Sabtu, 02 Oktober 2010

MENGENAL SAGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN POKOK

Gizi
MENGENAL SAGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN POKOK

Pada umumnya , bahan makanan pokok orang Indonesia adalah beras yang kemudian diolah menjadi nasi . Tetapi kenyataannya , tidak semua orang Indonesia menggunakan beras menjadi bahan makanan pokoknya . Di beberapa daerah , masih banyak yang menggunakan sagu sebagai bahan makanan pokok. Nilai gizinya pun tak kalah dengan beras.

CARA MEMPRODUKSI TEPUNG SAGU

Bahan makanan sagu adalah hasil ekstraksi bagian inti batang pohon sagu. Di tepi-tepi  pantai Sumatera Timur, Kalimantan , Sulawesi , dan Irian Jayaserta beberapa pulau Maluku dan kepulauan Mentawai terdapat hutan sagu yang pada dasarnya tumbuh liar secara alamiah . Sebagian masyarakat di wilayah-wilayah tersebut memanfaatkan pohon sagu untuk diambil patinya (amylum) yang terdapat di bagian tengah batangnya . Mereka telah mengetahui kapan pohon sagu itu tiba waktunya untuk ditebang dan diambil sagunya. Satu pohon sagu dapat menyediakan bahan tepung yang cukup untuk menyediakan bahan makanan pokok bagi suatu keluarga yang terdiri atas lima orang selama satu bulan .
Pohon sagu tumbuh di tanah  dataran rendah yang basah berawa-rawa. Pada dasarnya pohon ini tumbuh liar membuat hutan dan tingginya dapat mencapai 10-15 meter pada umur 5-12 tahun. Hutan sagu di Indonesia mencapai beberapa ratus juta hektar dan belum dibudidayakan. Terdapat pohon sagu dengan jenis berduri dan ada pula jenis yang tidak berduri . Keduanya dapat dimanfaatkan untuk diambil tepung dari hati batangnya.
Di wilayah yang mempergunakan sagu sebagai bahan makanan pokok , jumlah sagu yang tumbuh liar masih melebihi jumlah yang diperlukan penduduk , sehingga persediaannya tidak perlu dikhawatirkan akan tidak mencukupi . Pohon sagu tumbuh merupakan rumpun dimana satu pohon induk memberikan anakan di sekitarnya.  
Di Malaysia , pohon sagu sudah dibudidayakan dalam bentuk perkebunan dan pati (tepung sagu) yang didapat merupakan komoditas perdagangan. Di sini tepung sagu telah diambil dengan cara teknologi maju.
Di Indonesia Timur , tepung sagu diproduksi dari pohon liar dengan cara tradisional untuk dimakan sendiri dan sebagian untuk diperdagangkan . Bentuk dalam perdagangan berupa balok-balok kecil sagu kering atau diolah sebagai butir-butir yang disebut “sagu mutiara”. Di kepulauan Mentawai , sagu hanya dipergunakan untuk konsumsi keluarga sendiri dan karena jumlah penduduk masih sangat sedikit , sedangkan penebangan pohon sagu dilakukan tidak berlebihan secara tradisional , persediaan hutan sagu masih cukup berlimpah . Satu rumpun sagu setiap dua tahun memberikan satu pohon sagu yang matang untuk ditebang dan diambil sagunya , hanya kadang-kadang saja terdapat dua pohon sekaligus yang tersedia untuk diproduksi tepungnya . Sejak umur sekitar 8 tahun kadar sagu di dalam batang pohon sagu bertambah terus dan mencapai puncaknya pada saat pohon itu mulai berbunga. Pada saat inilah pohon ini harus ditebang dan diambil sagunya. Penduduk setempat sudah mengetahui kapan mereka dapat menebang pohon sagu untuk diambil patinya. Bila pohon akan ditebang , semak di sekitar pohon tersebut disiangi dan tumbuhan yang memanjat pada batang juga dibersihkan . Setelah pohon ditebang , dipotong-potong sekitar 2 meter setiap potongnya agar mudah dikerjakannya. Pada salah satu sisi batang itu dikupas kulitnya dan hati batang yang cukup lunak itu dikeluarkan dengan memukul-mukul atau dengan alat pemarut sederhana. Batang sagu yang telah diambil hatinya dipasang pada tonggak-tonggak sehingga merupakan bejana / perahu yang  menurun landai , dipergunakan untuk mengolah hasil hati pohon sagu yang dihancurkan dengan air , menghasilkan air berwarna putih seperti susu . Dalam bejana tadi ampas sagu disaring dan air yang putih mengalir pada ujung bawah untuk ditampung dalam bejana lain yang juga dibuat dari pohon sagu yang sudah dibentuk perahu . Air yang mengandung hati sagu ini dibiarkan mengendap . Cairan di atas endapan dibuang sehingga tinggallah lapisan pati di dasar bejana penampung untuk dikeringkan dan diolah lebih lanjut.

HASIL OLAHAN SAGU

Cara mengkonsumsi di daerah yang mempergunakan sagu sebagai bahan makanan pokok berbeda-beda. Di daerah kepulauan Mentawai dan Irian Jaya , pengolahan sagu di rumahtangga untuk dikonsumsi masih primitive yaitu dalam bentuk adonan dibakar di api terbuka atau dimasukkan ke dalam abu panas.
Di daerah Maluku dan Sulawesi Utara cara memasaknya sudah lebih maju , yaitu dalam bentuk masakan yang disebut Papeda atau dapat pula dalam bentuk berbagai jenis kue kering yang cukup mengundang selera . Balok-balok kecil sagu kering dapat juga dicelupkan ke dalam kuah dan langsung disantap .
Papeda adalah sejenis makanan berkuah serupa bubur , dimana ditambahkan sayur dan potongan-potongan daging atau ikan. Dalam bentuk papeda ini , susunan hidangan mengandung cukup berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh , sehingga sanggup memberikan kesehatan dan daya kerja yang memadai . Hidangan dengan dasar bahan makanan pokok sagu pada umumnya disuplementasi dengan sayur dan daging atau ikan yang cukup, sehingga tidak kalah dengan hidangan berdasarkan bahan makanan pokok beras / nasi . Jadi sebaiknya masyarakat yang mempergunakan sagu sebagai bahan makanan pokok harus tetap dipertahankan , jangan diubah ke dalam bahan makanan pokok beras.
Kelebihan dari  penggunaan sagu sebagai sumber bahan makanan pokok di antaranya yaitu :
  • Pemeliharaan pohon sagu sangat sedikit menggunakan waktu dan tenaga, tidak perlu menyiangi rumput secara intensif
  • Sampai sekarang tidak ada masalah hama
  • Pertumbuhan dan perkembangbiakan terjadi mudah secara alamiah
  • Hampir segala bagian pohon dapat dimanfaatkan untuk keperluan penghidupan
  • Limbah ampas sagu dapat dipergunakan untuk campuran pakan hewan

(dr. Mety Dewi Astuti)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar