Sabtu, 31 Juli 2010

MENEMBUS BLOKADE MELAWAN TIRANI

SEPOTONG KATA
MENEMBUS BLOKADE MELAWAN TIRANI

“Kapal  Mavi Marmara  yang ditumpangi Tim MER-C pukul 23.30 waktu Turki telah berlayar menuju  Gaza bersama kapal lainnya. Jumlah kapal sebanyak 9 buah dengan lebih dari 800 penumpang dari 50 negara. Waktu tempuh normal ke Gaza diperkirakan 15-20 jam. Sementara itu, tentara AL Israel dikabarkan telah bersiap menghadang bahkan menembak iringan kapal bantuan ini dan memenjarakan para penumpangnya. Mohon doa dari seluruh  masyarakat Indonesia bagi keselamatan semua peserta pelayaran dan kebebasan bagi Palestina.” (Joserizal Jurnalis)

Pesan singkat ini saya terima pada hari Jum’at tanggal 28 Mei 2010 pukul 09.21 wib. Sebuah isyarat adanya sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi. Sebuah misi kemanusiaan multi negara tentu sangat sulit dipahami oleh negara yang bernama Israel. Benar saja, minggu dini hari, kapal tersebut meskipun masih di perairan internasional, tiba-tiba dibajak oleh tentara Israel. Sebelumnya sudah dikepung, dan kemudian dengan sebuah helicopter pasukan tempur Israel menembaki para relawan sipil tanpa bersenjata. Bisa dipastikan jatuh korban. Sepuluh orang dinyatakan meninggal dunia. Puluhan lainnya luka-luka. Yang tidak terluka kemudian digiring ke pelabuhan, diinterogasi dan dijebloskan ke dalam penjara. Baru hari rabu, sepuluh relawan Indonesia (dari dua belas relawan Indonesia) dideportasi ke Yordania. Satu dibawa ke Turki karena luka tembak di tangannya. Dan satu masih di rawat di rumah sakit di Israel, kemudian di kirim ke Yordania lewat darat.
              Dunia mengutuk keras, atas kejadian tersebut. Apa yang harus dilakukan?
“Kita harus melakukan kampanye di segala lini (TV, dunia maya, koran) dan perlawanan dari yang ringan sampai yang berat.” (Joserizal Jurnalis), layanan pesan singkat dari beliau saya terima hari senin tanggal 31 Mei 2010.
              Apa sebetulnya misi kemanusian para relawan tersebut? Misinya membawa bantuan kemanusian berupa obat-obatan, perlengkapan rumah, pakaian, dan lain sebagainya untuk muslim Gaza. Namun visi dari semua kegiatan kemanusiaan ini adalah upaya menembus blokade Israel di Jalur Gaza oleh masyarakat sipil. Karena upaya diplomatik oleh berbagai negara, selalu kandas. Maka sekarang giliran non government organization (NGO) yang berupaya mendobrak blokade tersebut. Giliran sipil tak bersenjata yang melawan tirani.
              Sebagai sebuah lembaga kemanusiaan MER-C memiliki banyak jaringan pendukung. Baik personal untuk menjadi relawan maupun dana. Dari kalangan  pribadi maupun kelompok. Untuk itu sebagai pertanggungjawaban publik  terkait banyaknya dana yang masuk dari rakyat Indonesia, maka MER-C merencanakan membangun rumah sakit Indonesia di Gaza utara. Mengapa? Karena untuk long term rehabilitation tidak banyak lembaga yang mau melakukan program jangka panjang. Sementara wilayah Gaza mengalami agresi besar-besaran oleh Israel, banyak korban berjatuhan. Di Gaza utara terutama Jabaliya merupakan lapis pertahanan pertama. Sebelum mencapai Gaza City, Israel harus menaklukkan Jabaliya. Di Gaza utara hanya terdapat satu rumah sakit dengan daya tampung 70 tempat tidur. Sementara rumah sakit yang memiliki unit rehabilitasi hanya ada satu di Gaza. Jumlah sumber daya manusia kesehatan sekitar 100 dokter, sebanyak 20% adalah dokter spesialis, dan 80% adalah dokter umum. Atas dasar inilah maka MER-C bermaksud meneruskan upaya pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza dalam tim kemanusiaan lewat laut.
              Gaza, demikian nama yang terngiang di telinga. Samar-samar muncul ingatan masa lampau ketika mendengar kata Gaza. Sebuah cerita novel tulisan Maryam Jamilah yang berjudul Di Tepian Jalur Gaza. Nama sebuah kota dimana kaki saya belum pernah  menjejakkan di tanahnya. Wilayah  yang selalu berkait dengan PLO, Yasser Arafat dengan keffiyehnya yang khas. Cerita yang belum sepenuhnya saya pahami ketika itu.
              Kemudian muncul sebuah komik bertajuk Palestine karya Joe Sacco, yang menggambarkan secara detail dan penuh makna keadaan kota Gaza. Ketika membaca komik itu ada pergulatan batin antara realita dengan harapan-harapan kosong.
              Kesengsaraan mereka yang diusir dari tanah sendiri dan kini tinggal di kamp pengungsi di Gaza, misalnya, telah berlangsung selama tiga generasi. Kabar tentang itu, yang disampaikan ke seluruh muka bumi, datang ke ruang kita hanya selama beberapa detik di televisi, cuma sepanjang beberapa paragraph di koran harian. Lalu, lenyap!
              Lalu? Acapkali sebuah frustasi,”Selama 50 tahun orang menulis tentang kami…,” kata seorang setengah baya dalam reportase Joe Sacco dalam Palestina. “Sejak Intifada, jurnalis seluruh dunia datang….Tetapi, apa manfaatnya bagi Palestina?” sambung rekannya. Dan di tempat lain, seorang perempuan yang dua anaknya tewas ditembak tentara Israel bicara, dengan nada menuntut,”Bagaimana kata-kata bisa mengubah keadaan!”
              Bagaimana kata-kata bisa mengubah keadaan. Sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawab, bahkan sampai hari ini. Sebuah ketidakdilan sejarah sedang dilakukan terhadap rakyat Palestina. Yang kita saksikan di Gaza adalah ketidakadilan sejarah. Perjuangan itu bukan sekedar tampil lurus sebagai pelaksanaan doktrin dan cita-cita luhur, melainkan sebuah proses pergulatan di dunia yang terus menerus menanggungkan yang kacau, bengkok, rumit, dan gelap. Dalam perspektif ini, perjuangan bukanlah hanya niat dan rencana yang optimis, melainkan sebuah kerja membangun harapan di setiap langkah, termasuk ketika salah dan gagal.
              Bersikap objektif adalah mengakui bahwa diri sendiri tidak tegak sebagai otoritas. Di tengah ambivalensi dan bahkan kontradiksi seperti itulah yang juga merundung para pejuang Palestina, sejarah bangsa yang malang dan dianiaya itu sulit dapat dirumuskan dengan satu doktrin. Jalan damai atau bom bunuh diri, diplomasi atau mobilisasi senjata, cara Fatah atau cara Hamas, gerakan sekuler atau gerakan Islam. Siapa yang dengan yakin, yang dengan otoritas penuh menentukan mana yang paling tepat, seakan-akan ia mampu melihat awal dan akhir sejarah rakyat Palestina.
              Ketika perubahan tidak kunjung datang, kezaliman tidak kunjung berakhir, datanglah misi kemanusiaan untuk merehabilitasi yang cacat, mengobati yang sakit, membangun rumah sakit untuk rehabilitasi jangka panjang. Misi kemanusiaan ini ingin membuat yang tuli mendengar dan yang bisu ikut memberikan makna. Seakan-akan ia bekerja buat yang tidak dipedulikan dan tidak memedulikan, sebuah penolakan terhadap kebisuan yang dialami sebagian besar dari kita, yang tidak mampu mempengaruhi perubahan. Namun, misi ini pun juga diganjal oleh Israel. Dihadapi dengan peluru, interogasi, penjara dan deportasi.
Penguasaan Israel atas Palestina hingga kumandang Perang Anti Terorisme, semuanya tidak lebih dari perang ideologi atas dasar berbagai teks “kitab suci”, yang akhirnya mencoba untuk menghancurkan sang musuh utama-Islam dan umatnya. Sesungguhnya proyek perdamaian bukan dipengaruhi oleh kondisi politik internasional, juga bukan karena berakhirnya perang dingin dan harmonisasi hubungan internasional, sebagaimana hal ini diopinikan oleh pers Barat dan diamini oleh pers Arab. Melainkan sebagai indikasi kuat terjadinya perubahan mendasar, yaitu rencana Zionis untuk menguasai dunia secara umum dan wilayah Islam secara khusus.
Bacalah sifat para pemimpin, rakyat biasa, tabiat para rabi, ciri-ciri masyarakat Zionis, moral dan sopan santun terhadap orang lain, atau bahkan sikap terhadap Allah SWT Penciptanya, pada masa dua kerajaan Israel dan Yahudza, masa penawanan Babilon, masa tercerai berai di berbagai belahan dunia, masa negara Israel modern, niscaya anda dapati tidak ada yang berubah. Apa yang terbukti kebenaran pada suatu masa akan tetap benar pada setiap masa.
Membantu meringankan beban kesulitan muslim adalah bagian dari ibadah apapun bentuknya, sekecil apapun sumbangannya. Tidak mengenal kata berhenti meskipun resiko menghadang jalan. Gerbong relawan yang menunggu berangkat sudah antri memanjang. Bantuan sudah menumpuk di bank dan gudang. Jangan takut, Allah bersama kita! (dr. Sunardi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar