didatangi seseorang yang sangat simpatik. Berbicara dalam bahasa Inggris. Saya tanya dari mana dan dalam rangka apa? Dia menjawab dari Saudi dalam rangka menghantarkan istrinya asli Gaza untuk pulang. Dia mengaku tidak bisa masuk karena dilarang. Dia sangat ramah, dan saya ajak dalam bahasa Arab. Di amentraktir kami syahi den bercerita banyak hal. Ia mengaku berasal dari Ramlah (bukan Ramallah), yang kini masuk wilayah Israel. Tahun 60an, bapaknya studi di Mesir, sebelum terjadinya perang Arab tahun 70an. Perbatasan ditutup, kemudian jadilah dia pengungsi. Bapak ibunya, hingga kini tinggal di Kairo dan dia sendiri bekerja sebagai muhandis (insinyur) di Riyadl. Ketika saya tanya kenapa anda dilarang masuk?, dia menjawab,”Paspor saya Yordan, bersifat sementara, berumur dua tahunan, tapi tidak diakui sebagai warga Yordan. HP nya cukup banyak dan mewah-mewah. Dari Bbnya, saya dijelaskan peta-peta Israel, rumahnya dan jalur Gaza dari google mapnya. Saya belum bisa memahami penjelasan-penjelasan ini. Ia kemudian menyapa seorang wanita dari Belanda yang dari tadi terlihat tegang dengan aparat. Saat kembali, saya bertanya apa yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa wanita itu berpaspor diplomat, sudah memiliki izin masuk, hendak menjemput suami dan anaknya, tapi tidak diberi izin masuk. Wanita itu konon sudah lima hari menunggu.
    Saya memang bukan satu-satunya yang ditolak. Sampai hari ini, ada 6 relawan yang menunggu izin intelejen untuk masuk. Masing-masing dari BSMI dan ACT. Mereka kini menunggu di Kairo, 400 km dari Rafah. Menurut teman-teman BSMI, ada 18 orang lagi yang senin ini dijadwalkan akan datang. Saat kami ke KBRI kemarin, kami mendapat penjelasan bahwa yang saya sebut di atas, izinnya sudah diurus tapi belum ada yang keluar.
    Berbeda dengan sikapnya terhadap Mer-c, KBRI nampaknya lebih powerfull dan ramah. Untuk diketahui, bahwa proses perizinan masuk Gaza adalah sebagai berikut 1. Adanya rekomendasi Kemenlu RI. 2. Pengajuan KBRI ke Kemenlu Mesir oleh Konselir Politik dan pengajuan KBRI oleh konselir Atan (Atase Pertahanan) ke State Security. 3. Turun surat jawaban dari dua institusi di Mesir, Kemenlu dan State Security tentang boleh tidaknya nama-nama yang diajukan untuk masuk. Perlu saya sampaikan kami ber 12 sudah diajukan baik oleh Konselir Politik maupun Atan ke Pemerintah Mesir. Artinya, secara yuridis, dari Institusi RI, Insya Allah kami tidak ada masalah. Kami juga mendapat rekomendasi dari Kaukus Parlemen, Komisi I DPR RI. Yang menjadi masalah, kenapa dari 12, ada 1 yang di tolak oleh Intelejen Mesir?
    Untuk sementara saya akan bertahan di tsughuur bernama Arisy, kota kecil tapi ramai sekitar 40 km dari rafah. Besok saya akan kembali ikhtiar ke Rafah, sebagaimana amanat kawan-kawan. Saya akan tetap menjalankan tugas meskipun belum masuk Kota Gaza. ada banyak ide yang saya catat. Arisy, sebagaimana dijelaskan sopir tadi, adalah tempat pembuangan narapidana era Fir’aun yang ditandai dengan potong hidung (ar-Isy/hidung terpotong). Semoga bukan dalam makna ini. Karena ada makna lain, Arisy sama dengan gubuk. Menjelang saya akhiri tulisan ini, pak Syafi’i SMS: “Alhamdulillah, saya masuk markas Mer-c di Gaza.”
    Saya mohon doa semoga diberi kekuatan dan yang terbaik. “Ya Allah, jangan bebani hambamu beban yang tidak sanggup hamba pikul.” (Bambang)