Senin, 31 Mei 2010

BERBAGAI METODE SUNAT

Majalah Hilal Ahmar EDISI 35/VI/ MEI 2010
BERBAGAI METODE SUNAT


Sehat Khusus
BERBAGAI METODE SUNAT
Bulan Juni bisa dikatakan sebagai bulan sunat atau bisa diistilahkan arab dengan Syahrul Khitan. Istilah tersebut tidaklah berlebihan, karena jumlah anak yang disunat pada bulan Juni jauh lebih banyak dibanding dengan bulan-bulan yang lain terutama di Indonesia. Banyak yang memilih sunat di bulan Juni karena pada bulan tersebut terdapat liburan panjang untuk kenaikan kelas maupun kelulusan siswa-siswa terutama Sekolah Dasar. Liburan panjang, naik kelas dan lulus sekolah itulah yang mendorong anak minta disunat maupun orang tua menghendakinya.
Dalam pelaksanaan sunatan ada yang memilih untuk datang langsung ke dokter atau mantri atau orang kesehatan lainnya untuk minta sunat. Ada lagi yang mendatangkan dokter atau mantri untuk sunat di rumah. Namun banyak yang sunat dengan mengikuti sunatan / khitanan massal. Banyak lembaga-lembaga sosial, instansi pemerintahan  maupun perorangan yang menyelenggarakan khitanan massal di suatu tempat bekerjasama dengan Rumah Sakit  atau lembaga kesehatan lain yang biasanya diikuti oleh lebih dari 50 anak. Bahkan pada bulan Juni sampai kesulitan mencari anak yang akan disunat karena banyaknya khitanan massal. Yang menarik bagi anak maupun orang tua dalam mengikuti atau mengikutkan khitanan massal, karena bebas biaya dan mendapat bingkisan serta banyak teman-temannya yang ikut sehingga yang tadinya tidak berani ikut sunat jadi lebih berani.
Usia anak yang sunat biasanya bermacam-macam. Pada daerah tertentu banyak anak yang disunatkan ketika masih bayi atau balita. Namun banyak pula yang sunat di usia sekolah dasar yang bervariasi antara umur 7 sampai dengan 12 tahun. Bahkan ada juga yang sunat di usia dewasa. Untuk yang terakhir ini bisa dibilang tidak berani ikut khitanan massal. Sunatnya pun biasanya diam-diam mendatangi dokter atau mantri lalu minta disunat.
PENGERTIAN
Sunat atau khitan atau sirkumsisi adalah tindakan medis berupa pemotongan atau pembuangan sebagian atau seluruh bagian dari preputium (prepuce, foreskin, kulup, kulit yang melingkupi glans penis/kepala penis).
ALASAN SUNAT
Ada 3 alasan utama orang menjalani sunat/sirkumsisi :
1.    Melaksanakan sunnah Rasulullah SAW.
Inilah alasan utama sebagai seorang muslim dalam menjalani khitan/sunat.
2.    Karena indikasi medis
Indikasi medis yang paling sering ditemui adalah kondisi phimosis. Preputium/kulup sebenarnya terdiri dari dua lapis: bagian dalam dan bagian luar. Dengan dua lapis ini, maka preputium bisa ditarik ke depan dan belakang pada batang penis.
Kondisi yang berlawanan adalah paraphimosis. Pada kondisi ini, preputium dapat ditarik ke belakang, glans penis terbuka seluruhnya, tetapi justru preputium tidak bisa kembali ke depan dan menjepit penis. Kondisi ini berbahaya karena risiko pembendungan aliran darah dan menyebabkan edema/pembengkakan penis. Jepitan sebaiknya segera dibebaskan agar tidak terjadi kerusakan yang bersifat permanen.
3.    Tindakan pencegahan untuk masa depan
Berkaitan dengan pencegahan masa depan, ada beberapa penyakit yang diduga berkurang risikonya dengan menjalani sirkumsisi. Yang sering disebut adalah kanker penis, penyakit menular seksual dan kanker serviks/bagian dari kandungan (pada pasangan seksualnya). Alasan yang ketiga ini lebih banyak pada orang-orang non muslim.

MEMILIH  METODE SUNAT
Metode sunat telah mengalami perkembangan pesat, dimulai dari metode klasik sampai dengan metode laser CO2. Metode-metode tersebut muncul dengan berbagai kelebihan. Ada yang tanpa perdarahan, ada yang tanpa penjahitan, ada yang tidak dibungkus perban pasca sunat dan ada yang cepat mencapai kesembuhan. Di samping adanya kelebihan namun ada juga kekurangannya. Kekurangannya antara lain : biaya lebih mahal dan tidak semua dokter/perawat dapat melakukannya. Ada lagi yang tergantung listrik PLN, ketika padam tidak bisa melakukannya.
Adapun kesembuhan sunat adalah relatif. Tidak ada yang dengan salah satu metode dapat sembuh dalam 2 atau 3 hari. Ibarat badan kita terluka maka dengan obat apapun untuk kesembuhannya butuh waktu.
Kesembuhan dipengaruhi beberapa faktor:
1.    Ada tidaknya kelainan/penyulit pada penis sebelum disunat. Bila ada perlengketan maka tentunya kesembuhannya lebih lama, apapun metodenya.
2.    Ada tidaknya perdarahan setelah sunat. Bila masih ada perdarahan akan mengganggu penyembuhan.
3.    Rapat atau tidaknya penjahitan luka iris pada kulup penis. Makin rapat bisa lebih cepat sembuh terbukanya luka minimal.
4.    Perawatan setelah sunat. Jika perawatannya baik dan anak tidak banyak aktifitas maka lebih cepat sembuh.
Berbagai metode sunat tersebut sebenarnya dalam rangka mensiasati beberapa faktor di atas. Satu hal yang perlu diketahui bahwa semua metode sunat sebelum sunat akan dilakukan terlebih dahulu pembiusan lokal dengan penyuntikan obat bius pada pangkal batang penis yang tujuannya untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Penyuntikan inilah yang menjadi momok bagi anak untuk disunat. Oleh karena itu ketrampilan pembiusan lokal akan menentukan tahap selanjutnya.
Adapun rincian metode sunat dapat dibaca berikut ini.
Metode Klasik & Dorsumsisi
Metode klasik sudah banyak ditinggalkan tetapi masih bisa kita temui di daerah pedalaman. Alat yang digunakan adalah sebilah bambu tajam/pisau/silet. Para bong supit alias mantri sunat atau juga calak langsung memotong kulup dengan bambu tajam tersebut tanpa pembiusan. Bekas luka tidak dijahit dan langsung dibungkus dengan kassa/verban sehingga metode ini paling cepat dibandingkan metode yang lain. Cara ini mengandung risiko terjadinya perdarahan dan infeksi, bila tidak dilakukan dengan benar dan steril. Metode Klasik kemudian disempurnakan dengan metode Dorsumsisi, Khitan metode ini sudah menggunakan peralatan medis standar dan merupakan khitan klasik yang masih banyak dipakai sampai saat ini. Umumnya bekas luka tidak dijahit walaupun beberapa ahli sunat sudah memodifikasi dengan melakukan pembiusan lokal dan jahitan minimal untuk mengurangi risiko perdarahan. Kelebihannya peralatan yang digunakan lebih murah dan sederhana, proses memakan waktu cukup singkat, sudah banyak dikenal masyarakat biaya relatif lebih murah. Kekurangannya kulup yang tersisa kadang lebih panjang sehingga membutuhkan pemotongan ulang dan resiko perdarahan tinggi apabila tanpa dilakukan penjahitan/operasi.
Metode Standar Sirkumsisi Konvensional
Merupakan metode yang paling banyak digunakan hingga saat ini, cara ini merupakan penyempurnaan dari metode dorsumsisi dan merupakan metode standar yang digunakan oleh banyak tenaga dokter maupun mantri (perawat). Bisa dikatakan bahwa semua operator sunat dapat melakukan dengan metode ini. Karena ini merupakan metode dasar, adapun yang lainnya sebagai pengembangan cara ini. Alat yang digunakan semuanya sesuai dengan standar medis dan membutuhkan keahlian khusus untuk melakukan metode ini. Kelebihannya peralatannya sudah sesuai standar medis, menggunakan pembiusan local dan benang yang jadi daging, resiko infeksi kecil dan resiko perdarahan tidak ada. Metode ini cocok untuk semua kelompok umur, biayanya cukup terjangkau serta pilihan utama untuk pasien dengan kelainan fimosis. Kekurangannya membutuhkan keahlian khusus dari pengkhitan dan proses waktunya antara 15-20 menit.
dorsum1-300x269   dorsum2-300x267   sirkumsisi   dorsum61-300x269
Gambar urutan Sunat Metode Standar Sirkumsisi
cimcumsisi     circumsisi2
Gambar Sunat Metode Standar Sircumsisi dengan metode Gullotine
Metode “Laser” Elektrokautery
Metode ini sedang booming dan marak di masyarakat dan lebih dikenal dengan sebutan “Khitan Laser”. Penamaan ini sesunnguhnya kurang tepat karena alat yang digunakan samasekali tidak menggunakan Laser akan tetapi menggunakan “elemen” yang dipanaskan. Alatnya berbentuk seperti pistol dengan dua buah lempeng kawat di ujungnya yang saling berhubungan. Jika dialiri listrik, ujung logam akan panas dan memerah. Elemen yang memerah tersebut digunakan untuk memotong kulup.
Khitan dengan solder panas ini kelebihannya adalah cepat, mudah menghentikan perdarahan yang ringan serta cocok untuk anak dibawah usia 3 tahun dimana pembuluh darahnya kecil. Kekurangannya adalah menimbulkan bau yang menyengat seperti “sate” serta dapat menyebabkan luka bakar, metode ini membutuhkan energi listrik (PLN) sebagai sumber daya dimana jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang berisiko bagi pasien maupun operator. Untuk proses penyembuhan, dibandingkan dengan cara konvensional itu sifatnya relatif karena tergantung dari sterilisasi alat yang dipakai, proses pengerjaanya dan kebersihan individu yang disunat.

http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/images/08384laput07.jpg
           sunat kauter
Gambar alat yang digunakan untuk sunat metode elektrokauter.
Pada metode ini terlebih dahulu penis dicucihamakan. Setelah itu dibius lokal kemudian perlengketan kulup pada gland (kepala penis) dilepaskan. Kulup ditarik dengan dua klem arteri dengan ukuran tarikan tertentu, lalu di sebelah luar kepala penis dijepit dengan klem yang lebih besar secara melintang. Mesin dihidupkan maka  kawat pada ujung alat akan membara. Kawat yang membara ini dengan pelan-pelan digunakan untuk memotong kulup di atas klem yang melintang tadi. Setelah terpotong maka klem dilepas lalu kulup yang telah terpotong dijahit seperti pada sunat konvensional.
Metode Flashcutter
Metode ini merupakan pengembangan dari metode elektrokautery. Bedanya terletak pada pisaunya yang terbuat dari logam yang lurus (kencang) dan tajam. Flashcutter langsung dapat hidup (tanpa PLN) karena didalamnya sudah terdapat energi dari rechargeable battery buatan Matshusita Jepang.
Flashcutter pertamakali diluncurkan di Indonesaia tahun 2006 oleh Uniceff Corporation. Cara pemotongan pada khitan sama seperti mempergunakan pisau bedah (digesek, diiris). Dalam hitungan detik preputium terpotong dengan sempurna, (tanpa pendarahan, dan dengan luka bakar sangat minimal).
Metode flashcutter ini merupakan pengembangan dari elektrokauter. Prinsipnya  sama, hanya saja mesinnya menggunakan sumber listrik DC (batterey) dan kawat pemotongnya lebih kecil sehingga lebih tajam dan lebih cepat terpotong.
http://flashcutter.files.wordpress.com/2008/06/standard-clipper.jpg?w=450&h=408      http://flashcutter.files.wordpress.com/2008/06/cara-memotong.jpg?w=190&h=300  http://flashcutter.files.wordpress.com/2008/06/memotong1.jpg?w=270&h=216 
Metode Klamp
Metode Klamp .,ini memilik banyak variasi alat dan nama walaupun perinsipnya sama, yakni kulup (preputium) dijepit dengan suatu alat (umumnya sekali pakai) kemudian dipotong dengan pisau bedah tanpa harus dilakukan penjahitan. Diantaranya adalah : Gomco, Ismail Clamp, Q-Tan, Sunathrone Clamp, Ali’s Clamp, Tara Clamp dan Smart Clamp. Di Indonesia sendiri yang paling banyak berkembang adalah Metode cincin (Tara Clamp) dan Smart Clamp. Metode Cincin (Tara Clamp) Dr. T. Gurcharan Singh adalah penemu Tara klamp pada tahun 1990 berupa alat yang terbuat dari plastik dan untuk sekali pakai.
Berikut ini langkah-langkah sunat metode Tara Klamp :
GAMBAR
KETERANGAN



Langkah 1 :
Penis dibersihkan dengan cairan steril (misalnya betadin). Gunakan pena  untuk menandai batas pada kulup yang akan dipotong. Batas tersebut merupakan tempat di mana tara klamp dimasukkan. Hal ini untuk mencegah terlalu banyak penarikan sehingga menghindari pemotongan jaringan terlalu banyak. 

 


Langkah 2 :
Secara pelan-pelan kulup ditarikke belakang sampai terbuka. Bebaskan dari perlengketan bila ada.

 


Langkah 3 :
Seperti terlihat, gunakan pelumas bedah:
a) Pada bagian dalam dan permukaan luar tabung alat ini.
b) Pada bagian dalam dari cincin, ini untuk mencegah lengketnya jaringan  
     pada alat ini dalam beberapa hari yang akan datang.




Langkah 4 :
Letakkan tabung klem menutupi kepala penis, sehingga kepala penis tertutup oleh tabung. 


 


Langkah 5 :
Tarik kulup menutupi sisi luar tabung , atur ujung kulup agar mencapai diameter kecil dari tabung



Langkah 6 :
Setelah mencapai batas yang ditandai pada kulup, tahan yang kuat kulup dengan jari.




Langkah 7 :
Tekan pemegang, hingga mencapai kunci mekanik pada tabung 




Langkah 8 :
Tekan lebih kuat sampai terdengar  bunyi klik. Ini berarti telah terkunci dan kulup telah terapit dengan baik. 

 


Langkah 9 :
Dengan pemotong  jaringan yang disediakan, atau pisau, kulup yang berada di sebelah luar /distal dari  cincin penjepit dipotong.


    


Langkah 10 :
Meskipun tidak ada pendarahan, tabung dibersihkan dengan kasa bersih dan salep dioleskan di tepi  tempat potongan. Oleskan salep beberapa kali setiap hari, selama beberapa hari berikutnya. Perangkat ini dibiarkan tetap pada penis selama beberapa hari berikutnya. Urin mudah keluar  melalui lobang bagian luar/distal dari tabung.
Metode Cincin
Pelaksanaan sunat dengan menggunakan metode cincin dapat dilihat pada ilustrasi sebagai berikut :
GAMBAR  URUTAN SUNAT CINCIN
KETERANGAN

F:\Images\22022007504.jpg  F:\Images\22022007506.jpg


2 alat terdiri atas cincin karet dan penahan cincin dari plastik,  digunakan untuk menjepit kulup penis. Cincin karet digambarkan sebagai karet ban motor dan penahan sebagai pelek (besi penahan ban)

F:\Images\22022007505.jpg  F:\Images\22022007508.jpg


Kulup yang menutupi kepala penis ditarik ke belakang sampai gland (kepala kelihatan semua), kemudian dipasang penahan cincin karet.

  F:\Images\22022007509.jpg 


Kulup penis dikembalikan (digambarkan sebagai kulup penis yang menelan penahan cincin

F:\Images\22022007510.jpg


Cincin karet dipasang pada penahan cincin sehingga kelup penis terjepit. Karena terjepit sehingga darah terbendung dan tidak bisa keluar, Jepitan ini yang pada sunat biasa sebagai pengganti jahitan. Kulup sebelah luar cincin akan mati dan menjadi hitam.

F:\Images\22022007511.jpg


Kulup sebelah luar cincin dipotong dan disisakan sedikit. Sebenarnya tidak dipotongpun bisa, tetapi terkesan belum disunat dan juga kalau menjadi hitam dan busuk akan membingungkan anak yang disunat.

F:\Images\22022007512.jpg


Sunat selesai, kemudian bekas potongan diolesi betadin. Cincin dan penahan dibiarkan terus sampai nantinya akan lepas sendiri (digambarkan sebagai puput/putusnya tali pusat seminggu setelah bayi lahir). Hasilnya akan terlihat rata, teratur dan halus.
Pelaksanaan tersebut di atas dilakukan tentunya dalam keadaan steril dan telah dicucihamakan serta telah dibius lokal.
Metode Lonceng
Pada metode ini tidak dilakukan pemotongan kulup. Ujung penis hanya diikat erat sehingga bentuknya mirip lonceng, akibatnya peredaran darahnya tersumbat yang mengakibatkan ujung kulit ini tidak mendapatkan suplai darah, lalu menjadi nekrotik, mati dan nantinya terlepas sendiri. Metode ini memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar dua minggu. Alatnya diproduksi di beberapa negara Eropa, Amerika, dan Asia dengan nama Circumcision Cord Device.
Metode Laser CO2
Istilah yang lebih tepat untuk “Khitan Laser” yang sesungguhnya adalah dengan metode ini. Fasilitas Laser CO2 sudah tersedia di Indonesia. Salah satunya, di Jakarta. Laser yang digunakan adalah laser CO2 Suretouch dari Sharplan. Berikut tahapan sunat dengan laser tersebut: Setelah disuntik kebal (anaestesi lokal), preputium ditarik, dan dijepit dengan klem. Laser CO2 digunakan untuk memotong kulit yang berlebih.Setelah klem dilepas,kulit telah terpotong dan tersambung dengan baik, tanpa setetes darahpun keluar. Walaupun demikian kulit harus tetap dijahit supaya penyembuhan sempurna. Dalam waktu 10-15 menit, sunat selesai.
Metode-metode sunat di atas tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebelum menentukan pilihan mestinya harus memperhatikan beberapa hal :
1.    Menanyakan kepada teman-teman anak yang akan sunat tentang sunat yang telah dialami (berbagi pengalaman).
2.    Konsultasi kepada dokter maupun perawat yang akan menyunati tentang metode yang akan dipilih.
3.    Sesuaikan dengan kondisi keuangan. Metode konvensional umumnya sangat terjangkau. Adapun dengan metode yang lain biasanya lebih mahal.
4.    Setelah mantap dengan pilihannya, ikhlaskan niat dalam sunat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah SAW lalu berdo’alah kepada Allah Ta’ala agar diberikan kemudahan.
Demikian pemaparan tentang metode sunat semoga menjadi tambahan pengetahuan khususnya bagi orang tua yang akan menyunatkan anak-anaknya.
Oleh : dr. Mashur Afandi, dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar