Jumat, 01 Oktober 2010

DEMAM TYPHOID PADA ANAK

Anak Sehat
DEMAM TYPHOID PADA ANAK

Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhii. Sampai saat ini demam typhoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat , serta berkaitan erat dengan sanitasi yang buruk terutama di Negara-negara berkembang.
Di negara-negara berkembang perkiraan angka kejadian demam typhoid bervariasi dari 10 sampai 540 per 100.000 penduduk . Meskipun angka kejadian demam typhoid turun dengan adanya perbaikan sanitasi pembuangan di berbagai Negara berkembang , diperkirakan setiap tahun masih terdapat 35 juta kasus dengan 500.000 kematian di seluruh dunia . Di Negara maju perkiraan angka kejadian demam typhoid lebih rendah yakni setiap tahun terdapat 0,2-0,7 kasus per 100.000 penduduk di Eropa Selatan . Di Indonesia demam typhoid masih merupakan penyakit endemic dengan angka kejadian yang masih tinggi , diperkirakan 350-810 kasus per 100.000 penduduk pertahun ; atau kurang lebih sekitar 600.000- 1,5 juta kasus setiap tahunnya . Di antara penyakit yang tergolong penyakit infeksi usus , demam typhoid menduduki urutan kedua setelah gastroenteritis . Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM sejak tahun 1992-1996 tercatat 550 kasus demam typhoid yang dirawat dengan angka kematian antara 2,63-5,13 % .

PATOGENESIS

Salmonella Typhii hanya dapat menyebabkan gejala demam typhoid pada manusia . Oleh karena itu untuk mengetahui patogenesisnya tidaklah mudah . Hal ini disebabkan oleh karena masih sulitnya memilih binatang percobaan yang ssuai , yang dapat menggambarkan infeksi Salmonella Typhii secara alamiah . Namun dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan maka akhirnya patogenesis demam typhoid dapat diketahui melalui beberapa penelitian .

Salmonella typhii termasuk bakteri famili Enterobacteriaceae dari genus Salmonella . Kuman Salmonella Typhii berbentuk batang , gram negative , tidak berspora , motile , berflagella ,berkapsul , tumbuh dengan baik pada suhu optimal 37 derajat celcius , bersifat fakultatif anaerob , dan hidup subur pada m,edia yang mengandung empedu . Kuman ini mati pada pemanasan suhu 54,4 derajat celcius  selama 15 menit , serta tahan pada pembekuan dalam jangka lama . Salmonella mempunyai karakteristik fermentasi terhadap glukosa dan manosa , namun tidak terhadap laktsa atau sukrosa .

Patogenesis demam typhoid secara garis besar terdiri dari 3 proses , yaitu :
  • Proses invasi kuman Salmonella typhii ke dinding sel epitel usus
  • Proses kemampuan hidup dalam makrofag
  • Proses berkembang biaknya kuman dalam makrofag

Akan tetapi tubuh mempunyai beberapa mekanisme pertahanan untuk menahan dan membunuh kuman pathogen ini , yaitu dengan dua cara :
  • Mekanisme pertahanan non spesifik di saluran pencernaan , baik secara kimiawi maupun fisik
  • Mekanisme pertahanan spesifik yaitu kekebalan tubuh humoral dan seluler

Kuman Salmonella Typhii masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi . Setelah kuman sampai ke lambung maka mula-mula timbul usaha pertahanan non spesifik yang bersifat kimiawi yaitu adanya suasana asam oleh asam lambung dan enzim yang dihasilkannya . Ada beberapa factor yang menentukan apakah kuman dapat melewati barrier asam lambung , yaitu jumlah kuman yang masuk dan kondisi asam lambung . Untuk menimbulkan infeksi , diperlukan Salmonella typhii sebanyak 105-109 yang tertelan melalui makanan atau minuman. Keadaan asam lambung dapat menghambat multiplikasi Salmonella dan pada pH 2,0 sebagian besar kuman akan terbunuh dengan cepat . Tetapi pada penderita yang mengalami gastrektomi , hipoklorida atau aklorhidria maka akan mempengaruhi kondisi asam lambung. Pada keadaan tersebut Salmonella typhii lebih mudah melewati pertahanan tubuh

Sebagian kuman yang tidak mati akan mencapai usus halus yang memiliki mekanisme pertahanan local berupa motilitas dan flora normal usus. Tubuh berusaha menghanyutkan kuman keluar dengan usaha pertahanan tubuh non spesifik yaitu oleh kekuatan peristaltic usus . Di samping itu adanya bakteri anaerob di usus juga akan merintangi pertumbuhan kuman dengan pembentukan asam lemak rantai pendek yang akan menimbulkan suasana asam . Bila kuman berhasil mengatasi mekanisme pertahanan tubuh di lambung , maka kuman akan melekat pada permukaan usus . Setelah menembus epitel usus , kuman akan masuk ke dalam kripti lamina propria , berkembang biak dan selanjutnya akan difagositosis oleh monosit dan makrofag. Namun demikian Salmonella typhii dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam fagosit karena adanya perlindungan oleh kapsul kuman

DIAGNOSIS

Demam typhoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan asimtomatik . Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun gejala klinis yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi dalam : demam , gangguan saluran pencernaan , dan gangguan kesadaran . Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala , malaise , anoreksia, letargi , nyeri dan kekakuan abdomen , pembesaran hati dan limpa , serta gangguan status mental . Sembelit dapat merupakan gangguan gastrointestinal awal dan kemudian pada minggu kedua terjadi diare. Diare hanya terjadi pada setengah dari anak yang terinfeksi , sedangkan sembelit lebih jarang terjadi . Dalam waktu seminggu panas dapat meningkat. Lemah , anoreksia , penurunan berat badan , nyeri abdomen dan diare menjadi berat . Dapat dijumpai depresi mental dan delirium. Keadaan suhu tubuh tinggi dengan bradikardia lebih sering terjadi terjadi pada anak dibandingkan dewasa. Bercak mskulopapular ukuran 1-6mm dapat timbul pada kulit dada dan abdomen , ditemukan pada 40-80% penderita dan berlangsung singkat, yaitu sekitar 2-3 hari . Jika tidak ada komplikasi dalam 2-4 minggu , gejala dan tanda klinis menghilang, namun malaise dan letargi menetap sampai 1-2 minggu .

Gambaran klinis pada anak tidak khas karena tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan asimtomatik . Oleh karena itu , diagnosa perlu ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium yang diandalkan , meliputi pemeriksaan darah tepi , bakteriologis dan serologis . Bahkan kemajuan di bidang biomolekular saat ini sampai pada penelitian mendeteksi DNA kuman Salmonella typhii dalam darah dengan teknik hybridisasi asam nukleat dan metode penggandaan DNA dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Cara ini dilaporkan dapat mengidentifikasi kumandalam darah dengan akurat , bahkan dalam jumlah kuman yang amat sedikit . Namun metode PCR ini cukup mahal dan belum dapat dikerjakan secara rutin di laboratorium klinik . Di Indonesia , masih digunakan pemeriksaan Widal . Pemeriksaan ini telah digunakan sejak tahun1896.
  
KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat terjadi pada demam typhoid yaitu komplikasi intestinal sampai perforasi usus. Perforasi terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan usus yang berat ditemukan pada 1-10% anak dengan demam typhoid . Komplikasi ini umumnya didahului dengan suhu tubuh dan tekanan darah menurun , disertai dengan peningkatan denyut nadi . Perforasi jarang terjadi tanpa adanya perdarahan sebelumnya dan sering terjadi di ileum bagian bawah . Perforasi biasanya ditandai dengan peningkatan nyeri abdomen , kaku abdomen , muntah-muntah dan tanda peritonitis
Komplikasi lain yang juga dapat terjadi adalah hepatitis , kolesistitis , ensefalopati , thrombosis serebral, ataksia , dan afasia . Dilaporkan pula komplikasi berupa pneumonia , pielonefritis , orkitis , endokarditis , osteomielitis , arthritis , parotitis , pancreatitis , dan meningitis .

TATA LAKSANA & PENCEGAHAN

Pengobatan terhadap demam typhoid merupakan gabungan antara pemberian antibiotic yang sesuai , perawatan penunjang termasuk pemantauan , manajemen cairan , serta pengenalan dini dan tata laksana terhadap adanya komplikasi seperti perdarahan usus , perforasi dan gangguan hemodinamik .
Selain pemilihan antibiotic yang sesuai untuk demam typhoid , pengobatan suportif akan sangat menentukan keberhasilan pengobatan demam typhoid . Pemberian cairan dan kalori yang adekuat sangat penting. Terapi dietetic pada anak dengan demam typhoid tidak seketat pada penderita dewasa . Makanan bebas serat dan mudah dicerna dapat diberikan untuk selanjutnya dinaikkan secara bertahap dengan pemberian makanan yang lebih padat dengan jumlah kalori yang adekuat .

Pencegahan terhadap demam typhoid dilakukan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan dan perilaku sehari-hari , meliputi
  1. Mencuci tangan sebelum makan
  2. Menjaga kebersihan makanan dan minuman
  3. Tidak makan dan jajan di sembarang tempat ,pilihlah rumah makan dan tempat jajan yang menjaga dan mengutamakan kebersihan karena penyebaran demam typhoid melalui makanan dan tangan yang tercemar oleh bakteri ini.
  4. Jangan minum air yang belum dimasak/belum matang
  5. Menjaga kebersihan peralatan makan
  6. Menjaga daya tahan tubuh agar selalu fit dengan makanan, gizi seimbang
  7. Buang air besar sebaiknya pada tempatnya jangan dikali atau sungai untuk menghindari penyebaran kuman

Sumber : Pediatrics Update 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar