Sabtu, 02 Oktober 2010

MENDIDIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak Sehat
MENDIDIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

 
Anak  yang berkebutuhan khusus lazim disebut dengan anak cacat. Sepintas lalu istilah cacat akan memberikan kesan yang tidak biasa atau sesuatu yang lain daripada yang lain . Penggunaan istilah anak cacat memang dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kelainan pada anak tertentu sehingga mereka memerlukan pendidikan yang khusus sehubungan dengan cacatnya itu . Sesungguhnya , cacat bukanlah suatu penyakit , melainkan suatu keadaan yang menyebabkan ia menjadi berbeda . Sehingga , dalam hal pendidikannya  memerlukan perhatian ekstra agar perkembangan kepribadiannya pun dapat berkembang selayaknya anak yang normal
Pendidikan Untuk Anak Tuna Netra
Anak mempunyai cacat penglihatan atau tuna netra yang disebabkan  oleh karena kecelakaan atau sakit , dia sudah sempat merasakan keindahan alam . Kebutaan yang kemudian dideritanya menyebabkan ia merasakan benar hal-hal yang hilang, karena ia tidak lagi dapat menilai sesuatu melalui penglihatan seperti dahulu , sehingga hal ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya .
Rasa kurang ini akan berkembang dalam hidup kejiwaannya dan sekalipun ia belajar membaca dan manulis dengan huruf Braille , ia tetap merasa lain daripada individu yang lainnya . Sehubungan dengan keadaan tersebut , maka seyogyanya disamping latihan dan pendidikan yang diberikan juga kepada anak yang tuna netra sejak lahir , kepada mereka ditekankan pendidikan yang memungkinkan mereka mendapatkan harga dirinya kembali .
Terhadap mereka diberikan pendidikan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak yang tuna netra sejak lahir dan ditujukan terutama agar tumbuh keyakinan bahwa ia tetap mempunyai arti baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya walaupun dengan adanya keterbatasan yang dimilikinya . melalui pendidikan diharapkan anak yang demikian dapat menerima kenyataan bahwa orang-orang yang dapat melihat juga tidak semua sama mutunya bagi diri dan lingkungan mereka masing-masing .
Berlainan dengan anak yang tuna netra karena kecelakaan atau penyakit , anak yang tuna netra sejak lahir menyimpang dari perkembangan anak yang normal penglihatannya , perbedaan tersebut karena ia :
  • Tidak dapat secara lengkap dan sempurna mengadakan orientasi dalam ruang
  • Tidak pula mudah mengadakan orientasi terhadap tubuhnya sendiri , sehingga dengan demikian tidak pula dapat memahami makna bagian-bagian tubuhnya sendiri bagi hidup kejiwaannya
  • Perkembangan visual sama sekali tidak ada dan karena itu perkembangan kepribadiannya mengalami hambatan dan berbagai kesulitan
Pendidikan terhadap anak yang tuna netra sejak lahir hendaknya diberikan secepatnya (sebelum masuk Taman Kanak-Kanak). Terhadap mereka diajarkan melakukan orientasi dalam ruang dengan pertolongan tongkat dengan kaki dan ujung jarinya karena ujun jari anak yang tuna netra sangat peka. Proses orientasi ini dibantu dengan suara atau bunyi dari tempat yang dekat , jauh , di belakang , di depan , di samping kiri dan kanan . Bergerak badan termasuk berenang juga diajarkan kepada mereka dengan tujuan agar melalui gerak badan itu mereka mendapatkan kepercayaan diri mereka sendiri melalui tubuhnya .
Kebiasaan lain seperti berpakaian sendiri , makan sendiri dan sebagainya diajarkan juga kepada mereka menurut taraf perkembangan jasmani mereka . Kerapian dan ketelitian dalam penampilan fisik juga diajarkan , karena dalam pergaulan dengan manusia lain hal ini mempunyai tempat penting dalam kehidupan . Semua yang dibiasakan dan dididikkan itu ditujukan untuk melakukan sosialisasi dan integrasi anak tuna netra itu ke dalam masyarakat di lingkungannya . Mengingat anak tuna netra mempunyai emosi yang sangat peka dan setiap perlakuan akan dapat mengingatkannya kepada kekurangannya , maka hendaknya segala macam permainan dan kegiatan yang diajarkan harus disesuaikan dengan keadaan lingkungannya . Dengan perkembangan yang telah dicapai di lapangan reproduksi buku dengan huruf Braille , sekarang sudah ada orang tuna netra yang duduk di perguruan tinggi .
Sebelum anak tuna netra memasuki sekolah pertamanya , akan lebih baik apabila setiap anak tuna netra ini diperiksa oleh seorang ahli psikologi , agar diketahui kelainan psikis yang mungkin terdapat pada anak tersebut . Hal ini dikarenakan seringkali anak tuna netra mendapat trauma psikis dari perlakuan yang diterimanya dari orang lain sebagai akibat orang tersebut tidak memahami atau karena rasa belas kasihan yang terlalu berlebihan .
Sehubungan dengan hal itu , hendaknya diperhatikan pula perkembangan psikis mereka saat mendekati umur 17-18 tahun. Mereka tampak enggan menerima kedewasaan , karena hal itu dianggap mereka sebagai saat harus meninggalkan lingkungan keamanan yang dikenal selama ini. Keengganan menerima kedewasaan ini merupakan bukti bahwa dalam pendidikan yang diberikan kepada anak tersebut masih terdapat kekurangan , sehingga pada diri mereka masih terdapat ketergantungan pada lingkungan manusia yang normal penglihatannya . Oleh karena itu dalam prakteknya yang harus mendapat perhatian dari para pendidik adalah agar semua tugas yang diberikan pada anak tuna netra tersebut harus dapat meningkatkan kepercayaan terhadap diri mereka sendiri . Di samping itu kepada mereka juga diberikan tugas seperti tugas yang diberikan kepada anak normal , dengan catatan peralatan yang digunakan harus sesuai dengan anak tuna netra.
Pendidikan Untuk Anak Tuna Rungu
Cacat ini akan mengakibatkan gangguan besar terhadap individu penderitanya dalam mengadakan komunikasi lisan  / oral dengan lingkungannya . Alat pendengaran merupakan terusan bagi bahasa yang berisi pengertian untuk individu , sehingga bila terusan itu tidak baik kerjanya , maka sudah tentu perkembangan perbendaharaan pengertian juga akan terganggu . Cacat yang ringan maupun berat akan mengakibatkan ketidakmampuan individu tersebut untuk mendapat taraf tertinggi perkembangan kemampuan psikisnya ( intelektuil , emosionil ), dengan demikian perkembangan kepribadiannya juga akan terganggu .
Untuk menentukan bantuan pendidikan apa yang diperlukan oleh anak dengan tuna rungu ini , terlebih dahulu harus diketahui :
1. Sifat dan kualitas cacat yang diderita itu
2. Saat cacat mulai diderita  , oleh karena perkembangan kepribadian anak tuna rungu  bawaan berbeda dengan tuna rungu yang didapatn
Kekurangan pada pendengaran menimbulkan kesulitan perkembangan bahasa dan pengertian . Oleh karena itu ,setelah diketahui hasil pemeriksaan audiologi mengenai masih adanya kemungkinan membantu anak , hendaknya segera diberikan berbagai latihan yang mengarah pada penggunaan alat komunikasi yaitu Bahasa .
Latihan yang diberikan tersebut meliputi :
1.Latihan mulut , lidah dan sebagainya untuk membentuk bunyi tertentu atau rangkaian bunyi yang melambangkan pengertian . Latihan seperti ini hendaknya diberikan oleh seorang ahli yang juga dapat melatih anak yang menderita cacat pada alat bicaranya
2.Melakukan olahraga berirama ( gymnastic ritmis ) dengan diiringi oleh genderang ( bunyi piano biasanya kurang bermanfaat bagi anak dengan cacat pendengaran , karena tidak cukup kuat untuk didengar). Tujuan yang hendak dicapai dengan vara ini adalah agar anak menangkap pengertian yang disampaikan kepadanya pada waktu berolahraga melalui indera motoriknya .
Sebaiknya kedua jenis latihan tersebut di atas dapat dimulai secepatnya , bila mungkin sesegera mungkin setelah diketahui anak menderita cacat pendengaran . Hal ini dilakukan agar di kemudian hari anak tidak menderita gangguan perkembangan kepribadiannya .
Anak yang telah  terlanjur  menderita di dalam kehidupan psikisnya , ia akan menyendiri , takut diejek karena tidak mengetahui maksud teman-temannya, atau ia takut membuat kesalahan . Pada anak yang hampir tuli total akan tampak aspek emosinya kurang mengalami perkembangan yang wajar . Emosi yang dibangkitkan melalui belaian , warna dan bentuk dapat dikembangkan dengan baik , tetapi emosi yang dibangkitkan dengan nada irama , rangkaian bunyi hampir seluruhnya tidak mengalami perkembangan yang wajar . Hal ini akan mengakibatkan kesulitan dalam berkomunikasi dengan individu lain di dalam lingkungannya . Oleh karena itu , orangtua dan guru ( yang memahami persoalan anak ) sering merupakan manusia yang mempunyai ikatan emosi dengan anak tuna rungu . Ada pendapat bahwa emosi anak dengan cacat pendengaran itu dangkal , sehingga mereka dengan cepat akan melupakan gurunya . Dugaan ini belum diteliti dengan baik sehingga dapat dikemukakan sebagai salah satu ciri kepribadian anak tuna rungu .
Dapat dikemukakan bahwa anak dengan cacat pendengaran selalu menaruh kecurigaan terhadap lingkungannya , yaitu kalau-kalau lingkungannya itu akan mencemoohkannya. Kecurigaan inilah yang sering mengakibatkan sikap menyendiri , sikap memusuhi lingkungannya dan kecurigaannya ini pula yang dapat menghambatnya mendapatkan tanggapan tentang diri sendiri yang wajar , seperti yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia dewasa . Sering tampak pula anak yang cacat pendengaran sangat melekat pada orangtua dan gurunya , karena terhadap mereka ia tidak perlu curiga dan ia juga merasa aman terhadap kemungkinan dicemoohkan. Sikap ini juga merupakan salah satu unsure penghambat perkembangan kepribadiannya  (dr. Mety Dewi Astuti)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar