Jumat, 04 Juni 2010

FIXED DRUG ERUPTION

Majalah Hilal Ahmar EDISI 35/VI/ MEI 2010
FIXED DRUG ERUPTION


TUBUH KITA

FIXED DRUG ERUPTION


Fixed drug eruption adalah suatu reaksi pada kulit yang memiliki karakteristik adanya keterlibatan lokasi kulit yang sama pada pengulangan penggunaan obat-obatan yang sama. Daerah kulit yang mengalami kelainan dapat meluas. Fixed drug eruption merupakan suatu reaksi alergi di dalam tubuh, dan biasanya hanya satu macam obat yang menjadi penyebab, namun dapat juga oleh beberapa obat. Ada beberapa variasi FDE yang diklasifikasikan berdasar bentuk klinis dan penyebaran lesi, diantaranya: pigmenting FDE, generalized FDE, linear FDE, wandering FDE, non-pigmenting FDE, bullous FDE, eczematous FDE, dan urticarial FDE.
Fixed drug eruption dapat terjadi pada segala usia, mulai dari usia 1,5 tahun hingga 87 tahun. Insidensi pada wanita sebanding dengan pria. Penyakit ini tidak memiliki predileksi ras manapun. Frekuensi fixed drug eruption sekitar 16-21% dari semua penyakit kulit yang disebabkan oleh erupsi obat. Adapula penelitian yang menyebutkan bahwa dari 200 pasien dengan erupsi obat, didapatkan 61 pasien (30%) mengalami fixed drug eruption, dengan cotrimoxazol menjadi penyebab terseringnya. Hingga saat ini belum pernah ada kematian yang disebabkan oleh fixed drug eruption.
Mekanisme patofisiologi fixed drug eruption belum diketahui secara pasti. Namun penelitian terakhir menyebutkan adanya peran sel mediator yang mengawali munculnya lesi yang aktif. Proses ini meliputi suatu antibodi-dependent dan reaksi sel mediator sitotoksik. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, defisiensi enzim, dan hipersensitivitas terhadap zat, dapat menjadi bagian dari proses patofisiologi fixed drug eruption.
Obat-obat yang masuk dianggap sebagai hapten yang berikatan dengan sel basal keratinosit atau dengan melanosit pada lapisan basal epidermis, yang menyebabkan terjadinya reaksi inflamasi. Melalui pelepasan sitokin, seperti tumor necrosis factor-alpha, keratinosit mengekspresikan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1). Pengaturan ICAM-1 akan mendorong sel T (CD4 dan CD8) berpindah ke lokasi lesi. Datangnya sel CD8 dan bertahan di lokasi lesi akan menyebabkan kerusakan jaringan yang terus-menerus akibat produk inflamasi, seperti sitokin interferon gamma dan TNF-α. Sel yang diisolasi pada lesi aktif juga mengekspresikan alpha E beta 7, suatu molekul permukaan, seperti CLA/alpha 4 beta 1/CD4a, yang mengikat ICAM-1, yang membantu menarik sel CD8 ke lokasi lesi.
Sel CD4 memproduksi IL-10, yang menekan sistem imun, yang menyebabkan lesi yang terus aktif.  Jika respon inflamasinya sudah hilang, IL-15 yang diekspresikan keratinosit akan membantu mempertahankan sel CD8, yang akan memberikan memori fenotipe. Sehingga ketika paparan obat berulang, respon akan berkembang lebih cepat pada lokasi yang sama.
Penyebab terjadinya fixed drug eruption meliputi antibiotik, antiepileptik, AINS, dan fenotiazin, meskipun zat lain dan makanan tertentu juga dapat menjadi penyebab. Obat-obat AINS, seperti paracetamol, asam mefenamat, naproxen, oxicam, dan derivat pirazolon memiliki predileksi di bibir. Sedangkan sulfonamide dan trimethoprim (cotrimoxazole), penyebab tersering munculnya fixed drug eruption. Masuknya zat ke dalam tubuh dapat melalui berbagai cara, diantaranya melalui oral, rectal, atau intravena.
Keluhan disekitar lesi yang disertai rasa terbakar, demam, malaise, dan gejala abdomen. Adapula gejala lainnya yaitu nyeri, rasa tidak nyaman, dan kadang gatal. Gejala sistemik dapat berupa demam, malaise, mual, diare, anorexia, dan disuria. Lesi paling sering ditemukan di ekstremitas atas, ekstremitas bawah, genital, serta perianal. Namun dapat juga ditemukan pada daerah peroral dan periorbita.
Lesi soliter, makula eritema, plak yang disertai edema, dan bula yang kadang dapat ditemui. Pada awalnya berupa lesi soliter, namun dengan paparan obat yang berulang memunculkan lesi pada lokasi yang sama, dan dapat pula pada lokasi lainnya, dengan ukuran lebih besar atau sama. Lesi bulat/oval, diameter 1cm atau lebih, plakat eritema, hiperpigmentasi, dan dapat disertai edema. Lesi muncul dalam waktu 30 menit sampai 8 jam setelah penggunaan obat, dan mulai memudar dalam 1-2 minggu, namun meninggalkan bekas berwarna coklat, biru tua, atau hitam.
Pemeriksaan histologi pada lesi inflamasi akut menunjukkan terjadinya dermatitis yang berhubungan dengan perubahan vakuola. Pola keseluruhan mirip dengan eritema multiforme. Dyskeratosis dan nekrosis keratinosit pada lapisan epidermis merupakan karakteristik yang khas. Infiltrasi limfosit cukup banyak terdapat pada dermoepidermal junction. Spongiosis, edema dermis, eosinofil, dan netrofil mungkin dapat tampak. Inkontinensia pigmen pada papilla dermis merupakan pola yang khas dan hanya ditemukan pada bentuk lesi non inflamasi pada pasien dewasa. Lesi kronik atau tidak aktif dapat menunjukkan akanthosis mild, dan beberapa sel inflamasi.(Ami Misbah)
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar