Jumat, 01 Juni 2012

ROKOK, PENYAKIT JANTUNG DAN MATI MENDADAK


Sehat Khusus | Edisi 57/viii/mei/2012

 

ROKOK, PENYAKIT JANTUNG
DAN MATI MENDADAK

Bila kita berbicara mengenai masalah rokok maka tidak diragukan lagi akan bahaya maupun akibat yang ditimbulkan oleh rokok ini. Hal ini telah diketahui oleh hampir semua orang baik itu perokok maupun bukan, bahkan pabrik rokokpun telah mencantumkan akan bahaya rokok dalam kemasan sebuah rokok. Akan tetapi fenomena yang terjadi di masyarakat secara umum, seakan peringatan tersebut hanya dianggap sebagai sebuah hiasan atau slogan belaka sehingga para perokok tetap dengan nyaman menghisap batang ‘beracun tersebut’ tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.


Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan bahaya rokok khususnya dikaitkan dengan insiden penyakit jantung maupun mati mendadak. Jenis penyakit jantung yang paling banyak disebabkan oleh merokok adalah penyakit jantung koroner. Penelitian terhadap penyakit epidemik telah membuktikan bahwa merokok dapat meningkatkan bahaya mengidap penyakit infark miokard dan denyut jantung berhenti secara mendadak. Pengguna rokok dan produk tembakau memiliki resiko tinggi terkena penyakit jantung yang disebabkan oleh merokok daripada orang bukan perokok. Perokok yang memiliki serangan jantung lebih mungkin untuk meninggal dalam waktu satu jam karena serangan jantung. Bukankah hal ini mengerikan?

Menghisap rokok dan tembakau atau penggunaan produk-produk tembakau memang sudah tidak terkendali. Sayangnya, hal itu meningkatkan risiko penyakit koroner. Semua produk tembakau mengandung ribuan bahan kimia dan nikotin yang sangat adiktif. Nikotin tidak hanya menyebabkan bau mulut tak sedap dan perubahan warna gigi, tetapi juga meningkatkan risiko kambuhnya penyakit jantung koroner setelah. Merokok meningkatkan tekanan darah, menurunkan daya tahan saat berolahraga, dan meningkatkan kecenderungan pembekuan darah. Ketika bekuan darah terbentuk dan menutup pembuluh darah, maka terjadilah serangan jantung.

Oleh karena itu, sudah ada bukti yang cukup bahwa penyakit jantung yang disebabkan oleh merokok adalah penyakit jantung koroner. Rokok yang dibakar akan menghasilkan ribuan zat yang berbahaya, namun dalam hal ini kita bahas saja gas CO dan nikotin.
 
Gas CO
 
Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3 - 6%, gas ini dapat di hisap oleh siapa saja. Oleh orang yang merokok atau orang yang terdekat dengan si perokok, atau orang yang berada dalam satu ruangan. Seorang yang merokok hanya akan menghisap 1/3 bagian saja, yaitu arus yang tengah atau mid-stream, sedangkan arus pinggir (side - stream) akan tetap berada diluar. Sesudah itu perokok tidak akan menelan semua asap tetapi ia semburkan lagi keluar. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) lebih kuat dibanding oksigen, sehingga setiap ada asap rokok disamping kadar oksigen udara yang sudah berkurang, ditambah lagi sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen, oleh karena yang diangkut adalah CO dan bukan O2 (oksigen). Sel tubuh yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut atau spasme. Bila proses spasme berlangsung lama dan terus menerus maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses aterosklerosis (penyempitan). Penyempitan pembuluh darah akan terjadi dimana-mana. Di otak, di jantung, di paru, di ginjal, di kaki, di saluran peranakan, di ari-ari pada wanita hamil. 

Dapat dipahami penyempitan itu dapat berakibat sumbatan di otak, penyempitan pembuluh darah jantung, penyakit paru menahun, betis kaki menjadi sakit malahan sampai pembusukan kering (gangrene), kemandulan, keguguran atau kematian bayi di dalam kandungan, atau bayi lahir prematur atau cacat. Pokoknya setiap organ yang ada pembuluh darahnya akan diserang.

Nikotin

Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok antara 0.5 - 3 ng, dan semuanya diserap, sehingga di dalam cairan darah atau plasma antara 40 - 50 ng/ml. Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormon kathekolamin (adrenalin) yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. Jantung tidak diberikan kesempatan istirahat dan tekanan darah akan semakin meninggi, berakibat timbulnya hipertensi. Efek lain merangsang berkelompoknya trombosit (sel pembekuan darah), trombosit akan menggumpal dan akhirnya akan menyumbat pembuluh darah yang sudah sempit akibat asap yang mengandung CO yang berasal dari rokok.

Dari gambaran diatas baik CO maupun nikotin berpacu menyempitkan pembuluh darah dan menyumbatnya sekaligus. Untuk itu tidak ada kata lain untuk kita kecuali "Stop Merokok".
Pada seorang yang merokok, asap rokok akan merusak dinding pembuluh darah. Kemudian nikotin yang terkandung dalam asap rokok akan merangsang hormon adrenalin yang akibatnya akan mengubah metabolisme lemak dimana kadar HDL (lemak baik) akan menurun. Adrenalin juga akan menyebabkan perangsangan kerja jantung dan menyempitkan pembuluh darah (spasme). Disamping itu adrenalin akan menyebabkan terjadinya pengelompokan trombosit. Sehingga semua proses penyempitan akan terjadi. Jadi asap rokok yang tampaknya sederhana itu dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner.
Merokok juga dapat menyebabkan terjadinya disfungsi endotel, penumpukan radikal bebas, meningkatkan stres oksidatif, meningkatkan kadar LDL (lemah jahat), meningkatkan molekul adhesi dan leukosit, menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi otot polos dalam pembuluh koroner, mempercepat proses atherosklerosis (penyumbatan pembuluh darah). Semua hal tersebut dapat memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

Demikian pula faktor stres yang akhirnya melalui jalur hormon adrenalin, menyebabkan proses penyakit jantung koroner terjadi sebagaimana asap rokok tadi. Seseorang yang stres kemudian mengambil pelarian dengan jalan merokok sebenarnya sama saja dengan melipat gandakan proses penyakit jantung koroner pada dirinya.

Sekitar 90% penderita arteritis obliteran pada tingkat III dan IV umumnya akan menderita pula penyakit jantung. Oleh karena proses penyempitan arteri koroner yang mendarahi otot jantung, maka ketidak cukupan antara kebutuhan dengan suplai timbul kekurangan darah (iskemia). Bila melakukan aktifitas fisik atau stres kekurangan aliran meningkat sehingga menimbulkan sakit dada (angina pektoris). Penyempitan yang berat atau penyumbatan dari satu atau lebih arteri koroner berakhir dengan kematian jaringan (infark miokard, serangan jantung). Komplikasi dari infark miokard termasuk aritmia jantung (irama jantung tidak teratur) dan atau jantung berhenti mendadak yang dapat menyebabkan kematin. Iskemia yang berat dapat menyebabkan otot jantung kehilangan kemampuannya untuk memompa (gagal jantung) sehingga terjadi pengumpulan cairan di jaringan tepi (bengkak/edema kaki) maupun penimbunan cairan di paru (edema paru).

Orang yang merokok lebih dari 20 batang rokok perhari memiliki risiko 6 kali lipat terkena infark miokard dibandingkan dengan bukan perokok. Penyakit Kardiovaskuler merupakan penyebab terdepan dari kematian di negara-negara industri, yaitu sekitar 30% dari semua kematian karena penyakit jantung berkaiatan dengan akibat merokok. WHO melaporkan dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, lebih dari setengahnay (6 juta) disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah dimana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke. Berdasarkan survey Depkes RI terdapat peningkatan prosentase kematian akibat penyakit jantung dari 9,7% (peringkat 3) menjadi 16 % (peringkat 1).
Merokok juga terbukti merupakan faktor resiko terbesar untuk kejadian mati mendadak. Resiko ini meningkat 2-4 kali pada perokok dibanding non perokok. Resiko ini semakin meningkat dengan bertambahnya usia dan jumlah rokok yang dihisap per hari.
 
Tingkat Harapan Hidup Perokok berkurang sesuai dengan:
  • Jumlah tahun merokok
  • Jumlah rokok perhari yang dikonsumsi
  • Tingkat kadar tar dan nikotin
  • Semakin dalam diisap
  • Semakin dekat dengan filter yang digunakan
  • Merokok 1 - 2 bungkus perhari selama 25 tahun mengurangi umur 8.3 tahun dibandingkan dengan yang tidak merokok.
  • Setelah 10 - 13 tahun berhenti merokok kemungkinan terkena kanker paru berkurang dan sama dengan yang tidak merokok.

Bahaya perokok pasif

Perokok pasif yaitu orang yang berada disekitar orang yang merokok ikut mendapatkan dampak buruk dari asap rokok. Perokok pasif menghisap asap rokok yang keluar dari ujung rokok maupun asap yang keluar dari mulut perokok. Resiko yang ditimbulkan tidak kalah besar dari seseorang yang merokok, bahkan bahayanya bisa lebih besar. Untuk orang yang tidak biasa merokok tetapi berada dalam sebuah ruangan yang penuh dengan asap rokok, akan menghirup CO (Karbon Monoksida) dan nikotin yang bercampur di dalam darahnya akan meningkat. Oleh karena itu adalah wajar jika ada orang yang terganggu dan melarang orang lain yang merokok disebelahnya karena orang tersebut mempunyai hak penuh untuk hidup sehat.

 Kabar gembira bagi para perokok

Walaupun telah kita ketahui dampak mengerikan yang ditimbulkan oleh rokok,akan tetapi ada angin segar yang akan mengurangi kekhawatiran bagi orang yang telah berkomitmen untuk berhenti dan meninggalkan rokok. Setelah berhenti merokok dalam waktu setahun, penyakit jantung koroner berkurang sebanyak 50%. Dalam waktu 5 sampai 10 tahun, kandungannya mungkin akan mencapai tingkat yang sama dengan orang yang masih merokok. Studi yang lain juga menunjukkan bahwa risiko berkembangnya penyakit jantung yang disebabkan oleh merokok pada orang yang telah tiga sampai lima tahun berhenti dari kebiasaan buruk ini, adalah sama seperti orang yang tidak pernah merokok! Ini adalah kabar baik untuk para perokok yang berjuang untuk berhenti dan untuk mereka yang berpikir untuk berhenti merokok. Anda memiliki alasan yang tepat untuk berhenti. Tidak pernah ada kata terlambat! Praktekkan gaya hidup sehat dan berhentilah merokok agar Anda dapat hidup lebih lama dan terlepas dari penyakit jantung. (dr. Safir)

Sumber :
Ambrose, Jhon. The pathophysiology of cigarette smoking and cardiovascular disease. J. Am. Coll. Cardiol.
Lilly, Leonard. Atherosclerosis : Pathophysiology of Heart Disease.
Kusuma, Dede. Rokok & Kesehatan Jantung. Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar