Senin, 19 November 2012

Sepotong Kata : SETIAP BANGUNAN AKAN MENJADI BENCANA BAGI PEMILIKNYA


SETIAP BANGUNAN AKAN MENJADI BENCANA BAGI PEMILIKNYA


Sumber : Muhammad Ali Utsman Mujahid, Jangan Bikin Rasul Marah, Aqwam, Solo, 2008 

Anas bin Malik meriwayatkan, “Rasulullah saw keluar dan melihat sebuah kubah yang tinggi. Kemudian belau bertanya,”Apa ini?” Para sahabat pun menjawab,”Ini milik si Fulan-lelaki dari Anshar.” Anas melanjutkan,”Beliau pun diam dan menahan sesuatu yang ada pada dirinya, hingga datang pemiliknya. Ia pun mengucapkan salam kepada Rasulullah, tapi beliau berpaling darinya. Ia melakukannya berkali- kali hingga lelaki tersebut tahu bahwa beliau sedang marah. Ia lalu mengadukan hal ini kepada para sahabat Nabi. Ia berkata,”Sesungguhnya aku melihat hal yang aneh pada Rasulullah.” Mereka lalu berkata,”Beliau telah keluar dan melihat kubahmu.” 


Lelaki tersebut pun langsung menuju kubahnya, dan menghancurkannya hingga rata dengan tanah. Di lain hari, Rasululah keluar dan tidak melihat kubah tersebut lagi. Beliau pun bertanya, “Ada apa dengan kubahnya?” Mereka menjawab, “Pemiliknya mengadu kepada kami akan berpalingnya engkau darinya . Lantas , kami pun menceritakan dan ia pun menghancurkannya.” Beliau bersabda: “Ketahuilah , sesungguhnya setiap bangunan akan menjadi bencana bagi pemiliknya kecuali bangunan yang memang harus ada (kebutuhan primer).” (HR. Abu Daud). 

Qubbah musyrifah artinya adalah kubah yang tinggi. Pertanyaan beliau, “Apa ini?” merupakan tanda pengingkaran. Artinya apakah bangunan yang tidak baik ini, siapakah yang membangunnya? Hamalaha ‘ala nafsihi maksudnya adalah beliau membawa kemarahan tersebut pada diri beliau. Di dalam ilmu Balaghah, bagi orang yang menyimpan dendam misalnya, maka disandarkan dhamirnya kepada pelaku, sehingga menjadi kalimat hamalati al-hiqd ‘alaihi. Hal ini juga disebutkan dalam kita Al Mirqat. Dikatakan bahwa dhamir tersebut memang untuk menerangkan kesusahan. Maksud dari berpalingnya beliau adalah beliau tidak menjawab salam yang ia ucapkan. Ia mengadu karena melihat kemarahan dan berpalingnya Rasul darinya. 

Perkataan lelaki tersebut,”Sesungguhnya aku melihat hal yang aneh pada Rasulullah,” maksudnya adalah aku melihat Rasululah tidak seperti biasanya, yaitu marah dan benci tanpa kutahu apa sebabnya. Al-Qari berkata bahwa pertanyaan Rasul, “Ada apa dengan kubah itu?” merupakan pertanyaan tentang sesuatu yang jelas dan tidak jelas. Sehingga artinya bagaimana keadaan kubah tersebut dan apa yang terjadi sehingga tidak tampak bekasnya. 

Ungkapan ama adalah kata untuk menunjukkan perhatian. Sedangkan kata ma la ditafsirkan oleh salah satu perawi dengan ma la budda minhu (sesuatu yang diharuskan). Al Mundziri berkata dalam kitab Targhib wa Tarhib-nya, “Arti dari bangunan yang memang harus ada yaitu bangunan untuk melindungi pemiliknya dari panas, dingin, binatang buas, dan sejenisnya, Walahu a’lam.” 

Dikatakan bahwa makna hadits tersebut adalah setiap bangunan yang dibangun pemiliknya merupakan bencana atau siksaan di akhirat. Maksudnya juga bisa berarti bangunan yang dibangun untuk kebanggaan, merasa nikmat di atas kebutuhan, maka ia menjadi bencana di akhirat. Tidak termasuk di dalam hal ini adalah bangunan untuk kebaikan seperti masjid, madrasah, tempat untuk jihad, dan lainnya. Ini semua adalah kebaikan untuk akhirat. Begitu juga dengan apa yang harus dipenuhi seseorang seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, memang harus disediakan.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar