Jumat, 01 Juni 2012

CEDERA PADA BAGIAN PUNGGUNG DAN TULANG BELAKANG (SPINE)


First Aid | Edisi 57/viii/mei/2012

CEDERA PADA BAGIAN   PUNGGUNG DAN TULANG BELAKANG (SPINE)

Selain ditopang oleh ke 2 kaki, salah satu penopang tubuh yang penting lainnya adalah tulang belakang (spine/vertebrae). Bagian ini sangat penting dalam fungsi organ tubuh manusia, disamping sebagai penopang, di dalam rangkaian tulang belakang terdapat pula jalur persyarafan tubuh yang menyalurkan informasi dari dan ke syaraf pusat (otak). Demikian pentingnya jalur persyarafan ini, maka kita tak boleh menganggap sepele /remeh bila kita temukan penderita  yang mengalami perlukaan pada punggung/bagian belakang tubuh nya.


Kira-kira apa resiko terburuk yang dialami penderita yang mengalami  trauma tulang belakang?  Resiko yang paling fatal adalah terjadinya kelumpuhan anggota gerak, penderita mengalami kelumpuhan permanen dan bahkan bisa ke arah kematian jika patahan brada di daerah leher. Maka di sinilah pentingnya peran penolong pertama (first aider)untuk dapat memberikan pertolongan secara benar danmenyelamatkan penderita.

Tulang belakang  yang mengalami perlukaan akan didapatkan salah satu kondisi berikut :
  1. Patah tulang belakang.
  2. Salah letak /pergeseran lempengan (disc inter vertebrae) antar ruas tulang belakang karena mengalami penekanan.
  3. Terkilir (sprain dan strain)pada bagian tukang belakang.
Patah tulang belakang maupun perlukaan pada ruang antar tulang belakang akan mengakibatkan perlukaan pada persyarafan yang terletak di dalamnya. Oleh karena itu setiap perlukaan yang terjadi pada tulang belakang, kita patut curiga terjadinya patah tulang belakang, hal ini akan mendorong ke arah kehati-hatian  penolong. Pada penderita dengan perlukaan bagian tulang belakang penderita akan merasakan gangguan gerak. Berat  ringannya gangguan gerak ini,  selanjutnya akan mendukung ke arah  penegakan diagnosa patah tulang belakang atau cedera  (syaraf)spinal cord tulang belakang. Riwayat terjadinya kecelakaan sehingga menimbulkan cedera tulang belakang perlu dikaji, karena hal itu akan memperkuat penegakan diagnosa cedera tulang belakang.

Untuk lebih mengenal cedera tulang belakang, baiklah apabila kita mengenal struktur anatomi tulang belakang. Tulang belakang terdiri dari kumpulan tulang-tulang kecil (vertebrae), salah satu bagiannya merupakan jalur persyarafan yang mirip canal (saluran) yang tempatnya disebut spinalcord. bagian –bagian kecil tulang ini dipisahkan semacam tulang kering yang mirip lempengan/piringan sehingga disebut  Intervertebral disc. Tulang belakang sendiri memiliki keterbatasan rentang  gerak yang dipengaruhi lempengan tulang kering tadi, sehingga fungsi intervertebal disc tadi mirip shock absorber (per peredam). Pemahaman anatomis selanjutnya adalah, tulang belakang-lempengan- spinal cord dibungkus sekumpulan otot-otot yang sangat kuat sehingga menambah kekuatan penegakan tubuh.
Jalur persyarafan (spinal cord)terdiri dari serabut persyarafan yang dimulai dari otak sampai dengan tulang ekor. Jalur persyarafan ini mengontrol banyak sekali  fungsi-fungsi tubuh, seperti pernapasan, saluran perkencingan  pencernaan dan  gerak anggota tubuh (tangan dan kaki). Oleh karenanya,  sangat membahayakan apabila terjadi cedera tulang belakang, karena akan mempengaruhi anggota tubuh di bawah tulang belakang yang mengalami cedera. Pengaruh cedera tulang belakang antara lain : kelumpuhan, mati rasa (loss of sensation), dan berkurangnya kekuatan tubuh.Terkadang jalur persyarafan ini dapat mengalami penjepitan dikarenakan terjadinya pergeseran lempengan tulang belakang.

PATAH TULANG BELAKANG

Patah tulang belakang tidak seperti jenis patah tulang anggota tubuh yang lain, karena setiap terjadi patah tulang belakang penggolongannya termasuk kelompok patah tulang yang bersifat serius. Hal ini mengingat efek patah tulangnya yang dapat mengakibatkan kelumpuhan menetap pada anggota tubuh di bawahnya, jika terjadi kerusakan di spinal cord (jalur syaraf).
 
Cedera tulang belakang dapat terjadi karena :
  1. Pukulan/trauma langsung maupun tidak langsung yang mengenai  bagian tulang belakang.
  2. Tabrakan beruntun.
  3. Kejatuhan obyek benda berat yang mengenai tulang belakang.
  4. Jatuh terduduk, dimana kepala/bokong sebagai tumpuan tubuh   waktu jatuh.
  5. Trauma WHIPLASH, dimana kepala dan leher  mendapat pukulan/mengalami pergerakan  dari arah depan dan belakang. Pada type  cedera ini, otot, syaraf di dalam spinal cord, selubung tulang belakang bagian leher maupun leher sendiri  secara keseluruhan  mengalami cedera cukup berat. Kecelakaan ini biasa terjadi pada kendaraan yang mundur ke belakang kemudian mengalami tabrakan, sehingga tubuh penderita  terdorong ke depan.Hal tersebut di atas dapat menyebabkan perlukaan serius pada tulang belakang dan bahkan dapat terjadi patah tulang leher.
Terdapat dua (2) tempat yang sangata beresiko terancam terjadi patah pada cedera tulang belakang, yaitu leher dan punggung.


TANDA DAN GEJALA
  1. Penderita merasakan nyeri hebat  pada bagian punggung dan merasakan  mati rasa separo tubuh (bagian bawah tubuh).
  2. Penderita tak dapat mengontrol dan menggerakkan anggota tubuh (tangan dan kaki). Untuk mengeceknya perintahkan penderita mencoba menggeakkan tangan, telapak kaki, jari-jari. Bila dapat menggerakkan, biasanya gerakan nya sangat lemah atau bahkan tak dapat sama sekali.
  3. Kehilangan sensasi  rasa bila dirangsang sentuhan atau cubitan. Lakukan pengecekan dengan tanpa diketahui penderita, untuk mengetahui benar apakah dia mengalami kelumpuhan atau tidak.
TUJUAN
Mencegah terjadinya cedera pada jalur persyarafan (spinal cord) dan cedera tulang belakang.


PERTOLONGAN UMUM
  1. Lakukan teknik ABC secara berurutan, periksa lebih dahulu pernapasan, nadi dan tingkat kesadaran. Posisi penderita selanjutnya tergantung dari hasil pemeriksaan ini dan prioritas yang perlu dilakukan.
CATATAN : menganngkat dan memindah pasien pada kasus cedera tulang belakang bukan merupakan kompetensi seorang penolong pertama, dikarenakan resiko yang  fatal, kecuali dalam kondisi yang sangat ekstrem misal kebakaran, reruntuhan dsb. Jangan pindahkan penderita sampai dengan kedatangan tim ambulans
  1. Jaga posisi penderita pada posisi ketika anda temukan kecuali ada kondisi membahayakan seperti kebakaran, gas beracun reruntuhan gedung dsb. Juga keadaan-keadaan yang mengancam tersumbatnya jalan napas, pernapasan dan sirkulasi darah /perdarahan. Jika situasi sangat membahayakan, pindahkan penderita semampu anda dengan  menjaga kestabilan tulang belakang.
  2. Jika penderita tak sadar. Buka jalan napas sesuai teknik jaw thrust-  slight head tilt.
  3. Periksa pernapasan dan bila perlu lakukan napas buatan.
  4. Periksa sirkulasi darah (nadi) jika tak ada nadi dapat dilakukan kompresi dada (baca edisi-edisi sebelumnya).
  5. Lengkapi pemberian bantuan dengan teknik ABC tadi berikan posisi SPINAL INJURY recovery jika perlu. JANGAN MENUNGGU, KERJAKAN SESUAI PENGETAHUAN ANDA.
  6. Jika terjadi mutah pada penderita yang sadar, posisikan pada spinal injury recovery.
  7. Tetap dukung posisi penderita supaya bagian spine tidak bergerak-gerak dengan menempatkan ke-2 tangan anda pada ke-2 telinga penderita (jangan menggunakan traksi/bidai). Lanjutkan dukungan posisi tadi sampai dengan petugas ambulans datang, posisi ini tetap dipertahankan baik ketika penderita sudah berada di tandu, berada di ambulans hingga masuk IGD RS.
  8. Jika cedera terjadi di leher,pasang pengaman leher (neck collar) untuk lebih menjaga keamanan daerah leher. Tetapi pemasangan pengaman leher ini tidak kemudian menghentikan dukungan posisi kepala penderita dengan ke-2 tangan kita tadi. Tetap kita lakukan pengamanan kepala, dengan memegang pada bagian telinga penderita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar