Minggu, 24 April 2011

DOA KETIKA SAKIT

Majalah Hilal Ahmar EDISI 40/VI/ OKTOBER 2010
SEHAT UTAMA


DOA KETIKA SAKIT





Badan sakit, setiap muslim pernah mengalami. Mulai dari yang dianggap ringan seperti pusing, sakit kepala, perut kembung, batuk pilek, diare, nyeri otot, luka. Sampai yang perlu pengobatan khusus dan jangka panjang seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hepatitis, keganasan, patah tulang, stroke, jantung, dan masih banyak jenis penyakit lainnya.



Sakit tidak mengenal waktu. Ketika anda dalam situasi yang memerlukan kesehatan fisik, tiba-tiba anda diberi ujian berupa sakit. Ketika anda banyak waktu longgar, anda dalam keadaan sehat walafiat. Sakit juga tidak mengenal tempat. Di wilayah yang seharusnya kita sehat, kita diberi ganjaran sakit. Sementara ketika kepingin istirahat total, badan malah segar bugar. Sakit juga tidak mengenal umur. Ketika usia bayi dan balita, banyak yang sakit. Ketika usia sekolah, banyak yang suka meminta surat keterangan sakit pada dokter untuk bolos sekolah. Pada usia produktif, malah banyak pekerja atau buruh yang karena sulitnya libur, minta surat dokter supaya bisa istirahat. Dan para manula yang terkena masalah hukum, sering menjadikan sakit sebagai tameng untuk istirahat di rumah sakit. Sakit juga tidak mengenal situasi ekonomi kita. Saat betul-betul miskin, tak ada uang sepeserpun di kantung, kita malah jatuh sakit, rawat inap lagi. Sementara ketika uang banyak di kantung, yang bisa dipakai untuk memanjakan badan, tubuh kita juga ikut-ikutan banyak terkena penyakit. Itulah sakit, yang datang tidak kita undang, perginya sering kita tendang secara paksa.

Padahal, sakit adalah saat dimana orang disayang Allah. Karena Allah berada di sisinya. Dihapuskan dosanya, bahkan diangkat ke derajat yang tinggi. Terus supaya ketika kita sakit semua bisa kita kerjakan, semua bisa kita nikmati. Bagaimana caranya?

Inilah masalah besar. Mari kita perhatikan penderitaan orang yang terkena penyakit stroke. Dia tidak bisa berjalan sendiri, hanya bisa memakai alat bantu. Dia tidak cakap memakai baju, mandi, buang air besar dan buang air kecil. Persis seperti bayi merah yang tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Dengan mudah semua orang bisa mengatakan; sabar kepada pasien ini dan keluarganya. Belum masalah ekonomi karena suami yang terkena stroke ini tidak bisa bekerja lagi. Siapa yang harus bertanggungjawab? Para dokter, para pengusaha, para alim ulama, para penguasa atau kita? Berapa persen dalam Negara ini keluarga yang mengalami penderitaan seperti itu?

Mari kita amati, kesakitan seseorang yang terkena kanker atau tumor ganas. Dimanapun target serangan tumor ganas, entah di otak, di paru-paru, di kerongkongan, di payudara, di kulit, di tulang, di hati, di rahim, di mata, di usus, dan lain sebagainya. Semua pasien mengalami kesakitan yang luar biasa dan terjadi terus menerus! Sudah ludes kantung uang mereka untuk berobat. Sudah kering air mata mereka menahan rasa sakit yang mendera. Entah berapa tahun lagi penderitaan ini akan berakhir.

Ayo kita kunjungi orang yang menderita cedera tulang belakang hingga lumpuh ke dua kakinya. Kita saksikan dia tergeletak bagai boneka besar. Yang harus dibantu oleh istri atau keluarganya. Setelah itu sampai seterusnya, dia tidak bisa apa-apa kecuali di ranjang atau dikursi roda. Roda kehidupan seolah-olah berhenti. Satu atau dua tahun, cukup sabar untuk mendampingi sang suami, tetapi kemudian apakah sang istri tidak menderita karena tidak mendapat nafkah lahir dan batin dari sang suami? Cerai atau terus mendampingi atas nama kesetiaan atau syar’i?

Silahkan sendirian datang ke rumah sakit jiwa. Dan lihatlah secara kasat mata perilaku para penderita sakit jiwa. Bicara tidak nyambung, mematung, ngamuk, lupa anak dan istri, tampak sedih dan menderita betul, dan terbelahnya jiwa, tidak punya akal. Sampai kapan mereka akan mengalami penderitaan ini. Hatta beban dien/agama pun mereka sudah dibebaskan dari tanggung jawab. Karena syaratnya beribadah adalah berakal. Keluarga siapa yang sanggup merawat anggota keluarganya sampai akhir hidupnya?

Kemana lagi kita akan pergi? Mari kita pergi ke pemukiman kumuh di dekat rumah kita atau kantor kita atau masjid kita atau kelompok kita atau masyarakat kita. Saksikan dengan cermat seorang yang menderita penyakit tuberkulosa. Tubuh kurus dan kering, karena tidak ada ceritanya kurus itu basah. Badan tidak pernah fit, selalu tidak enak badan. Mudah lelah jika bekerja, sehingga tidak bisa produktif, akhirnya anak istri menjadi terjebak dalam situasi kesulitan. Ditambah lagi penyakit ini menular ke anak dan istrinya, bagai deret bilangan yang terus menerus bertambah.

Masih banyak lagi tempat yang bisa kita kunjungi. Pasien yang mengalami kegagalan ginjal. Dia harus cuci darah setiap saat, rutin dan biasanya memakan biaya yang tidak sedikit. Ketika terlambat, bahan yang harusnya dikeluarkan tubuh akan meracuni. Begitu seterusnya hingga ajal menjemput. Sempurnalah penderitaannya ketika seluruh hartanya habis untuk biaya pengobatan.

Ternyata ada tempat yang istimewa, yatu panti rehabilitasi. Saksikanlah dengan kepala dingin, berbagai varian bentuk anak-anak yang mengalami cacat sejak lahir, baik mental maupun fisik. Bagaimana anak ini akan mengarungi masa depan nantinya? Istimewa, karena anda akan melihat bentuk ciptaan Allah dengan segala variasinya. Anda bisa syukur atau malah sebaliknya.


Masih banyak jenis penyakit yang menyebabkan penderitanya akan mengalami hal yang sulit sampai akhir ajalnya. Beraneka ragam temuan pengobatan terkini untuk menyembuhkannya. Namun tidak semua penyakit bisa sembuh sempurna. Tidak cukup akal kita untuk menghadapinya. Yang dibutuhkan adalah tuntunan dari Sang Pencipta tubuh kita dan yang Memberikan Sakit kepada tubuh kita agar kita bisa menikmati hari demi hari penuh dengan kesabaran.


Kenapa Harus Berdoa?

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nilmat)-Ku.” (Al Baqarah 152).

“Dan Rabb berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin : 60).

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam qalbumu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf 205).

Abdullah bin Bisrin ra meriwayatkan bahwa seseorang berkata,”Wahai Rasulullah, sungguh syariat Islam telah banyak atasku maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang dapat saya lakukan terus menerus.” Rasulullah lalu bersabda,”Buatlah mulutmu selalu basah dengan zikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Doa merupakan bentuk pengakuan bahwa manusia tidak memiliki apa pun, semua harus dikembalikan kepada-Nya, hanya bersandar kepada-Nya, memohon perlindungan-Nya dari tipu daya setan serta kelemahan jiwa dan dari segala macam kejahatan makhluk-Nya, serta dari segala macam marabahaya dan musibah, yang semua itu berada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan qalbu mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d 28).


Doa Ketika Sakit

Utsman bin Abi Al-Ash meriwayatkan bahwa dia mengeluh kepada Rasulullah saw karena sakit yang dideritanya. Rasulullah saw bersabda kepadanya,”Letakkanlah tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit itu, dan bacalah : 

Bismillah (Dengan nama Allah) 3 kali.

Dan katakan 7 kali : 

A’uudzu bi’izzati-llahi wa qud-rotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir.

“Aku berlindung dengan kemuliaan Allah serta kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku dapati dan aku waspadai.” (HR. Muslim)

Laa ilaha illa-lloohu wa-llohu akbar, laa ilaaha illa-llohu wahdahu laa syariika lah, laa ilaaha illallohu lahul-mulku wa lahul hamd, laa ilaaha illa-llohu wa laa hawlaa wa laa quwwata illaa billah. 

Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang mengatakannya ketika sedang sakit, lalu dia meninggal maka api neraka tidak akan membakarnya.” (HR. Tirmidzi, Shohiih Ibnu Majah).

Aisyah ra bahwa ketika Rasulullah menuju ke tempat tidurnya, beliau merapatkan kedua telapak tangannya, meniup keduanya lalu membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An-Nas. Beliau kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya pada seluruh tubuh, mulai dari kepala dan wajah lalu tubuh bagian depan. Beliau melakukan hal itu tiga kali. Aisyah berkata,” Dan ketika beliau sedang sakit , beliau menyuruhku untuk melakukan hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi meniup pada dirinya sendiri dengan membaca Al-Mu’awwidzaat (surat-surat tersebut di atas). Asiyah berkata,”Dan ketika sakitnya terasa berat, akulah yang meniupnya dengan surat-surat tersebut, dan aku mengusapnya dengan tangan beliau karena keberkahan yang ada padanya.”


Doa Ketika Membesuk atau Menjenguk Orang Sakit

Sa’ad bin Abi Waqash berkata,”Suatu ketika Rasulullah menjengukku dan berdoa : 

“Alloohummasy-fi (Sa’ad), Alloohummasy-fi (Sa’ad), Allohummasy-fi (Sa’ad).”

Ya Allah, sembuhkanlah (Sa’ad), Ya Allah, sembuhkanlah (Sa’ad). Ya Allah, sembuhkanlah (Sa’ad). (HR. Muslim)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi mengunjungi seorang Arab yang sakit. Kebiasaan beliau apabila mengunjungi orang sakit, beliau senantiasa bersabda : 

Laa ba’sa thohuurun insya Allah.

“Tidak mengapa insya Allah semoga menjadi penyuci atau pembersih (dosa-dosa).” (HR. Bukhari).

Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi mendoakan beberapa keluarganya dengan tangan kanannya. 

Alloohumma robban-naas adzhibil-ba’sa, isyfi antasysyaafii, laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughoodiru saqomaa.

Ya Allah, pemelihara umat manusia, enyahkanlah penyakitnya, sembuhkanlah ia, hanya Engkau Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan penyembuhan-mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,”Barangsiapa mengunjungi orang sakit yang belum meninggal lalu dia berdoa di sisinya 7 kali: As’alu-llohal-‘azhiim robbal-‘Arsyil-azhiim an yasyfiiyaka (Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.” (HR. Abu Dawud). 

Abi Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Jibril berkata,”Wahai Muhammad, apakah engkau merasa sakit?” Beliau menjawab.”Iya”, lalu ia berkata : 

Bismillaahi arqiika, min kulli syay’in yu’dziika, min syarri kulli nafsin aw’aynin haasidin, Alloohu yasyfiika, bismillaahi arqiika.

“Dengan nama Allah saya meruqahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari segala pengaruh mahkluk jahat dan tatapan mata yang dengki, Allah yang menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (HR. Muslim. Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Berbaik Sangka

Doa mungkin telah diucapkan setiap hari, sudah berjalan bertahun-tahun, namun kadang hasilnya adalah penyakit bertambah parah, penderitaan sudah semakin tidak tertahankan. Disinilah pentingnya memahami doa.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf : 55-56).

Dengan berdoa berarti kita memohon kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kaya, Yang Berhak Mendapat Pujian, Yang Maha Penyantun, dan Yang Maha Mulia. Allahlah yang mengetahui apa yang menjangkitimu. Dan Dialah Yang Maha Kuasa, yang akan memperbaiki keadaanmu. Maka bergegaslah kepada-Nya dan mohonlah kepada-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al baqarah 186).

Salman berkata : Rasulullah bersabda : 

“Tidak ada yang bisa menangkal qadha’ (ketetapan Allah) kecuali doa, dan tidak akan bisa menambah umur kecuali kebaikan.” (HR. Tirmidzi).

Merupakan salah satu keutamaan Allah atas kita, bahwa doa bisa menangkal qadha’. Maka jika turun ketetapan Allah dengan sakitnya seseorang, kemudian orang ini berdoa kepada Rabbnya, Allah SWT, maka sakit ini dengan fadhilah Allah akan diangkat. Jika senadainya seseorang berdoa dan ia dalam qadha’ Allah akan tertimpa sakit, maka dengan barakah doa, ia tidak jadi tertimpa sakit.

Sesungguhnya rahmat Allah lebih luas dari murka-Nya dan lebih besar dari siksa-Nya. Maka jika seseorang memohon kepada-Nya, Dia akan memberikan nikmat dan menyayanginya.

Jika kita bersungguh-sungguh dalam doa, meminta dengan terus menerus kepada Allah, memohon dan berharap kepada-Nya, akan bersihlah qalbu kita dan Allah akan memperbaiki keadaan kita.

Dari Salman Al-Farisi, bersabda Rasulullah saw :

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla malu kalau sampai seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (memohon pada-Nya) lalu Dia tolak permohoan itu sehingga menjadikan kedua tangan itu hampa.” (HR. Al Hakim dan Ath-Thabrani).

Allah tidak mungkin menolak permohonan dari seorang hamba yang memohon pada-Nya. Sesungguhnya Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa. Mustahil seorang hamba mengangkat kedua tangannya, memohon kepada Allah lalu Dia tolak permohonan tersebut. 

Maka mintalah kepada Allah dan jangan berputus asa, angkatlah kedua tangan dengan merendahkan diri, maka Allah akan mengabulkan.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa terus menerus bersitighfar, maka Allah akan menjadikan-untuknya- pintu keluar dari setiap kesulitan; dan kelapangan dari setiap kebimbangan; dan memberinya rezki dari sebab yang tak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dan seyogyanya bagi yang sakit berdoa denganb doa Ayyub as yang termaktub dalam firman Allah :

“(Wahai Rabbku), aku telah ditimpa penyakit, dan Engkaulah yang lebih pengasih dari segala yang pengasih.” (Al-Anbiya’ 83).

Berdoalah dengan ini dan memohonlah dengan mengucapkan doa ini.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda :

“Allah Swt berfirman, “Aku dalam persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya di saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jikalau ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, maka Aku mengingatnya dalam suatu kumpulan yang lebih baik. Dan jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku mendekat kepada-Nya satu hasta; dan jika ia mendekat kepada-ku satu hasta, maka Aku mendekat kepadanya satu depa, serta jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat-cepat.”(HR. Muslim).

Maka berbaik sangkalah kepada Allah karena ini akan membuka pintu-pintu rahmat Allah untukmu, dan Rabb kita akan meridhaimu. Termasuk berbaik sangka kepada Allah adalah bila engkau yakin Dia akan mengabulkan doamu.

‘Berdoalah kamu sekalian kepada Allah dan kamu sekalian yakin Allah akan mengabulkannya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa yang datang dari qalbu yang lali dan lengah.” (HR. Tirmidzi).

Semacam inilah Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar kita berdoa kepada Allah, dan kita dalam keadaan yakin kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan doa. Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk berdoa secara terus menerus, dengan penyerahan qalbu kepada Allah Swt. Adapun qalbu yang lengah dan lalai, maka qalbu ini jauh dari Allah Swt. Allah tidak melihat kepada diangkatnya tangan dan wajah akan tetapi Allah melihat kepada qalbu.

Berbaik sangkalah kepada Allah. Dialah Dzat Yang Maha Mulia dan Yang Maha Kuasa. Berbaik sangkalah kepada Allah niscaya Dia akan memberi kamu apa-apa yang kamu ridha terhadapnya.

Aku memohon kepada Allah untukku dan untukmu kesembuhan dan kesehatan serta aku memohon kepada-Nya taufiq dalam ketaatan-Nya. (snd)




SEHAT UTAMA
Majalah Hilal Ahmar EDISI 40/VI/ OKTOBER 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar