Senin, 15 Agustus 2011

KEDAMAIAN HATI NURANI


KEDAMAIAN HATI NURANI

Menurut Islam, tidak akan ada kedamaian dunia, kecuali kalau setiap orang berdamai dengan dirinya. Oleh sebab itu untuk mendirikan dasar kedamaian internasional yang kuat, orang harus lebih dulu menanamkan kedamaian dalam hati kecilnya, dalam hati nurani setiap pribadi.

Dalam Islam, setiap pribadi mempunyai peran penting sekali, sebab dia dipandang sebagai kekuatan inti masyarakat.  Pribadi itu ialah perwujudan keyakinannya, yang disenyawakan ke dalam hati nuraninya dan ini tercermin dalam tindak tanduknya.

Islam menanamkan dalam hati nurani kedamaian positif, artinya kedamaian yang meninggikan dan memperkaya hidupnya, bukan kedamaian negatif, kedamaian yang mau mengorbankan prinsip dan cita-citanya untuk keselamatan dan keamanan dirinya. Damai positif ini seimbang dan dan tetap mengalir karena ia bisa memberikan tenaga membangun dan daya pada orangnya. Damai tidak akan lahir dari kejahilan dan kejumudan. Damai positif mengakui adanya naluri seseorang, dorongan dan keinginannya, maupun adanya kepentingan dan keperluan sosial, akhlak dan cita-citanya, yang semuanya berjalan seimbang.


Logika dan Agama

Sebagai satu kepercayaan yang begitu sederhana dan alami, tanpa pertentangan yang membingungkan, Islam sesuai dengan akal sehat manusia. Kenyataan ini jelas tampak pada ajaran pokok Islam.

Tuhan itu Esa dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Dia tidak dapat ditiru atau dirupakan. Dia pencipta alam semesta ini. Muhammad adalah manusia biasa yang diberi Tuhan petunjuk menuntun  umat  agar menyembah Allah, karena Dia mempunyai kekuasaan mutlak, di dunia ini dan di akhirat nanti. Tuhan itu bukan satu diantara yang tiga; Dia tidak beranak atau diperanakkan. Muhammad bukanlah Tuhan dalam bentuk manusia; dia juga bukan Nabi di dunia lalu Tuhan di surga. Dalam Islam tidak ada teka-teki atau anggapan-anggapan tidak masuk akal yang membingungkan manusia dan mengecutkan hati nuraninya. Sebenarnya mistik tidak dihargai, sebab dengan mengikuti guru mistik, orang beriman mungkin saja menerima kepercayaan yang tidak diterima akal sehat, yang akan menyeretnya ke arah kekekafiran atau memaksa dirinya mengorbankan pokok keyakinannya.

Dalam Islam, tidak ada masjid dengan dewanya yang begitu besar peranannya dalam menafsirkan dan pelaksanaan hukum-hukum agama. Bukan saja agama Islam membersihkan soal Ketuhanan dari mitos-mitos dan khayalan-khayalan, tapi juga menyelamatkannya dari membesar-besarkan  mukjizat. Islam tidak pernah menggunakan mukjizat untuk menarik orang menganutnya. Unsur kepercayaannya begitu mudah  dan terang, hingga cepat dipahami orang.

Dengan kejelasan sebagai alat, Islam menggabungkan akal sehat dengan keyakinan. Ini tidak akan  menyebabkan  kecemasan pada orang beriman, sedangkan ajaran-ajaran  yang tidak sesuai dengan  pikiran sehat pasti akan  menimbulkan  kebimbangan atau ketakutan. Kepercayaan-kepercayaan yang seperti itu, hanya bisa  hidup dalam suasana mistik yang samara-samar, tidak bisa terang-terangan atau dengan pengertian yang berdalam-dalam.

“Kalau hamba-hamba-Ku bertanya padamu mengenai Aku, katakana Aku dekat kepada mereka, Akumendengar doa setiap yang mendoa, waktu dia mendoa kepada-Ku; oleh sebab itu mereka hendaklah dengan sungguh-sungguh pula mendengarkan panggilan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka bisa menempuh jalan yang benar.” (Al Baqarah 186).

Kebutuhan Jasmani dan Rohani

Islam yang berupa kesatuan sejagat itu mencakup manusia dan segala keinginannya. Baik kebutuhan rohani dan jasmani, dan keinginan-keinginan itu tentu  mesti berimbangan dan tidak mengganggu perkembangan hidup selanjutnya.

Karena itu, Islam menerima atau mengakui desakan  badani ini sebagai satu sifat manusia. Bila dorongan ini dipenuhi sewajarnya, tidak akan bertentangan dengan keinginan jiwa akan keagungan dan keluhuran, serta kebutuhan akal, yang juga merupakan sifat manusia.

Kalau Islam meninggikan jiwa dan membenci nafsu, ini tidak berarti manusia itu mesti  menekan keinginan-keinginannya atau menghabiskan pengaruhnya. Maksudnya hanyalah agar manusia seharusnya menjadi  pengendali nafsunya, bukan menjadi budaknya. Dia tidak boleh mengikuti saja segala keinginannya itu, dan menyerah bulat-bulat pada nuraninya. Kemauan inilah yang membedakan manusia dengan binatang. “Siapa-siapa yang mengingkari Allah, akan bersenang-senang di dunia ini dan makan seperti ternak, kemudian api neraka tempat tinggalnya nanti.” (Muhammad : 12).

Kalau orang sudah sanggup mengendalikan dirinya, dia akan memenuhi setiap kebutuhan badannya dan menikmati karunia hidup ini dalam batas-batas yang ditentukan Allah buat mereka. Pengendalian diri ini jadi langkah pertama ke arah kesehatan tubuh, agar dapat menikmati kehidupan ini.

Melanggar batas dan ketentuan sehingga sampai menerima sogok, melakukan penipuan atau pemerasan dan mengingkari Allah, samalah artinya dengan merendahkan derajat manusia dan mengabaikan tata kehidupan itu sendiri.

Dengan menjalankan aturan-aturan Islam, daya manusia bisa berkembang bebas dan meningkatkan kehidupannya karena Islam menuntun manusia dalam memenuhi kebutuhan jiwa raganya secara wajar.

Pemakaian hukum agama dan sosial itu dapat mengarahkan kehendak naluri dan tingkah laku sosial pribadi. Kalau keserasian jiwa dan masyarakat itu telah tercapai dengan menjalankan prinsip-prinsip Islam tadi, maka orangnya akan hidup dengan ketenangan batin. 

Dosa dan Ampunan

Islam tidak saja mengenal kebutuhan-kebutuhan seseorang, tapi juga mengakui bahwa manusia bisa berbuat salah. Kesalahan-kesalahan yang tidak dilakukan dengan sengaja atau diluar kesadaran, kelupaan atau perbuatan yang dikerjakan karena terpaksa tidak bisa dituntut pertangungjawabnya. Kesalahan atau dosa bisa diampuni kapan saja. Siapa saja yang ingin bertobat dan membersihkan dirinya tidak mendapat ancaman, mendapat rahmat Allah, dan tidak perlu memakai perantara.

Oleh karena itu apabila seorang Muslim berbuat dosa, dia tidak dapat disebut keluar dari agama atau terkutuk selama-lamanya. Kesempatan selalu terbuka baginya untuk kembali kepada Allah dan memohon tuntunan Kasih serta ampunan-Nya. Dia tentu akan menyadari bahwa Allah sedia menerima tobatnya dan akan menolongnya mengatasi kelemahannya itu.

Kesenangan yang dapat diterima

Baik dalam ibadah maupun dalam hukum, Islam begitu teliti agar tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Karena kalau hal ini terjadi baik  menyangkut kewajiban sosial ataupun kerohanian, akan mengakibatkan seseorang ; merasa lesu, tak berdaya, merasa dirampas dan ditekan, jiwanya terganggu, mungkin akan melumpuhkan semangat hidupnya, akan tertekan kehendak alaminya yang menyebabkan dia tidak mampu lagi bekerjasama dengan orang lain, timbul rasa cemas, meskipun tidak berbuat salah.

Oleh sebab itu, Islam memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan seseorang. Dalam perintah untuk mengerjakan sesuatu atau menjauhi larangan, Islam selalu memperhatikan batas kemampuan manusia. Setiap muslim beramal baik menurut kesanggupannya. Bahkan dia dapat beramal besar yang meminta pengorbanan jiwanya sekalipun, kalau dia mau.

Ada beberapa alasan mengapa tidak mungkin menghilangkan rasa marah atau benci dari jiwa manusia. Pertama, karena sebagian dari perasaan itu timbul secara sadar. Kedua, karena bentrokan keinginan. Ketiga, karena bentrokan antara watak pribadi dengan lingkungannya.

Sekalipun Islam menganjurkan kepada penganutnya bertoleransi, baik hati, dan selalu bergairah, Islam juga mengakui adanya kemarahan dan sakit hati sebagai sifat alami. Oleh sebab itu, Islam tidak menuntut orang membuang emosi ataupun menganggapnya sebagai dosa. Islam hanya menekankan supaya mengendalikan diri dalam mengatsi kemarahan. Islam menjaga agar perasaan-perasaan ini tidak berkembang menjadi kebencian atau dendam. Untuk mencapai tujuan ini, Islam tidak menganjurkan agar menekan perasaan-perasaan buruk ini, tetapi mengajak setiap pribadi menggunaan segala kesempatan untuk memperkuat diri terhadap godaan.

Meskipun Islam sangat membenci  perselisihan di antara sesama muslim, tapi diakui juga bahwa marah adalah sifat manusia, yang tidak bisa dihapus begitu saja. Oleh karenanya perasaan ini tidak dianggap dosa. Dalam mencari perdamaian, Islam memberikan waktu  cukup buat pihak yang bersengketa untuk meredakan kemarahan masing-masing, sampai mereka dapat  beroleh ketenangan untuk berpikir kembali.

Putus asa ditolak oleh Islam, lebih-lebih kalau hal ini , menjadi kebiasaan, sehingga hilang kepercayaan pada diri sendiri, lalu tak berdaya. Kesabaran dan kesungguhan menjadi ukuran ketahanan.

Jadi Islam tidak memberatkan suatu pribadi lebih dari kemampuannya. Islam membukakan jalan setiap orang untuk mengikuti aturan tanpa membebaninya dengan kewajiban yang melebihi kesanggupannya.

Ketenteraman dan Jaminan Allah

Islam memberikan kedamaian dalam hati (qalbu) manusia, manusia menjadi yakin kepada tuntunan kasih Allah serta pemeliharaan-Nya. Yang paling istimewa dalam Islam dibandingkan dengan agama lain, ialah hubungan antara pencipta dengan manusia, si hamba yang diciptakan yang merupakan hubungan tanpa perantara sama sekali.

Karena hubungan langsung ini, orang merasa bahwa dia dilindungi oleh Allah yang Maha Kuasa, tempat dia memohon perlindungan dan pertolongan, seandainya dia telah menyempurnakan ketaatannya kepada Allah semata.

Dengan kesadaran akan adanya Allah yang Maha Kuasa itu, maka segala kekuasaannya di dunia ini tidak ada artinya sama sekali. Orang yang mengira berkuasa, punya kekayaan atau pengaruh, sesungguhnya mahkluk yang tak berdaya sama sekali.

Dalam lindungan kekuatan yang Maha Agung inilah, keselamatan sesorang, kehormatan, dan kekayaan miliknya berada dalam keadaan aman terjamin. Tidak ada yang bisa mengganggunya, selama dia dalam lindungan kekuatan Yang Mengatur seluruh alam raya ini.

Islam adalah agama Allah yang Maha Esa dan ditujukan kepada seluruh manusia di muka bumi ini. Untuk mencapai tujuan ini, Islam meyakinkan pengikutnya bahwa Allah memang sanggup menjamin keselamatan mereka. Dengan demikian setiap pribadi hidup dalam suasana adil, damai dan makmur. 

Sebabnya ialah : Pertama, Islam melindungi pribadi dari ketidakadilan pemerintah maupun orang banyak. Kedua, kekuasaan seorang pemimpin baru bisa terlaksana, kalau dia menjalankan hukum-hukum Allah yang berlaku buat keduanya, pemerintah dan umat. Ketiga, hukum Islam menjamin hak sosial, kehormatan serta kekayaan pribadi. Tidak boleh ada yang mengejek, memata-matai, memfitnah atau menuduh orang lain, hanya karena curiga saja.
(Dr. Sayyid Qutb, Islam and Universal Peace, Shalahuddin Press, Yogyakarta, 1985)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar