Senin, 25 April 2011

DEBU YANG BETERBANGAN



Majalah Hilal Ahmar EDISI 41/VI/ DESEMBER 2010
SEHAT KHUSUS

DEBU YANG BETERBANGAN
Merapi, nama gunung yang tidak asing bagi saya. Terletak di sebelah barat kota kelahiran saya, Sukoharjo. Dulu ketika kecil, kalau disuruh menggambar gunung, kami menengok ke sebelah barat. Maka kami menggambar dua buah gunung. Merapi dan Merbabu. Yang satu runcing, dan yang satu landai. Yang satu digambarkan ada asap mengepul di atasnya, yang satunya tidak. Jika kami melihat ke sebelah timur, maka kami menggambar satu gunung yang agak besar, tidak runcing, yang saya kenal dengan nama gunung Lawu.
Gunung berapi, merupakan makna kehidupan tersendiri bagi masyarakat kami. Tanah yang subur di sekitarnya, menyebabkan kepadatan penduduk yang tidak pernah sunyi. Meski yang ada kesenyapan di atas gunung. Air yang dingin, udara segar, sayuran yang melimpah, padi menguning, buah-buahan masak siap panen, ternak yang beranak pinak, adalah harmoni.

Namun, simponi yang indah ini selalu ada pasang surutnya. Gejolak perut bumi yang siap memuntahkan isinya, menjadi selingan harmoni tadi. Takdir selalu datang diluar dugaan kita. Allah Maha Perkasa.
Pertama kali melihat gunung Merapi meletus saat sedang berada di bukit di Gunung Kidul pada tahun 1996. Ketika itu dalam perjalanan pulang dari puskesmas melihat ke arah gunung Merapi, terlihat sedang menyemburkan awan panas. Yang sering diberi nama “wedhus gembel”. Saat itu banyak korban karena awan panas.
Kemudian pada tahun 2006, gunung Merapi juga aktif kembali, namun pada saat itu tidak besar dan tidak menimbulkan korban. Kami sempat melakukan klinik berjalan pada para pengungsi saat itu di wilayah Srumbung Magelang.
Sekarang tahun 2010, Merapi meletus lagi. Dengan kekuatan yang melebihi letusan pada tahun 1930.
Ayat-Ayat Gunung
“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak digoncang bersama kamu, (dan Dia) menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl 15).
“Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung ( di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu….” (Luqman 10).
“Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh  di atasnya. Dan kemudian  Dia berkahi…(Fussilat 10).
“…. Dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung , semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.” ( Al-Anbiya 79).
“Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu pagi dan petang.” (Sad 18)
“Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadila ia debu yang beterbangan” (Al-Waqi’ah 5).
“Dan gunung-gunung bagaikan bulu-bulu beterbangan.” (Al-Maarij 9).
“(Ingatlah) pada hari (ketika) bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang dicurahkan.” (Al-Muzzamil 14).
“Dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu.” (Al Mursalat 10).
“Dan gunung-gunung  seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Al-Qari’ah 5).
Gunung
Gunung baru terbentuk ketika bebatuan terdorong ke atas oleh pergerakan lempeng batu raksasa penyusun kerak bumi. Bebatuan terdorong ke atas dengan dua cara: pegunungan lipatan terbentuk ketika lapisan bebatuan tertekuk. Sementara itu, pegunungan blok terbentuk ketika bongkahan raksasa batu terangkat atau jatuh. Letusan vulkanik juga menciptakan pegunungan. Banyak wilayah pegunungan yang terbentuk dan terkikis sejak bumi terbentuk.
Gunung berapi adalah lubang sembur di tanah tempat magma, debu, gas, dan potongan bebatuan mendesak ke atas dalam peristiwa yang disebut letusan atau erupsi. Gunung berapi banyak ditemukan pada perbatasan antara lempeng-lempeng kerak bumi. Letusan vulkanik menghasilkan berbagai bentuk gunung berapi.
Gunung api kubah, atau kerucut, terbentuk ketika lava yang kental dan lengket meletus dari kawah gunung berapi. Lava mendingin dan mengeras dengan cepat, membentuk kubah. Letusan-letusan berikut  mungkin menambahkan lapisan lagi. Runtuhnya kubah dapat menghasilkan aliran piroklastik-aliran cepat gas panas dan serpihan gunung berapi yang berbahaya.
Magma terbentuk ketika bebatuan di bawah kerak bumi mencair. Magma yang mengalir di permukaan bumi disebut lava. Lava kemudian mengeras menjadi banyak bentuk yang berbeda.
Debu Yang Beterbangan
Selasa, 26 Oktober 2010, gunung Merapi meletus, persis sehari setelah dinyatakan dalam status awas. Magrib yang kelabu. Awan panas menelan perkampungan terdekat puncak Merapi di Yogyakarta. Karena banyaknya penduduk yang masih berdiam diri di rumahnya dan enggan mengungsi dengan berbagai alasan. Orang yang secara resmi oleh Kerajaan Yogyakarta diangkat sebagai juru kunci, tewas bersama orang-orang terdekatnya. Mulai saat itu penduduk diungsikan ke wilayah bawah yang lebih aman.
Rabu, 27 Oktober 2010, tim Hilal Ahmar mencari posko yang memungkinkan untuk menolong pengungsi. Posko pertama kali di buka oleh teman-teman Hilal Ahmar Jogja di Glagahharjo, Cangkringan bersama teman-teman FKAM (Forum Komunikasi Aktifis Masjid). Namun, karena kamp pengungsi sudah penuh dengan berbagai elemen baik GO/ pmerintah maupun NGO/LSM/ormas, maka kami putuskan untuk mencari penampungan pengungsi yang belum tertangani.
Kamis, 28 Oktober 2010, tim Hilal Ahmar, memperoleh informasi bahwa sebuah pondok pesantren di Muntilan, menampung 200-an pengungsi dan belum ada tim medis yang menangani. Maka, kami pada hari Kamis pagi meluncur ke alamat tersebut untuk membuka posko di sana. Di sanalah, di Pondok Pesantren Tahfiedz Al-Qur’an Abu Bakar Ash-Shidiq, Muntilan, Magelang, akhirnya kami membuka posko.
Hari-hari berikutnya, kami disibukkan untuk survey bersama teman-teman lokal yang menguasai wilayah tersebut. Melakukan mobil klinik ke berbagai tempat penampungan pengungsi yang masih di dekat puncak Merapi, di kawasan kecamatan Dukun dan Srumbung, serta Sawangan.
Senin, 1 Nopember 2010, kami dalam perjalanan dari Solo menuju Muntilan. Pagi itu cuaca cerah. Puncak Merapi sangat kelihatan dari jalan yang kami lewati. Kami sambil melihat puncak tersebut mengatakan, “Wah, jika Merapi dalam keadaan tidak erupsi terlihat indah.” Sampai di Yogyakarta, pemandangan masih indah, puncak yang mengeluarkan asap tipis, diselimuti awan putih, bagaikan cerobong asap. Namun menjelang masuk Magelang tepatnya di kecamatan Tempel, kami dikejutkan dengan perubahan puncak Merapi yang tiba-tiba mengeluarkan awan hitam ke atas, bergulung-gulung, menutup seluruh kawasan puncak, pemandangan yang mengerikan pada saat itu. Merapi meletus lagi dengan energi yang lebih besar. The Big Blow. Kami berhenti untuk melihat dan mengabadikan kejadian itu.
Sejak saat itu, informasi situasi wilayah di sekitar puncak Merapi, menjadi sangat dinamis. Perubahan-perubahan jarak aman pun dilakukan. Suatu ketika, di sebuah rumah makan saat para relawan Hilal Ahmar makan malam, kami ketemu dengan seseorang. Kami kemudian terlibat pembicaraan dengan orang tersebut. Kami menyatakan bahwa jika pemerintah serius maka seharusnya pengungsi di Sleman Yogyakarta diungsikan ke stadion, sehingga tidak terjadi pengungsi yang bolak-balik ke rumahnya, dan dalam jarak yang di pastikan aman dari awan panas. Beliau menjawab, tidak begitu karakter orang Yogya mas. Orang Yogyakarta meskipun ada acara di Solo sampai malam, tetap tidur di Yogya! Kemudian kami berpisah. Dini hari kemudian, kami mendapat informasi, seluruh pengungsi Sleman dipindahkan ke Stadion Maguwoharjo, karena awan panas menerjang pemukiman sekitar kamp pengungsi!!!
Tanggal 4 Nopember 2010. Sejak Dini hari kota Muntilan hujan abu bercampur pasir. Kami tidak percaya ketika keluar posko dan keliling di seluruh kota, semua kota penuh dengan abu, pohon-pohon pada ‘sengkleh’ atau patah batangnya. Menutup sebagian jalan. Kebun Salak pada rebah, tanamanan di sawah baik lombok, tomat maupun padi pada mati.
Kami saat itu mengadakan pengobatan di wilayah Gunungpring, di sebuah balai kelurahan yang menampung pengungsi. Situasi masih diselimuti hujan abu bercampur pasir, sepanjang kami melakukan pemeriksaan di jalan-jalan banyak truk-truk tentara maupun pribadi yang mengangkut pengungsi dari wilayah Dukun dan Srumbung, banyak yang tidak tertampung, sehingga sebagian di kirim ke tempat penampungan pengungsi sementara lainnya.
Jalan-jalan licin, jarak pandang sangat terbatas hanya sekitar lima meter. Kami pindak melakukan pengobatan di wilayah Sedayu, lebih ke atas mendekati Dukun. Di sekitar tempat penampungan pengungsi banyak pohon rambutan dan bambu.  Saat pengobatan, tiba-tiba lampu mati. Keadaan gelap, terdengar suara-suara cabang pohon yang retak. Terdengar mengejutkan.
Hari Jum’at, situasi masih sama. Hujan abu bercampur pasir. Kami kesulitan untuk melakukan pengobatan karena situasi ini. Namun, kami tetap memasuki penampungan-penampungan pengungsi baru yang belum mendapat penanganan kesehatan. Kami melakukan pengobatan di masjid Kauman sambil membagi masker.
Hari sabtu, hujan abu dan pasir mereda, namun suasana kota menjadi lumpuh. Pasar tutup, listrik padam, air bersih tidak mengalir, jalanan licin penuh dengan debu bercampur pasir, pohon-pohon tumbang menghalangi jalan, atap rumah penuh dengan debu vulkanik, talang-talang air banyak yang mampet tertimbun abu tersebut.
Hampir semua kawasan di Magelang tertutup debu. Bantuan logistic banyak yang mengalir ke posko kami. Akhirnya supaya bisa banyak menampung dan supaya tim bisa menginap secara leluasa, maka kami menyewa sebuah ruko di pinggir jalan. Di jalan Pemuda Barat Taman Agung Muntilan.
Disitulah teman-teman non medis melakukan pensortiran barang bantuan untuk segera didistribusikan kepada yang membutuhkan baik lewat jalur ketika melakukan pengobatan atau ada permintaan dari kamp pengungsi yang membutuhkan barang tersebut. Dan juga tempat teman-teman medis untuk mengatur logistic obat sebelum berangkat untuk monile clinic atau klinik berjalan.  Selain itu kami bisa menerima dan menjelaskan kepada tamu yang datang ke posko kami yang baru, tentang situasi bencana di wilayah Magelang. Serta melakukan pemetaan wilayah yang terkena musibah, dari sebaran penampungan pengungsi hingga kebutuhan pengungsi.
Debu beterbangan menjadi hal yang biasa di Muntilan. Debu yang berasal dari perut bumi. Mengganggu sistem pernapasan, mata, dan kulit. Inilah derita yang dialami pengungsi, penduduk yang terkena dampak bencana namun bukan pengungsi, dan relawan. Sampai kapan keadaan seperti ini berlangsung? Hanya Allah Yang Maha Perkasa Mengetahuinya. (snd)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar