Kamis, 08 Juli 2010

Tahap Perkembangan Kehamilan Trimester Kedua


IBU SEHAT
Di akhir trimester pertama rasa mual dan lemas akan berangsur hilang. Bersamaan dengan perut sang calon ibu yang sudah mulai terlihat membesar saat memasuki trimester kedua kehamilan. Seiring dengan hal itu bayi anda pun sudah mulai merespon rangsang suara dan cahaya.
Trimester kedua merupakan tahapan paling nyaman di dalam 3 jenjang kehamilan. Keluhan-keluhan Ibu akan menghilang dan selera makan Ibu kembali normal. Yang paling menyenangkan di trimester ini adalah Ibu dapat merasakan gerakan janin. Berat badan Ibu akan mulai bertambah dan orang di sekitar Ibu akan menyadari bahwa Ibu sedang hamil.

Trimester Kedua
Minggu 13
Umur 11 minggu sekarang. Panjang 6,5 sampai 7,8 cm dan beratku antara 13 sampai 20 gram. Janin dapat menghisap ibu jari dan dapat menelan saat ini.

Plasenta berkembang sempurna
Janin :
Janin Ibu memiliki panjang dari kepala ke bokong sekitar 65 – 78 mm dan beratnya antara 13 – 20 gram, seukuran buah peach. Memasuki trimester kedua, plasenta sudah berkembang sempurna dan memberikan oksigen, nutrisi, serta membuang produk sisa janin. Plasenta juga memproduksi hormon progesteron dan estrogen untuk menjaga kehamilan. Kelopak mata bayi sudah terbentuk untuk melindungi mata janin selama perkembangan. Janin Ibu dapat memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut meskipus refleks menghisap janin belum sempurna. Usus janin sudah berada di dalam rongga perutnya saati ini. Pita suara dan laring janin sudah sempurna terbentuk, namun tentu saja Ibu masih belum bisa mendengar suaranya karenan janin masih belum dapat mengeluarkan suara. Pusat penulangan primer terdapat di semua tulang panjang anggota badan menjelang perkembangan minggu ke-14.
Sidik jari sebagai indentitas individu sudah terbentuk di jari janin. Perkembangan tubuhnya sudah mulai meningkat seiring perkembangan kepala janin (yang berukuran 1/3 dari seluruh tubuh). Bila janin Ibu perempuan, dia sekarang memiliki hampir 2 juta telur di indung telurnya. Rambut halus yang disebut dengan lanugo akan meliputi seluruh tubuh janin minggu ini.
Ibu :
Pada beberapa pasangan didapatkan peningkatan libido minggu-minggu ini. Proses melahirkan masih lama namun payudara ibu sudah mulai membentuk kolostrum, cairan kaya nutrisi dengan fungsi memberikan asupan nutrisi pada bayi Ibu pada hari-hari pertama kehidupannya sebelum payudara Ibu mulai menghasilkan ASI. Payudara Ibu sendiri mengalami ‘peningkatan’ ukuran dibandingkan sebelum kehamilan.
Ibu memerlukan tambahan 300 kalori setiap harinya. Peningkatan asupan kalori bukan berarti Ibu bebas makan apa saja, hindari junk food dan makan makanan manis berlebihan (hanya mengandung sedikit gizi) agar Ibu tidak berlebihan berat badan. Tidak perlu berlebihan karena 300 kalori setaraf dengan 1 buah kue bolu. Zat besi diperlukan untuk menghindari anemia defisiensi besi serta kalsium untuk perkembangan gigi dan tulang janin.
Tips : Mencegah Gingivitis Kehamilan
Sekitar 50% wanita hamil mengalami gingivitis (radang pada gusi) pada kehamilan. Gingivitis tersebut terjadi karena peningkatan kadar hormon progesteron yang berakibat gusi Ibu bereaksi lebih terhadap bakteri yang terdapat di plak gigi. Peningkatan suplai pendarahan pada rongga mulut juga dapat meningkatkan sensitivitas gusi dan perdarahan terhadap gusi. Pencegahan gingivitis kehamilan dilakukan dengan menjaga kebersihan rongga mulut, gosok gigi secara teratur, dan dental floss.
Tips : Bekerja selama kehamilan
Wanita hamil tetap dapat bekerja namun aktivitas yang dijalaninya tidak boleh terlalu berat. Istirahat untuk wanita hamil dianjurkan sesering mungkin. Seorang wanita hamil disarankan untuk menghentikan aktivitasnya apabila mereka merasakan gangguan dalam kehamilan. Pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik berat, berdiri dalam jangka waktu lama, pekerjaan dalam industri mesin, atau pekerjaan yang memiliki efek samping lingkungan (contoh : limbah) harus dimodifikasi.


Minggu 14
Umur 12 minggu sekarang, panjang badan sekitar 8 sampai 9,3 cm dengan berat tubuh hampir 25 sampai 45 gram. Janin diliputi rambut halus yang disebut lanugo. Hati, pankreas, dan limpaku sudah berfungsi.

Lihat Jenis Kelamin Janin Anda
Janin :
Panjang janin dari kepala ke bokong saat ini berkisar 80 – 93 mm dengan perkiraan berat badan hampir 25 – 45 gram.
Janin Ibu sekarang sudah mulai belajar membuat ekspresi di dalam rahim. Menyipit, berkerenyit, menyeringai, dan bahkan menghisap jempolnya. Berkat impuls atau rangsangan dari otaknya, otot wajah janin sudah dapat bekerja menghasilkan berbagai macam ekspresi wajah.
Akhir minggu ini, lengan janin akan tumbuh dengan ukuran yang proporsional sesuai dengan panjang badannya dan janin akan bergerak lebih aktif. Hati janin akan mulai membentuk cairan empedu, pankreas mulai menghasilkan insulin, dan limpa janin sudah membantu menghasilkan sel darah merah. Leher janin akan bertambah panjang dan membantu kepala janin untuk berposisi lebih tegak. Ketika lahir nanti, ukuran kepala bayi hanya ¼ dari panjang badan. Rambut halus yang disebut lanugo juga sudah didapatkan di muka dan tubuh janin sampai lanugo menghilang menjelang kelahiran. Lanugo berfungsi untuk menjaga temperatur tubuh janin untuk menggantikan peran lemak tubuh sementara.
Akhir bulan ke-3, lipatan uretra menutup dan membentuk saluran uretra (saluran kemih). Saluran ini akan terbuka sampai ujung pada akhir bulan ke-4. Hipospadia adalah keadaan akibat lipatan uretra tidak menyatu sempurna sehingga muara uretra tidak berada di ujung penis namun di dorsal penis.
Tunas-tunas untuk gigi tetap terletak pada permukaan lingual gigi susu dan dibentuk selama perkembangan bulan ke-3. Tunas tersebut tetap tidur hingga kurang lebih 6 tahun setelah lahir. Kemudian tunas-tunas gigi tetap ini mulai tumbuh, sambil mendorong sisi bawah gigi susu yang bersangkutan dan membantu perlepasannya.
Ibu :
Kehidupan Ibu sudah nyaris tanpa keluhan kehamilan. Selamat datang di trimester kedua Ibu! Pada trimester ini risiko keguguran sudah berkurang dan peningkatan berat badan sudah mulai didapatkan. Terkadang beberapa orang menyebut trimester kedua adalah Bulan Madu di kala kehamilan karena energi Ibu yang sudah kembali normal, berkurangnya keluhan muntah, dan meningkatnya rangsang libido. Rahim Ibu yang sekarang sudah berada sedikit di atas tulang pubis atau sekitar 10 cm di bawah pusar sudah terlihat membesar dari luar, menunjukkan adanya suatu bukti nyata kehidupan yang sedang bertumbuh di rahim.
Untuk beberapa wanita, efek samping dari pertumbuhan rahim adalah nyeri ligament bundar. Nyeri ligament Bundar adalah rasa nyeri tajam di satu atau kedua sisi perut yang terjadi karena meregangnya ligamen penunjang rahim. Rahim ditunjang atau digantung oleh pita ligamen tebal yang berada dari regio inguinal (selangkangan) sampai ke abdomen (perut). Ketika rahim membesar karena kehamilan, ligament penunjang tersebut teregang dan menipis guna menjaga pembesaran rahim. Nyeri ini umum terjadi bila Ibu merubah posisi tiba-tiba, berdiri dari posisi duduk atau berbaring, dan ketika batuk. Cara terbaik mengatasinya adalah berbaring dalam posisi nyaman dengan kaki diangkat lebih tinggi.
Pada Ibu hamil terdapat retensi atau peningkatan kadar cairan di mata yang menyebabkan penebalan dari kornea sehingga pandangan Ibu menjadi sedikit kabur.
Tips : Perlukah Ibu melakukan Amniosintesis?
Apakah Ibu termasuk di dalam kehamilan risiko tinggi atau memiliki faktor risiko kelainan genetik atau kromosom? Jika iya maka Ibu sebaiknya mendiskusikan pemeriksaan amniosintesis serta pemeriksaan AFP (alfa fetoprotein) bersama dokter.
Amniosintesis adalah tes prenatal yang dilakukan antara usia 15 – 20 minggu. Keakuratannya berkisar 99% di dalam mendeteksi kelainan kromosom, seperti Sindrom Down. Pemeriksaan amniosintesis juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik seperti fibrosis kistik, Sickle Cell Anemia, Tay-Sachs, dan kelainan neural tube (seperti spina bifida dan anencefali-tidak memiliki tulang tengkorak). Karena amniosintesis merupakan tindakan yang invasif (jarum yang tipis dan panjang dimasukkan ke dalam kantong amnion dan sedikit cairan ketuban diambil untuk dianalisa) dan memiliki risiko peningkatan angka keguguran (0,5%), wanita yang melakukannya adalah mereka yang memiliki faktor risiko untuk kelainan kromosom dan genetik.
AFP sendiri merupakan protein yang ditemukan dalam jumlah meningkat di air ketuban. Jumlah AFP dapat diukur dengan memeriksa darah Ibu. AFP yang abnormal mengindikasikan kelainan seperti yang disebutkan di atas. Amniosintesis dan pemeriksaan AFP sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
Tips: Radiasi bagi Ibu hamil
Tidak ada jumlah sinar radiasi yang aman untuk janin. Cara paling aman adalah menghindari radiasi seperti pemeriksaan roetngen x-ray, CT-scan, dan MRI. Bahaya pada janin adalah meningkatnya risiko mutasi dan risiko kanker. Apabila Ibu memang memiliki indikasi untuk melakukan pemeriksaan tersebut maka pastikan petugas kesehatan mengetahui kehamilan Ibu. Sebelum melakukan pemeriksaan ini konsultasikanlah terlebih dahulu dengan dokter Ibu. (Yuyun Triani, SST, M.Kes)

sumber :

             

MENGAPA ANAK SUSAH MAKAN ?






Tentu Bunda setuju , bahwa memberi makan pada anak khususnya bayi dan balita tidaklah semudah mengucapkannya atau yang dibayangkan. Hal ini dikarenakan berbagai perilaku makan balita yang seringkali menjadi hambatan atau menyulitkan pelaksanaan pemberian makan seperti menolak makan , melepeh atau memuntahkan makanan , ‘ngemut’ atau hanya menyukai satu atau beberapa jenis makanan tertentu saja .
Berbagai perilaku seperti tersebut diatas tentu saja dapat berakibat tak terpenuhinya kecukupan gizi yang akan berdampak terhadap tumbuhkembang anak . Orangtua bijak  yang memahami hal ini tentu tak akan membiarkannya begitu saja dan berusaha untuk  mencari solusi agar balitanya mempunyai tumbuhkembang optimal dan meraih berat badan ideal .
Pertanyaan pertama yang sering diajukan oleh orangtua pada dokter adalah mengapa anak saya susah makan . Pada dasarnya , penyebab masalah kesulitan makan pada anak dapat dibagi menjadi 3 golongan besar , yaitu :
1.      Faktor Organik
2.      Faktor Nutrisi
3.      Factor Psikologik

1.      Factor Organic

Yang dimaksud dengan factor organic yaitu adanya kelainan-kelainan pada organ tubuh yang turut berperan dalam proses pencernaan , dari rongga mulut meliputi bibir , gigi geligi , palatum , lidah sampai ke usus dan organ-organ yang berhubungan ( pancreas , hati ) yang kesemuanya itu dipengaruhi oleh system syaraf . Adanya kelainan atau penyakit pada organ-organ tersebut pada umumnya akan mangakibatkan gangguan atau masalah makan . Selain itu , tentunya perkembangan  keterampilan makan yang berlangsung sejak lahir  sampai usia 3 tahun merupakan suatu aspek tersendiri yang memerlukan pelatihan atau pembinaan agar anak terampil mengkonsumsi berbagai makanan . Kelainan bawaan serta penyakit infeksi  pada organ tubuh lainnya dapat pula menimbulkan masalah makan disamping menyebabkan kebutuhan energy yang meningkat . Berikut adalah beberapa kelainan dan penyakit organic yang dapat menyebabkan anak menjadi susah makan :

a.      Pada rongga mulut
●     Kelainan bawaan : labiognatopalatoskisis , makroglosus
●     Infeksi : stomatitis , caries dentis , tonsillitis akut , dan lain-lain
●     Gangguan neuromuskuler : paralisis lidah , palatum mole


b.      Pada bagian lain saluran cerna
●     Kelainan bawaan : atresia esophagus , stenosis pylorus , penyakit Hirschprung , akalasia dan lain-lain.
●     Infeksi : diare akut / kronis ,hepaitits , pancreatitis , cacing/parasit lain dan sebagainya.

c.      Pada organ tubuh lain
●     Kelainan bawaan : penyakit jantung bawaan , sindrom Down
●     Infeksi akut / kronis : ISPA , tuberculosis ,dll
●     Gangguan neuromuskuler : palsi serebral
●     Keganasan / tumor : leukemia , tumor Wilms , neuroblastoma, dll

d.      Penyakit metabolic , misalnya Diabetes mellitus , dll.

Untuk kelainan dari factor organic ini , orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mencari tahu penyebab pastinya sehingga mendapatkan terapi yang adekuat .

2.      Factor Nutrisi

Sebenarnya , berdasarkan kemampuan mengkonsumsi , memilih jenis dan menentukan jumlah makanan , balita merupakan consumer semi-pasif / semi-aktif , sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi masih bergantung pada orangtua , terutama ibu atau pengasuhnya . Pada masa ini pula terjadi perubahan pola makan dari makanan bayi ke makanan dewasa . Semua hal tersebut seringkali secara sinergis menimbulkan masalah makan yang dapat mengakibatkan terjadinya defisiensi  nutrient dan malnutrisi , yang bisa menurunkan nafsu makan sehingga asupan makanan lebih berkurang lagi . Defisiensi nutrient yang seringkali berhubungan dengan nafsu makan adalah defisiensi Zinc (seng) sebagai akibat berkurangnya ketajaman rasa .

3.      Factor Psikologik

Factor psikososial seringkali menjadi penyebab hambatan perkembangan keterampilan makan yang umumnya terjadi pada usia sejak lahir sampai 4 tahun . Diduga terdapat periode sensitive yaitu terjadi respons optimal terhadap misalnya jenis makanan , dan bila masa kritis ini terlampaui , keterampilan makan tertentu seperti mengunyah , akan lebih sulit dipelajari oleh bayi , sehingga hal ini akan berakibat timbulnya masalah makan di masa selanjutnya . Terlebih bila disertai sikap paksaan sewaktu makan , sehingga bayi / anak merasakan proses makan ini sebagai saat yang tidak menyenangkan yang akan berakibat timbulnya rasa anti terhadap makanan . Hubungan emosional antara Ibu – bayi/anak sangat penting pada terjadinya masalah makan . Selain itu , sifat yang menonjol pada masa balita adalah rasa ingin tahu segala hal di sekitarnya , dan rasa ke’aku’annya mulai timbul , sehingga perhatian terhadap makanan berkurang dan seringkali menolak saat diberi makan .
Selain itu , gangguan psikologis bisa terdapat pada anak dari keluarga yang sedang mengalami kesulitan rumahtangga , tidak pernah makan bersama orangtua , atau dipaksakan makan makanan yang tidak disukai sehingga suasana makan menjadi tidak menyenangkan lagi . Hal ini akan mengakibatkan anak menjadi kehilangan nafsu makannya atau lazim disebut dengan anoreksia . Anoreksia bisa jadi hanya bersifat sementara , sebagai variasi normal dalam nafsu makan sehari-hari  . Bisa juga anoreksia bersifat tidak sesungguhnya atau pura-pura , hal ini diindikasikan bila anak masih menyukai jenis makanan yang lain . Karena  kadang-kadang terdapat anak yang hanya menyukai jenis makanan tertentu saja dan tidak bernafsu untuk mencoba makanan yang baru , lebih-lebih pola makanan yang baru tersebut berbeda banyak dalam hal warna , bentuk , konsistensi , dibandingkan dengan makanan yang disukainya .

Tata Laksana Masalah Makan

Berikut adalah upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah makan yang disebabkan karena ketiga factor tersebut di atas :

1.      Mengatasi factor penyebab yang mendasari
2.      Mengatasi dampak yang telah terjadi , misalnya bila terjadi defisiensi gizi oleh karena anoreksia yang berlangsung cukup lama maka perbaiki defisiensi gizi tersebut dengan pengaturan makanan yang sesuai  .
3.      Meningkatkan upaya nutrisi dengan memperbaiki atau meningkatkan asupan makanan dengan cara :

i.        Memvariasikan menu sehari-hari  , perubahan rasa mungkin perlu dilakukan agar anak tidak cepat merasa bosan
ii.       Makanan disajikan dengan penampilan menarik sehingga anak akan tergerak untuk mencobanya
iii.      Berikan makanan padat gizi dan berenergi  tinggi sehingga dengan porsi kecilpun kecukupan energy/nutrient terpenuhi
iv.    Membiasakan anak makan teratur dan sebaiknya berikan makanan pada waktu anak sudah merasa lapar
v.      Tidak membiasakan ngemil / snacks sebelum makan  karena akan mengganggu timbulnya rasa lapar
vi.    Memberikan suplementasi vitamin dan mineral jika diperlukan
vii.   Menciptakan suasana makan menjadi kegiatan yang menyenangkan

4.      Melatih keterampilan makan anak sejak dini dengan cara memberikan makanan yang lebih padat secara bertahap baik konsistensi , tekstur maupun jumlahnya sesuai usia bayi . Usia antara bayi antara 6 sampai 9 bulan merupakan periode kritis dalam pembinaan makan dan rasa . Bila periode ini tidak dimanfaatkan secara optimal dapat timbul masalah makan di kemudian hari .


Berikut adalah beberapa kondisi yang sering terjadi dalam keseharian terkait dengan kesulitan memberikan makan pada masa bayi serta solusi yang dapat dilakukan di rumah :

1.      REGURGITASI dan MUNTAH

Regurgitasi adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah menyusu ASI atau minum susu botol dan jumlahnya hanya sedikit , dalam bahasa Jawa disebut juga dengan gumoh. Sedangkan muntah adalah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama makanan masuk ke dalam lambung .
Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal , terutama pada bayi muda di bawah usia 6 bulan . Pengobatannya adalah dengan memperbaiki teknik / cara menyusukan atau memberikan minum susu botol , agar tidak banyak udara tertelan . Bayi yang menyusu pada Ibunya harus dengan bibir bayi yang mencakup rapat putting dan sebagian areola payudara Ibunya . Sedang untuk bayi yang minum susu botol , perlu diperhatikan agar waktu minum susu botol tersebut , dot dan sebagian botol di atasnya penuh berisi susu . Untuk mengeluarkan udara yang tertelan , bayi ditegakkan dan ditepuk-tepuk punggungnya atau sambil ditelungkupkan pada pangkuan Ibunya atau ditidurkan miring ke sebelah kanan .
Muntah merupakan gejala yang sering berhubungan dengan factor organis , tetapi dapat pula dikarenakan factor psikologis yaitu apabila bayi tidak diperlakukan secara halus baik oleh Ibu ataupun pengasuhnya .

2.      Konstipasi

Konstipasi ialah bila frekuensi BAB berkurang dan konsistensi tinja mengeras . Bayi normal umumnya BAB 1-2 kali sehari , akan tetapi masih mungkin normal bila BAB 36-48 jam sekali , asalkan konsistensi tinjanya masih normal . Penyebabnya perlu dicari dan diberikan tindakan seperlunya . Hal ini dapat terjadi karena pengaturan makanan yang kurang baik , misalnya masukan makanan bayi muda kurang mengandung air atau gula , sedangkan pada yang berusia lebih tua biasanya karena kurang mengandung serat .

3.      PIKA

Pika adalah nafsu makan yang aneh , yaitu penderita menunjukkan nafsu makan terhadap berbagai atau salah satu obyek yang tergolong bukan makanan misalnya tanah , pasir , rumput , bulu , selimut wol , pecahan kaca , kotoran hewan , cat kering , dinding tembok dan sebagainya . Terdapat pada golongan anak dibawah umur 3 tahun , biasanya diatas satu tahun sebab bayi yang sedang belajar merangkak dan anak sapihan wajar bila memasukkan benda-benda yang dipegangnya ke dalam mulutnya . Keadaan tersebut dapat merupakan gejala normal sebagai suatu tahap perkembangan oral dalam usaha mengadakan eksplorasi dunia luar dengan jalan menggunakan mulutnya . Pada penderita pika , tingkah laku demikian sering disertai kesukaan untuk bermain dengan benda-benda kotor . Pika mungkin terdapat pada penderita yang menderita defisiensi gizi , mungkin pula pada penderita retardasi mental .
Terapi untuk penderita pika terdiri dari pengawasan yang ketat agar penderita tidak memakan benda-benda  yang mungkin berbahaya untuk kesehatannya , misalnya mengakibatkan keracunan dan infeksi . Selain itu kepada penderita diberikan obyek yang tidak berbahaya , yang dapat digunakan untuk menggigit , mengunyah dan dipermainkan dengan mulutnya . bila terdapat defisiensi gizi , hendaknya diberikan terapi yang sesuai .

Pada kenyataannya , tidak semua masalah makan dapat diatasi dengan mudah karena seringkali penyebabnya adalah multifaktorial , sehingga perlu tata laksana terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu , seperti dokter spesialis anak , bedah mulut , dokter gigi , fisioterapi/ okupasi , psikologi / psikiatri , perawat dan ahli gizi . Wallohu a’lam bishshowab.
(dr. Metty Dewi Astuti)

SEJARAH ISOLASI OBAT


INFO OBAT
Pada mulanya penggunaan obat dilakukan secara empirik dari tumbuhan, hanya berdasarkan pengalaman dan selanjutnya Paracelcus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya. Hippocrates (459-370 SM) yang dikenal dengan "bapak kedokteran" dalam praktek pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Claudus Galen (200-129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi. Selanjutnya Ibnu Sina (980-1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik. Johan Jakob Wepfer (1620-1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan. Ia merupakan orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diuji-coba secara klinik pada manusia.
Sampai akhir abad 19, obat merupakan produk organic atau anorganik dari tumbuhan yang dikeringkan atau segar, bahan hewan atau mineral yang aktif dalam penyembuhan penyakit tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu tinggi atau pada kondisi tertentu penderita. Untuk menjamin tersedianya obat agar tidak tergantung kepada musim maka tumbuhan obat diawetkan dengan pengeringan. Contoh tumbuhan yang dikeringkan pada saat itu adalah getah Papaver somniferum (opium mentah) yang sering dikaitkan dengan obat penyebab ketergantungan dan ketagihan. Dengan mengekstraksi getah tanaman tersebut dihasilkan berbagai senyawa yaitu morfin, kodein, narkotin, papaverin dll yang ternyata memiliki efek yang berbeda satu sama lain walaupun dari sumber yang sama. Dosis tumbuhan kering dalam pengobatan ternyata sangat bervariasi tergantung pada tempat asal tumbuhan, waktu panen, kondisi dan lama penyimpanan. Maka untuk menghindari variasi dosis, F.W. Sertuerner (1783-1841) pada tahun 1804 mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan sintesis secara kimia. Sejak itu berkembang obat sintetik untuk berbagai jenis penyakit.
    Pengembangan bahan obat diawali dengan sintesis atau isolasi dari berbagai sumber yaitu dari tanaman (ex: glikosida jantung untuk mengobati lemah jantung), jaringan hewan (ex: heparin untuk mencegah pembekuan darah), kultur mikroba (ex: penisilin G sebagai antibiotic pertama), urin manusia dan dengan teknik bioteknologi dihasilkan human insulin untuk menangani penyakit diabetes. Dengan mempelajari hubungan struktur obat dan aktivitasnya maka pencarian zat baru lebih terarah dan memunculkan ilmu baru yaitu kimia medicinal dan farmakologi molekuler.

Setelah diperoleh bahan calon obat, maka selanjutnya calon obat tersebut akan melalui serangkaian uji yang memakan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit sebelum diresmikan sebagai obat oleh Badan Pemberi izin. Biaya yang diperlukan dari mulai isolasi atau sintesis senyawa kimia sampai diperoleh obat baru lebih kurang US$ 500 juta per obat.
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki lebih kurang 30000 spesises tumbuhan dan 940 spesies diantaranya termasuk tumbuhan berkhasiat (180 spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional ) merupakan potensi pasar obat herbal dan fitofarmaka. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional telah dilakukan oleh nenek moyang sejak berabad lalu. Obat herbal telah diterima secara luas di Negara berkembang dan di Negara maju. Menurut WHO hingga 65% dari penduduk Negara maju dan 80% dari penduduk Negara berkembang telah menggunakan obat herbal. Faktor pendorong terjadinya penggunaan obat herbal di Negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern / sintetik untuk penyakit tertentu diantaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia. WHO sebagai badan kesehatan dunia merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker.
(Farida Yanuarti D.K, S. Farm. Apt)

 

Rabu, 07 Juli 2010

MEMPERSIAPKAN BEKAL SEKOLAH ANAK


GIZI
Setiap hari , putra atau putri kita berangkat ke sekolah . Bagi yang masih duduk di bangku TK ataupun SD , mereka tentunya belum dapat memilih jajanan sehat dan bergizi . Padahal di beberapa sekolah ada penjaja makanan yang nakal dalam artian memanfaatkan situasi dengan cara menjual makanan yang menarik dalam penglihatan anak-anak , tetapi belum tentu sehat dari segi komposisi bahan atau cara pembuatannya . Di sekolah tertentu ada yang mempunyai kebijakan untuk menyediakan sendiri jajanan anak di dalam kantin sekolah atau mempercayakannya pada pihak catering sekolah atau bahkan melarang orangtua memberikan uang saku pada anak dengan konsekuensi orangtua wajib membekali putra-putrinya dengan makanan yang dibawa sendiri dari rumah .
Membawakan bekal untuk anak terkadang menjadi dilema bagi sebagian Ibu , terutama dari sisi kerepotan dalam menyiapkan bekal di pagi hari . Sehingga tak sedikit orangtua yang membekali anaknya dengan mie goreng instan tanpa sayur atau sepotong roti yang dibeli dari tukang roti yang lewat di depan rumah . Padahal bekal yang sehat sangat penting untuk membantu meningkatkan daya konsentrasi dan daya pikir anak . Menurut pakar gizi klinik yang juga anggota dari Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia, Dr. Fiastuti Witjaksono MS, Sp.GK, setiap hari anak membutuhkan komposisi seimbang antara karbohidrat (45%-65%), protein (10%-25%), lemak (30%) dan berbagai macam vitamin. Sehari-hari lemak juga diperlukan untuk membantu tubuh menyerap vitamin A, D, E, dan K secara optimal.
Supaya bekal sekolah disantap habis oleh anak , maka diperlukan perencanaan makan yang cerdas oleh orangtua demi terciptanya pola makan yang sehat, terkontrol dan menyenangkan. Kuncinya adalah 3 J: Jumlah kalori sesuai kebutuhan, Jadwal makan yang teratur dan Jenis makanan dengan komposisi gizi yang seimbang . Dan yang lebih terpenting lagi adalah kreativitas Ibu dalam membuat variasi aneka menu yang mengandung gizi seimbang serta disukai oleh putra-putrinya .
Untuk mengetahui bekal yang disukai oleh anak , Ibu dapat mempergunakan waktu libur untuk bereksperimen membuat bekal bersama anak . Dengan melibatkannya , Ibu dapat mengetahui karakter dan makanan yang pasti disukai dan dimakan anak , hargai pendapatnya dalam memilih menu bekal dan berikan pengertian tentang gizi yang dikandung pada menu bekal tersebut. Ciptakan pula menu makanan bervariatif yang disajikan dengan penyajian yang kreatif sehingga bekal makanan tampil cantik dan menarik serta tidak membosankan . Untuk merealisasikannya , Ibu perlu menambah wawasan dengan membaca atau mengutak-atik resep yang sudah disesuaikan dengan lidah anak .
Agar praktis , semalam sebelumnya Ibu dapat menanyakan pada anak apa yang ia sukai untuk dibawa bekal sekolah besok . Kemudian Ibu dapat menyiapkan rancangan menu dan bahan-bahan pada malam sebelumnya , sehingga pada pagi harinya Ibu tinggal mengolahnya saja . Dengan sedikit strategi dan persiapan sebelumnya, Ibu dapat membuat bekal makanan yang tak hanya bergizi untuk anak tapi juga menarik dan enak.
Berikut adalah beberapa pilihan menu bekal sehat yang dapat Ibu pertimbangkan :

  1. Nasi
    Jika putra-putri anda menginginkan nasi , maka buatlah menu nasi yang praktis , sehingga Ibu tak perlu repot menyiapkannya , misalnya nasi goreng bungkus telur , supaya lengkap komposisi gizinya , Ibu dapat menambahkan aneka macam sayuran dan daging ke dalam nasi goreng tersebut . Atau Ibu juga dapat membuat nasi liwet , nasi bakar , nasi kuning yang sudah dilengkapi dengan laukpauknya.

  2. Roti
    Banyak penjual roti yang menjajakan dagangannya setiap pagi , tetapi terkadang isinya tidak variatif dan tidak lengkap gizi, jika ada roti isi daging tapi tak ada sayurnya , atau hanya roti isi keju atau coklat . Agar bekal menjadi sehat dan lengkap gizi , Ibu dapat membuat sendiri roti isi baik yang dioven atau digoreng dengan isian yang bergizi . Jika Ibu ingin yang lebih praktis , dapat memilih menu sandwich dari roti tawar siap pakai yang isinya dilengkapi dengan sumber protein hewani misalnya telur , keju , tumis cincang tuna/daging/ayam dan sumber protein nabati seperti kacang polong , jagung manis , margarine dan irisan tomat . jika Ibu memilih membeli roti isi selai atau coklat alangkah lebih baik jika dilengkapi dengan yoghurt sebagai sumber proten hewani dan buah . Jangan lupa , tampilan pun dibuat semenarik mungkin , untuk anak kecil biasanya suka dengan bentuk yang lucu .

  3. Mi / pasta
    Mi atau pasta seolah menjadi menu favorit anak , dan jujur saja orangtua juga lebih senang menyajikan mi instan karena lebih praktis . Mi atau pasta ini mempunyai kandungan yang tinggi karbohidrat dan lemak , tetapi kurang protein dan serat . Jadi , Ibu harus melengkapi dengan telur , daging , atau ikan sebagai sumber protein dan irisan sayur misalnya parutan wortel atau potongan brokoli. Selain dalam bentuk mi goring atau rebus , mi juga dapat diolah menjadi bentuk lontong atau skotel .

  4. Kue
    Ibu sebaiknya memilih kue yang sehat seperti kroket kentang yang juga diisi dengan campuran sayur ( wortel , brokoli, daun bawang , seledri , kacang polong , jagung manis) dan lebih baik lagi jika dilengkapi sepotong semangka atau melon sebagai buahnya. Jika Ibu memilih kue basah seperti kue lapis sebaiknya dilengkapi dengan yoghurt atau buah-buahan.
    (dr. Metty Dewi Astuti)

KONSULTASI KESEHATAN


MAJALAH KESEHATAN ISLAM HILAL AHMAR EDISI 36 /VI/ JUNI 2010 | Konsultasi Kesehatan


 
Assalaamu'alaikum warohmatulllohi wabarokatuh
Afwan mau tanya apa sih penyakit radang panggul apa penyebabnya dan apa solusinya
Wassalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Ummi , 02715859xxx

 
Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh
Terimakasih atas pertanyaannya Ummi . Pihak redaksi sebelumnya meminta maaf karena baru dapat memuat pertanyaan Ummi , hal ini dikarenakan cukup banyak sms yang dikirimkan , sehingga mohon bersabar untuk pemuatannya, Semoga Ummi dan pembaca lain yang sudah mengirimkan sms untuk rubric ini dapat memakluminya .
Penyakit radang panggul atau Pelvic Inflammation Disease adalah terjadinya infeksi yang dapat menyerang tuba falopii (saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim), endometrium , ovarium , parametrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri dimana bakteri masuk melalui vagina dan bergerak ke rahim lalu ke tuba fallopii dan organ sekitarnya. 90-95% kasus PID disebabkan oleh bakteri yang juga menyebabkan terjadinya penyakit menular seksual (misalnya klamidia, gonore, mikoplasma, stafilokokus, streptokokus).
Gejala yang dirasakan oleh penderita adalah nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai dengan sakit kepala , badan terasa panas sekali dan lemas . Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada PID adalah : Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang abnormal , berupa nanah . Untuk memastikan diagnosanya , perlu dilakukan pemeriksaan USG , dan beberapa pemeriksaan laboratorium lainnya untuk kemudian mengkonsultasikan hasilnya pada dokter spesialis kandungan terdekat . Wallohu a'lam bish showab.
(dr. Metty Dewi Astuti)

 

Reaksi Tranfusi


MAJALAH KESEHATAN ISLAM HILAL AHMAR EDISI 36 /VI/ JUNI 2010 | Reaksi Tranfusi


 
TUBUH KITA
Oleh : Ami Misbah
Transfusi darah adalah tindakan memasukkan darah atau komponennya ke dalam sistim pembuluh darah seseorang. Komponen darah yang biasa ditransfusikan ke dalam tubuh seseorang adalah sel darah merah, trombosit, plasma, sel darah putih. Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuan menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalam jumlah yang tidak mencukupi. Tentu saja transfusi darah hanya merupakan pengobatan simptomatik karena darah atau komponen darah yang ditransffusikan hanya dapat mengisi kebutuhan tubuh tersebut untuk jangka waktu tertentu tergantung pada umur fisiologi komponen yang ditransfusikan; walaupun umur eritrosit adalah 120 hari namun bila ditransfusikan pada orang lain maka kemampuan transfusi tadi mempertahankan kadar hemoglobin dalam tubuh resipien hanya rata-rata satu bulan.
Tindakan transfusi darah atau komponennya bukanlah tindakan tanpa risiko; sebaliknya tindakan ini merupakan tindakan yang mengandung risiko yang dapat berakibat fatal. Risiko transfusi darah ini dapat dibedakan atas reaksi cepat dan lambat.
Reaksi Cepat

Reaksi akut adalah reaksi yang terjadi selama transfusi atau dalam 24 jam setelah transfusi. Reaksi akut dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan, sedang-berat dan reaksi yang membahayakan nyawa. Reaksi ringan ditandai dengan timbulnya pruritus (gatal), urtikaria dan rash. Reaksi ringan ini disebabkan oleh hipersensitivitas ringan. Reaksi sedang-berat ditandai dengan adanya gejala gelisah, lemah, pruritus, palpitasi, sesak nafas ringan dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya warna kemerahan di kulit,  urtikaria,  demam,  takikardia,  kaku otot. Reaksi ringan diatasi dengan pemberian antipiretik (penurun panas), antihistamin (anti alergi) atau kortikosteroid, dan pemberian transfusi dengan tetesan diperlambat.
Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh hipersensitivitas sedang-berat, demam akibat reaksi transfusi non-hemolitik (antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit), kontaminasi pirogen dan bakteri.
Pada reaksi yang membahayakan nyawa ditemukan gejala gelisah, nyeri dada, nyeri di  sekitar tempat masuknya  infus, napas pendek, nyeri punggung, nyeri kepala, dan dispnea. Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah, penurunan tekanan darah (turun ≥20% tekanan darah sistolik), takikardia (naik ≥20%), hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak jelas. Reaksi ini disebabkan oleh hemolisis intravaskular akut, kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan cairan, anafilaksis dan gagal paru akut akibat transfusi.
Hemolisis intravaskular akut

Reaksi hemolisis intravaskular akut adalah reaksi yang disebabkan inkompatibilitas sel darah merah. Antibodi dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang inkompatibel. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50 ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat. Semakin banyak volume darah yang inkompatibel maka akan semakin membahayakan.
Penyebab terbanyak adalah inkompatibilitas ABO. Hal ini biasanya terjadi akibat kesalahan dalam permintaan darah, pengambilan contoh darah dari pasien ke tabung yang belum diberikan label, kesalahan pemberian label pada tabung dan tidak telitinya pemeriksaan identitas pasien sebelum transfusi. Selain itu penyebab lainnya adalah adanya antibodi dalam plasma pasien melawan antigen golongan darah lain (selain golongan darah ABO) dari darah yang ditransfusikan.
Jika sel darah merah yang keliru diberikan kepada yang salah, pasien, kemungkinan inkompatibilitas ABO adalah sekitar satu dari tiga. Reaksi ini biasanya paling parah jika grup A sel darah merah yang menanamkan ke grup O pasien. Bahkan beberapa mililiter darah ABO tidak kompatibel dapat menyebabkan gejala dalam beberapa menit yang akan diperhatikan oleh pasien sadar.
Jika sadar, gejala dan tanda biasanya timbul dalam beberapa menit awal transfusi, kadang-kadang timbul jika telah diberikan kurang dari 10 ml. Yang paling berat dari reaksi transfusi sel-merah yang tidak kompatibel dengan hemolisis intravaskular yaitu dimediasinya pelepasan amina vasoaktif (misalnya histamin) dan beberapa sitokin, yang menyebabkan vasodilatasi, hipotensi, dan kontraksi usus halus, otot bronchial.
Jika tidak sadar atau dalam anestesia, hipotensi atau perdarahan yang tidak terkontrol mungkin merupakan satu-satunya tanda inkompatibilitas transfusi. Pengawasan pasien dilakukan sejak awal transfusi dari setiap unit darah.

 
Demam Non-Hemolytic Transfusi Reaction (FNHTR)

 
FNHTRs adalah efek samping yang paling sering dijumpai pada transfusi. Ditandai dengan peningkatan suhu ≥ 1 º C (2 º F) yang dihubungkan dengan transfusi, mereka juga dapat disertai dengan menggigil / kaku, hipertensi, takikardi dan dispnea. Gejala tersebut paling sering timbul menjelang akhir dari transfusi atau dalam waktu dua jam pasca tranfusi. Demam dapat diobati dengan antipiretik dan meperidin telah dikatakan efektif dalam terapi farmakologis reaksi ini.
Kelebihan cairan

Kelebihan cairan menyebabkan gagal jantung dan edema paru. Hal ini dapat terjadi bila terlalu banyak cairan yang ditransfusikan, transfusi terlalu cepat, atau adanya penurunan fungsi ginjal. Kelebihan cairan terutama terjadi pada pasien dengan anemia kronik dan memiliki penyakit dasar kardiovaskular.
Reaksi anafilaksis

Risiko meningkat sesuai dengan kecepatan transfusi. Sitokin dalam plasma merupakan salah satu penyebab bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu. Selain itu, defisiensi IgA dapat menyebabkan reaksi anafilaksis sangat berat. Hal itu dapat disebabkan produk darah yang banyak mengandung IgA. Reaksi ini terjadi dalam beberapa menit awal transfusi dan ditandai dengan syok, distress pernapasan dan tanpa demam. Anafilaksis dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat dan agresif dengan vasopresor.
Cedera paru akut akibat transfusi (Transfusion-associated acute lung injury = TRALI)

Cedera paru akut disebabkan oleh plasma donor yang mengandung antibodi yang melawan leukosit pasien. Biasanya dalam waktu enam jam transfusi, pasien mengembangkan sesak napas dan batuk non-produktif, demam dan hipotensi juga dapat ditemukan. Dengan gambaran foto toraks khas menunjukkan infiltrat nodular bilateral dalam pola batwing. Kehilangan volume sirkulasi dan hipotensi sering terjadi. Tidak ada terapi spesifik, namun diperlukan observasi dan bantuan pernapasan di ruang rawat intensif.
Reaksi Lambat

Reaksi hemolitik lambat

Reaksi hemolitik lambat timbul 5-10 hari setelah transfusi dengan gejala dan tanda demam, anemia, ikterik dan hemoglobinuria. Reaksi hemolitik lambat yang berat dan mengancam nyawa disertai syok, gagal ginjal dan DIC jarang terjadi. Pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium antibodi sel darah merah dalam plasma pasien dan pemilihan sel darah kompatibel dengan antibodi tersebut.
Purpura pasca transfusi

Purpura pasca transfusi merupakan komplikasi yang jarang tetapi potensial membahayakan pada transfusi sel darah merah atau trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen spesifik trombosit pada resipien. Lebih banyak terjadi pada wanita. Gejala dan tanda yang timbul adalah perdarahan dan adanya trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila hitung trombosit <100.000/uL. Penatalaksanaan penting terutama bila hitung trombosit ≤50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit 20.000/uL. Pencegahan dilakukan dengan memberikan trombosit yang kompatibel dengan antibodi pasien.
Penyakit graft-versus-host

Komplikasi ini jarang terjadi namun potensial membahayakan. Biasanya terjadi pada pasien imunodefisiensi, terutama pasien dengan transplantasi sumsum tulang; dan pasien imunokompeten yang diberi transfusi dari individu yang memiliki tipe jaringan kompatibel (HLA: human leucocyte antigen), biasanya yang memiliki hubungan darah. Gejala dan tanda, seperti demam, rash kulit dan deskuamasi (pengelupasan), diare, hepatitis, pansitopenia, biasanya timbul 10-12 hari setelah transfusi. Tidak ada terapi spesifik, terapi hanya bersifat suportif.
Kelebihan besi

Pasien yang bergantung pada transfusi berulang dalam jangka waktu panjang akan  mengalami akumulasi besi dalam tubuhnya (hemosiderosis). Biasanya ditandai dengan gagal organ (jantung dan hati). Tidak ada mekanisme fisiologis untuk menghilangkan kelebihan besi. Obat pengikat besi seperti desferioksamin, diberikan untuk meminimalkan akumulasi besi dan mempertahankan kadar serum feritin <2.000 mg/l.
Penularan Penyakit

Berbagai mikroorganisme dapat ditularkan melalui transfusi; yang terutama adalah 1) hepatitis (B+C), 2) sifilis, 3) malaria, 4) virus seperti CMV, EDV sampai dengan HIV. Penularan virus HIV melalui transfusi telah banyak dilaporkan antara lain oleh Allani (1987), Alter (1987) dan Allen (1987). Risiko tertular oleh HIV akibat transfusi dengan darah donor yang mengandung HIV amat besar yaitu lebih dari 90%; artinya bila seseorang mendapat transfusi darah yang terkontaminasi HIV, maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan akan menderita infeksi HIV sesudah itu. Pada mulanya prevalensi transmisi melalui transfusi darah cukup tinggi di Amerika Serikat dan di Eropa Barat, karena itu penyaringan terhadap HIV merupakan tindakan rutin di belahan dunia tersebut. Di Indonesia penyaringan terhadap HIV sebagai prasyarat transfusi belum dapat dilaksanakan mengingat terbatasnya dana yang tersedia. Pemberian transfusi darah maupun komponen-komponennya atas indikasi yang tepat merupakan salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan penularan HIV melalui transfusi.
(Ami Misbah)

PAT GULIPAT PSIKOPAT


MAJALAH KESEHATAN ISLAM HILAL AHMAR EDISI 36 /VI/ JUNI 2010 | PAT GULIPAT PSIKOPAT



SEHAT MENTAL
"Psychopaths as intraspecies predators. Use charisma, manipulation, intimidation, sexual intercourse and violence to control others and to satisfy their own needs. Lacking in conscience and empathy, they take what they want and do as they please, violating social norms and expectations without guilt or remorse" (Hare)
    Apakah anda psikopat? Apakah pemimpin anda psikopat? Apakah orang-orang terdekat anda psikopat? Apakah psikopat bisa diobati?
    Psikopat adalah gangguan kepribadian yang digambarkan sebagai kehilangan empati yang tidak normal yang digabungkan dengan tingkah laku tidak bermoral yang kuat, ditutupi dengan suatu kemampuan untuk seolah-olah terlihat normal.
    Peneliti, Robert Hare, pemilik Hare Psychopathy Checklist yang digunakan secara luas, menjelaskan psikopat sebagai "intraspecies predators" (pemangsa dalam spesies). Selanjutnya Hare dan yang lain menulis bahwa psikopat menggunakan karisma, manipulasi, intimidasi, hubungan seksual dan kekerasan untuk mengontrol yang lain dan memuaskan kebutuhan diri sendiri. Hare menyatakan bahwa,"kehilangan suara hati dan empati, mereka mengambil apa yang mereka inginkan dan bertindak seperti apa yang mereka persilahkan, mengacaukan norma sosial dan harapan tanpa merasa bersalah atau penyesalan".
    Menurut Hare, banyak psikopat adalah fasih dan menarik tampilan luarnya dan peniru hebat emosi manusia normal, beberapa psikopat dapat mencampurnya, tidak terdeteksi, dalam beraneka ragam lingkungan, termasuk lingkungan bersama.
    Menurut beberapa ahli, tidak ada penyembuhan atau pengobatan yang manjur bagi psikopat, hanya sedikit pengobatan yang dapat menanamkan empati dalam hati, sementara psikopat yang dalam terapi bicara tradisional menjadi lebih mahir dalam memanipulasi orang lain. Menurut Hare, kesepakatan antara ahli dalam bidang ini bahwa psikopat berasal dari gangguan saraf spesifik yang secara biologis berasal dan ada sejak lahir. Diperkirakan kurang lebih 1% dari populasi umum adalah psikopat.

 
Ciri
Psikopat memiliki kekurangan atau penyimpangan dalam beberapa hal; hubungan antar personal, emosi, dan kontrol diri sendiri. Psikopat mencapai kepuasan melalui tingkah laku anti sosial, dan tidak memiliki rasa malu, bersalah, atau menyesal atas kegiatannya. Psikopat kehilangan rasa bersalah atau menyesal untuk berbagai hal yang menyakitkan yang mereka lakukan terhadap orang lain, melakukan pembenaran tingkah lakunya, menyalahkan orang lain, atau penolakan langsung. Psikopat juga kehilangan empati terhadap orang lain secara umum, menghasilkan ketidakbijaksanaan, tidak peka, dan penghinaan. Semua ketidaksesuaian ini merupakan kecenderungan mereka untuk membuat seolah-olah baik, seperti kesan pertama. Psikopat memiliki daya tarik luar tentang mereka, mampu berbicara sesuatu tanpa peduli ketepatan atau kebenarannya.
Dijelaskan juga bahwa psikopat cenderung merupakan emosi yang asli untuk hidup yang pendek dan egosentris dengan seluruh tingkah laku yang dingin. Tingkah lakunya impulsive (menuruti kata hati) dan tidak rasional, sering gagal memelihara pekerjaan atau ketidaksanggupan membayar kewajiban. Psikopat juga memiliki rasa yang berkebalikan dengan potensi akibat dari aksi mereka, tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Mereka tidak mengenal secara baik resiko ditangkap, tidak dipercaya atau terluka akibat tingkah laku mereka.

 
Penyebab
Penelitian menyatakan bahwa psikopat memiliki unsur genetis yang kuat. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan tingkah laku anti sosial dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok; anak yang disebut mendapat tingkah laku dari pengaruh genetis dan anak yang disebut memperoleh nya dari lingkungan.

 
Kenapa bisa terjadi psikopat
Studi sekarang memicu teori dalam menentukan apakah terdapat hubungan biologis antara otak dan psikopat. Salah satu teori mengatakan bahwa psikopat berhubungan dengan amygdale, yang berkaitan dengan reaksi emosi dan pembelajaran emosi, dan cortex prefrontal, yang berkaitan dengan kontrol impuls (suara hati), pengambilan keputusan, pembelajaran emosi dan adaptasi tingkah laku. Beberapa penelitian menunjukkan terdapat sedikit 'grey matter' (bahan abu-abu) di area tersebut pada penderita psikopat dibanding non psikopat.
    Terdapat bukti DT-MRI pada hubungan "white matter" (bahan putih) antara dua area penting tersebut pada penelitian di Inggris dengan sample 9 kriminal psikopat. Bukti ini menyatakan bahwa derajat ketidaknormalan adalah bermakna dengan derajat psikopat dan mungkin menjelaskan tingkah laku yang menyakitkan.
    Review pada tahun 2008 menemukan berbagai ketidaknormalan yang dilaporkan dalam rujukan literature, berpusat pada prefrontal-temporo-limbic circuit-regions yang berkaitan dengan proses emosi dan pembelajaran, seperti banyak proses lainnya. Akan tetapi, para peneliti melaporkan bahwa orang yang diklasifikasikan psikopat tidak dapat secara fakta dilihat sebagai kelompok homogen (memiliki kesamaan seluruh karakter) dan bahwa hubungan antara perubahan struktur dengan psikopat tidak dapat diambil kesimpulan penyebab. Mereka menyimpulkan bahwa ciri psikopat melibatkan proses multifaktor termasuk faktor saraf (neurobiological), keturunan (genetis), epidemiologi, dan sosiobiografi (kehidupan seseorang dalam masyarakat).

 
Diagnosa
Sekarang ini, tidak ada kriteria diagnostik pada Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorder for psychopathy. Julukan seseorang sebagai psikopat membutuhkan pengukuran forensic, menggunakan alat diagnostic seperti the Hare Psychopaty Checklist (PCL-R). PCL-R ini secara luas dianggap standar emas untuk menilai psikopat. Psikopat berkorelasi secara kuat dengan DSM-IV antisocial personality disorder (ASPD) atau gangguan kepribadian anti sosial, dan ICD-10 antisocial personality disorder and dissocial personality disorder (DPD).

 
Hare Psychopathy Checklist
Daftar berikut ini hanya untuk tujuan penelitian, dan tidak digunakan dalam diagnosa klinis. Item-item berikut ini menggambarkan affektif, interpersonal dan tingkah laku. Setiap item dinilai nol sampai dua. Jumlah total akan menentukan pribadi psikopat yang berkelanjutan.
Faktor 1 : Aggressive narcissism. 1. Kefasihan/daya tarik permukaan.2. Rasa kemuliaan harga diri. 3. Berbohong yang patologis. 4. Licik/manipulatif (menyelewengkan). 5. Kehilangan rasa menyesal atau rasa bersalah. 6. Emosi yang dangkal. 7. Kehilangan empati. 8. Gagal menerima tanggungjawab atas tindakannya sendiri.
Faktor 2 : Gaya Hidup Sosial yang Menyimpang. 1. Perlu rangsangan/cenderung bosan. 2. Gaya hidup parasit. 3. Kontrol tingkah laku yang miskin. 4. Kehidupan seksual yang kacau. 5. Tidak realistis, tujuan jangka panjang. 6. Menuruti kata hati atau seenaknya sendiri. 7. Tidak bertanggungjawab. 8. Perbuatan melanggar hukum ketika muda. 9. Masalah tingkah laku yang awal. 10. Pembatalan apa yang telah dilepaskan.
Perangai yang tidak berhubungan dengan faktor lain : 1. Hubungan pernikahan yang pendek. 2. Kecakapan melakukan tindakan kriminal.

 
Skrening
Berikut ini indikasi pada anak-anak yang terlihat tidak sebagai tipe tingkah laku, tetapi sebagai tiada belas kasihan dan kejadian yang tidak berubah. Tidak semua harus terjadi, tetapi paling sedikit beberapa diantaranya ada pada periode umur tertentu:

  • Perkembangan yang lebih cepat sadisme, sering diekspresikan dengan menganiaya binatang.

  • Periode bedwetting/ngompol yang berkelanjutan pada usia sebelum sekolah tidak berkaitan dengan masalah medis.

  • Kebutuhan menyiapkan api yang patologis dengan maksud pembunuhan manusia. Jangan dikacaukan dengan bermain korek api, yang tidak umum dilakukan anak sebelum sekolah. Ini dengan sengaja menyiapkan api yang merusak dengan tujuan mutlak barang-barang dan kehidupan orang lain.

  • Berbohong, sering tanpa objek yang nyata. Kebohongan begitu berkembang sering tidak mampu untuk membedakan antara kebohongan dan kebenaran.

  • Mencuri dan membolos.

  • Menyerang teman sebaya, tidak hanya fisik, namun termasuk membuat yang lain dalam masalah atau kampanye penderitaan psikologis.

 
Tiga indicator-bedwetting, menganiaya binatang, dan bermain api, dikenal sebagai Macdonald triad- yang pertama kali dijelaskan oleh J.M.MacDonald sebagai bendera merah indicator psikopat dan tingkah laku agresif di masa mendatang. Akan tetapi, penelitian yang lain menemukan bahwa bedwetting bukan merupakan faktor yang bermakna.

 
Tatalaksana
Dalam klinis, dokter ahli jiwa jarang merawat pribadi psikopat sehingga mereka dianggap tidak dapat di rawat dan terbukti interfensi tidak manjur. Dalam situasi pesimis perawatan pasien masih dilakukan di rumah sakit jiwa, dan para peneliti mengindikasikan bahwa beberapa pribadi menunjukkan perbaikan ketika perawatan yang tepat dilakukan, dan terapi yang lebih lama sering menghasilkan hasil yang lebih baik.
Ditunjukkan bahwa hukuman dan tehnik modifikasi tingkah laku tidak memperbaiki sikap psikopat. Pribadi psikopat secara teratur diamati menjadi lebih licik dan lebih baik menghindari tingkah laku mereka. Dinyatakan bahwa pendekatan terapi tradisional secara aktual; membuat psikopat lebih mahir memanipulasi orang lain. Para psikopat dianggap tidak hanya tidak bisa disembuhkan tetapi juga tidak bisa dirawat.
Diperkirakan hampir 1% dari populasi umum adalah psikopat. Dan kita berharap semoga kita termasuk yang 99%, sebagai pribadi yang sehat raga dan sehat jiwa.
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tidak pernah puas. Amin.
(dr. Sunardi)