Senin, 15 Agustus 2011

PENYAKIT – PENYAKIT DEFISIENSI GIZI DI INDONESIA ( bag II )

PENYAKIT – PENYAKIT DEFISIENSI GIZI
DI INDONESIA  ( bag II )

2. Defisiensi Vitamin A
Defisiensi vitamin A di Indonesia telah diselidiki sejak permulaan abad XX dalam rangka penelitian gizi para karyawan perkebunan colonial . Setelah fungsi dan pathologi dari defisiensi vitamin A semakin banyak diketahui dan banyak ahli yang mengadakan penelitian kesehatan gizi vitamin A , menjadi semakin jelas bahwa kasus defisiensi vitamin A di Indonesia terdapat cukup banyak . 

Gejala-gejala defisiensi vitamin ini yang menimbulkan kekhawatiran para ahli kesehatan dan gizi adalah yang berhubungan dengan kondisi mata , sedangkan gejala-gejala yang menyerang system tubuh lainnya tidak memberikan gambaran yang menggugah kekhawatiran tersebut di atas . Tidak ada laporan penderita defisiensi vitamin A yang meninggal secara jelas disebabkan langsung oleh penyakit tersebut . 

Gambaran defisiensi vitamin A yang menyangkut kondisi mata disebut Xerophthalmia . Ternyata banyak kasus  Xerophthalmia yang berakibat gangguan penglihatan yang permanen , bahkan sampai jadi buta , terutama terdapat pada kelompok umur dewasa muda , padahal kondisi ini dapat diobati atau dihindarkan dengan mudah dan biaya murah.

Factor-faktor penyebab defisiensi vitamin A ini multiple , tidak saja terletak di dalam jangkauan para profesional kesehatan , melainkan juga banyak factor yang merupakan kompetensi keahlian diluarnya . Defisiensi vitamin A primer disebabkan oleh kekurangan vitamin tersebut , sedangkan defisiensi sekunder karena absorpsi dan utilisasinya yang terhambat . Konsumsi vitamin A dan prekursornya kurang , karena kebiasaan makan yang salah , tidak suka makan sayur dan buah , atau karena daya beli yang rendah , tidak sanggup membeli bahan makanan hewani maupun nabati yang kaya vitamin A dan karotin tersebut . 

Sebenarnya kekurangan sumber karotin tidak perlu terjadi karena sayur daun berwarna hijau di Indonesia terdapat banyak sepanjang tahun dengan harga cukup terjangkau oleh rakyat pada umumnya , atau dapat diproduksi sendiri di halaman atau di kebun sekitar rumah bagi sebagian besar dari masyarakat kita di pedesaan . Hambatan absorpsi vitamin A dan karotin terjadi karena hidangan rata-rata rakyat umum di Indonesia mengandung rendah lemak dan protein , yang diperlukan dalam metabolism vitamin A . Penyakit yang menyebabkan dirrhoea dan steathorrhoea juga menghambat penyerapan vitamin A dengan prekursornya . Sebagian besar kasus defisiensi vitamin A di Indonesia menyangkut anak balita , karena konsumsi kurang dan hambatan absorpsi . 

DIAGNOSA DAN PREVENSI

Diagnose defisiensi vitamin A terutama berdasarkan parameter Xerophthalmia , ditunjang oleh hasil pemeriksaan gejala-gejala kulit dan kadar vitamin A dan karotin di dalam plasma . Anamnesa konsumsi dapat pula menunjang diagnose sebagai tambahan .
Para ahli dari WHO telah menentukan berbagai criteria xerophthalmia untuk menilai kondisi kegawatan defisiensi vitamin A , yang diderita suatu populasi . Dengan melihat pergeseran frekuensi gejala-gejala tersebut , dapat dipantau perubahan-perubahan yang terjadi sebagai hasil upaya perbaikan .

Kadar vitamin A di dalam darah yang dianggap normal di Indonesia adalah 20ug/dl atau lebih . Kadar kurang dari 10 ug/dl sudah dianggap menderita defisiensi vitamin A , dan besar kemungkinan sudah terlihat gejala-gejala xerophyhalmia. Kadar vitamin A di dalam plasma pada kondisi defisiensi sering rendah sekali , sampai mencapai sekitar 0 ug/dl .
Terapi dapat dilakukan dengan pemberian vitamin A , yang memberikan hasil perbaikan yang dramatis dalam 1-2 hari . Dosis 5 x 20.000 SI oral untuk satu minggu atau suntikan depot 100.000 SI intramuskuler sebagai oneshot memberikan hasil yang sama . Tetapi selalu mempergunakan preformed vitamin A dan tidak pernah dipergunakan precursor karotin . Penyerapan dan utilisasi karotin memerlukan waktu lebih lama dan memperlihatkan efisiensi lebih rendah dibandingkan dengan preformed vitamin A . Kalau tidak terdapat gangguan fungsi usus , vitamin A dosis oral dalam vehikel minyak memberikan efek lebih baik dibandingkan dengan dosis intramuscular .  

Di dalam masyarakat upaya prevensi ini dilakukan dengan pemberian massive dose 200.000 SI dalam soft capsul , diperkuat 40 mg vitamin E , dilarutkan dalam minyak. Vitamin E meningkatkan efisiensi absorpsi dan utilisasi vitamin A . Dosis ini sanggup meningkatkan kadar vitamin A di dalam darah untuk waktu 6-9 bulan . Upaya preventif diberikan pada balita di daerah dengan defisiensi vitamin  A yang endemic . Karena ada bahaya menderita hypervitaminosis A bila dosis terlalu tinggi atau terlalu sering , maka pencatatan pemberian vitamin A harus dilakukan dengan cermat di dalam KMS ( Kartu Menuju Sehat ).

Pada tahun 1985 , pemerintah mempertimbangkan untuk melakukan fortifikasi MSG ( Monosodium Glutamat ) dengan vitamin A . Penggunaan MSG sebagai carrier sebenarnya masih dipersengketakan oleh sebagian ahli gizi , karena dikhawatirkan memberikan efek samping yang merugikan . Di beberapa negara maju , bahkan MSG telah dilarang untuk dipergunakan sebagai campuran dalam jenis-jenis minuman tertentu yang dibotolkan . Sebaiknya kita harus tetap berhati-hati dalam mempergunakan bahan makanan yang dilaporkan memberikan efek negative  dalam jangka panjang . Penulis sendiri termasuk yang tidak menyetujui penggunaan MSG sebagai carrier dalam fortifikasi vitamin A .

Jumlah penderita defisiensi vitamin A di Indonesia sudah sangat menyusut sejak dilakukan upaya preventif oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu . Tampaknya upaya pemerintah dalam menanggulangi defisiensi vitamin A berhasil . Namun demikian , perbaikan susunan konsumsi masih memerlukan waktu dan upaya fortifikasi dengan cara yang lebih aman dan lebih baik. (bersambung , insya ALLOH )dr. Mety Dewi Astuti  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar